[ID] - The Wonder of Bold Exploration

Jangan biarkan seorang pun menganggap remeh engkau karena engkau muda. Frase ini betul-betul terejawantahkan ketika kita melihat pencapaian seorang Arielle Chenara. Di usia yang baru menginjak 16 tahun, ia telah mentahbiskan diri sebagai salah satu pembuat wedding cake terbaik di Pulau Dewata lewat brandnya sendiri, Thyme and Caramel. PASSION mendapat kesempatan untuk berbincang dengan pemudi inspiratif ini dan menyelami pemikiran briliannya serta kecenderungannya untuk mengeksplorasi kemungkinan.


Wow! Kamu sangat muda dan berbakat! Bisakah kamu ceritakan siapa yang menginspirasi kamu untuk memasuki skena bisnis ini secara khusus?

Inspirasi terbesarku adalah kedua orang tuaku, apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka mengajari saya sejak kecil untuk benar-benar mengikuti kata hati serta passionku. Aku pikir jika kita mengikuti kedua hal itu, semuanya akan berjalan lancar pada waktunya.


Bagaimana semua ini bermula?

Perjalananku dimulai ketika aku berusia 5 tahun. Saat itu adalah liburan musim panas biasa dan anak-anak memiliki waktu ekstra. Orang tuaku ingin agar aku menggunakan waktu tersebut sebaik mungkin, dan melihat minatku pada kerajinan tangan (craft), mama mengikutsertakan saya di kelas pecetakan tanah liat (clay molding), dan disanalah aku membuat bakery pertamaku, dari tanah liat, yang masih dipajang di toko kami (Kinoa Clean-Eating Concept) saat ini.


Kamu memilih untuk menggunakan buttercream secara spesifik dalam kreasimu. Ada alasan tertentu?

Sebenarnya banyak sekali orang yang bertanya padaku kenapa aku tidak memakai fondant. Mereka yang seperti : ‘buttercream itu ketinggalan jaman, kenapa masih kamu pakai?’ Tapi untuk aku,
yang terpenting adalah cara menggunakan buttercream untuk membuat beragam jenis seni (kue). Anda bisa benar-benar menggunakan buttercream untuk membuat banyak
macam kue, dan saya masih mengeksplorasi kemungkinannya hingga saat ini. Buttercream kami vegan dan dibuat dengan bahan-bahan sehat jadi anda bisa menikmatinya tanpa memikirkan hal negative (tertawa)


Jelaskan sedikit kepada kami tentang keputusan kamu untuk menjual ‘kue vegan’ dan apa yang membedakan kuemu dengan produk serupa lainnya?

Pertama, kami memutuskan untuk membuat kue gluten-free dan vegan karena permintaan. Ada banyak sekali permintaan untuk menu diet khusus di Bali, dan aku pikir sangat bagus jika kami bisa menyuplai mereka dengan produk yang bagus. Aku ingin membuat sesuatu yang betul-betul bisa dinikmati oleh khayalak walaupun dengan embel-embel ‘gluten-free’ atau ‘vegan’. Aku harap bisa mengubah mindset orang-orang dan semoga kue buatankubisa terasa sama indahnya dengan tampilannya.

Jadi bahan apa yang kamu pakai sebagai penganti untuk membuat kue buttercream vegan?

Utamanya, aku menggunakan produk berbahan dasar kelapa karena aku ingin menggunakan sesuatu bahan baku lokal yang banyak tumbuh di Indonesia, khususnya Bali. Untuk buttercream, itu terdiri dari minyak kelapa, susu kelapa, krim kelapa dan tebu.


Menjalankan bisnis secara penuh bukanlah hal yang mudah. Apakah ada yang membantu kamu di area ini? Apa tantangan terbesar bagi kamu?

Ibuku adalah manajer dan role model yang hebat. Dia suka ‘mendorong aku dari tebing’, membiarkan aku terbang dan menjelajahi sekitar sendiri. Dia sangat membiarkan aku melakukan kesalahan. Saat aku membuat kesalahan, dia tidak akan membantu secara langsung, namun menyemangati agar aku memecahkan masalah itu sendiri. Sehari-harinya, aku jugadibantu seorang staf yang mengerjakan detil-detil kecil.

Jujur, aku tidak melihat apapun sebagai ‘tantangan besar’ atau bahkan tantangan itu sendiri. Dalam bekerja sehari-hari, akan ada banyak sekali tantangan, tapi sangat sulit untuk menemukan satu yang
cukup besar (untuk mengehntikan aku).  Jika anda benar-benar memiliki passion, sangat mudah untuk melompati setiap masalah yang merintangi jalanmu. Tapi jika harus memilih, aku pikir tantangan terbesar adalah pada proses pengiriman. Hal ini bisa membuat stress terutama dalam pengiriman kue berukuran besar; anda harus memikirkan setiap aspek agar kue itu bisa tiba di tempat klien dengan selamat.


Berapa lama kamu telah menjalankan Thyme and Caramel Bali? Apa arti di balik nama itu?

Pertanyaan yang bagus! Aku sudah menjalani brand ini selama dua tahun sekarang, dan ketika mencari nama untuknya, aku ingin sesuatu yang mewakili keseimbangan, jadi tercetuslah ‘Thyme and Caramel’. Thyme adalah rempah yang biasanya digunakan dalam hidangan gurih, seperti  daging dan aku suka rasanya yang merupakan perpaduan sedikit pedas dan pahit. Lalu Caramel, seperti yang kita tahu, sangat manis, jadi menggabungkan mereka berdua seperti mewakili hidup atau keseimbangan bagiku, itulah kenapa aku pilih  dua nama tersebut.


Kalau kamu bisa berjumpa dengan satu figure chef saat ini, siapakah orangnya, dan kenapa?

Aku mau pilih dua! Aku sangat ingin bertemu dengan Christina Tosi sebagai pilihan pertama, dan kedua, tentunya chef paling ternama dunia, Gordon Ramsay.

Christina Tosi itu luar biasa, aku menonton serial Chef Table nya di Netflix yang sedikit banyak mengungkap tentang latar belakang kehidupannya dan aku sangat terinspirasi dengan hal itu. Seperti banyak cerita orang-orang tenar, kita memulai sebagai bukan siapa-siapa secara harafiah, hanya karena passion kita. Aku percaya bahwa anda bisa sukses suatu hari kelak jika anda benar-benar memulai dengan hati, dan itulah hal yang ia lakukan.

Untuk Gordon, aku ingin ia mencicipi kreasiku. Aku pikir ia bukan tipe orang vegetarian, tapi kuharap dia bisa mengambil sesuatu yang berbeda dari kue ciptaanku dan aku akan senang mendengar saran darinya.


Dimana kamu mau melihat diri kamu lima tahun dari sekarang?

Ada sesuatu yang magis dari berbagi, dan passion lainku adalah untuk menguatkan kaum muda, terutama generasi anak-anak masa kini, dan melihat mereka bisa menciptakan sesuatu yang unik dan datang
dari hati serta passion mereka. Jadi dalam waktu lima tahun ke depan, aku tentunya ingin melihat bisnisku berkembang, tapi lebih dari itu, secara pribadi aku ingin berbagi kepada kaum muda secara luas, berharap bisa menginspirasi mereka untuk melakukan sesuatu yang serupa, apapun yang hati mereka katakan. Tunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki kekuatan!


Seperti lewat workshop?

Ya! Saat ini aku sudah memimpin workshop pembuatan kue untuk anak kecil. Aku melakukannya sekitar sebulan sekali untuk anak umur enam hingga lima belas tahun. Aku memberi mereka kesempatan
menggunakan peralatanku untuk menciptakan cupcake mereka sendiri dan mengekspresikan kreativitas mereka.


Thyme and Caramel Bali

Pererenan, Mengwi, Badung Regency, Bali
Phone: +62813 3892 7578
www.thymeandcaramel.com

0 0
Feed