Home of Pastry Geeks

Malaysia shook the world when they won 2019’s World Pastry Cup in Lyon, France. In the best pastry competition in the world, Malaysia is able to defeat other favorite countries such as France, Spain, Italy, Japan. Behind Malaysia’s gold, we have Niklesh Sharma the founder of Academy of Pastry Arts (APCA) Malaysia, where the members of the Malaysia team works and learn from. Here’s a story about a man with a great vision: to spread the culture and passion of pastry throughout Asia.

I heard from Jean Francois Arnaud (JFA) that you share the same vision, what’s your vision?

Chef Arnaud is the finest Pastry Chef in the world. All other Pastry Chefs that come to my school always said, JFA is different. The way he thinks about pastry, he doesn’t think like a businessman, he thinks like a pastry chef, how to grow the pastry chefs, he’s all about teaching.

We both have a vision that Asia’s (pastry industry) level should grow. And it can only grows when we have people who are much better than us, they come to us, we learn form them, practice the skill and then we give the knowledge to students. It’s a cycle that doesn’t stop.

Our vision is very clear, to spread the culture of pastry, to as many Pastry Chefs in as many countries as you can, and to motivate the younger generations who want to became pastry chefs, work in the industry, or pastry entrepreneurs.

I assume this is some sort of idealist project.

Yes, because we’re all pastry chefs, we’re not businessmen.

Does it contradict the business aspect of the school?

Yeah, lot of times. If I operate the school like a businessman, then I try to cut cost in many place, but we don’t do that.

For a competition people will see the chocolate and sugar display, right? But they don’t understand how much time the chefs have been practicing, how much time it needed for Chefs from Malaysia or anybody else to come to Indonesia to train them. It’s money, it’s cost, you don’t have to do that, but we know that we should, it’s the only way to grow up.

We give some students one month free training in our headquarter in Malaysia, of course they have to pay for their own accommodation but the training is free. APCA Malaysia is the best pastry school, I’d say in Asia, and one of the top 5 pastry schools in the world. We want students to learn from the best pastry champions from the World Pastry Cup, these are costly things. Competition looks like easy, until you know how much money we have to fund them.

Malaysia won the 2019’s World Pastry Cup, and the competitors are APCA’s instructors.

The 3 chefs who were part of the team (Tan Wei Loon, Otto Tay, and Loi Ming Ai) are part of the academy, they’re my family. I know Tan very well, he’s the first Pastry Chef who work in APCA Malaysia from day one. And then Ming Ai, he’s my student, he graduated from APCA and work in China, came back and join the academy as Assistant Pastry Chef.

APCA is not a 9 to 5 school. We open from 8 o’clock in the morning to 5,30,and after 6 o’clock, everybody practices until 9-11, because they all want to grow up. The place is pretty much open for anybody in the school to practice, in fact, we encourage them to practice. That’s the kind of culture we develop. It started in Malaysia, spread out to India, Philippines, and Indonesia. It’s kind of funny to see that we have people from our school represent each of their own country (for international competitions), but actually it’s a healthy, good thing, it means that we’re doing something correct, to be able to be the best in each of country.

What makes APCA different to any other pastry schools?

As I’ve said before, we’re not a 9 to 5 school, we have a strong, healthy learning culture that motivates each other. We’re also the only pastry school with the highest number of Master Chefs, be it chocolatiers, bakers, pastry chefs, sugar guys from all around the world. There’s no other schools in the world which invite so many chefs to teach. We conduct approximately 40 Master Classes per year, 25 of them are held in Malaysia, and the rest are in other countries.

How do you get to know these guys and invite them to teach in your schools?

Oh, they’re friends. They’re like family, you just have to call them. In fact, if we don’t call them, they’ll ask, ”why I’m not coming to Asia Pastry Forum?” or “how come you don’t invite me this time?” They help us to grow.

You just opened APCA in Indonesia in January 2019. How is it so far?

It will be fantastic school for Indonesia, I don’t think there will be any other pastry schools that will be able to touch it, as far as teaching standard and exposure is concerned. It will exactly follow Malaysia standard, it’s a same passion, vision, structure, motivation, everything’s the same, only the country is changing. It’s a beautiful stuff, it’s something you start in Malaysia and then people wondered, “how come the same culture can be spread to India, Phillipines, Indonesia?”

How do you standardize it?

We don’t, we just try to talk to each other. Every chef who joins here has to at least spend at least 1-2 months in Malaysia where they’re able to see the culture, behavior, and how the school operate. Although we have some schools, we are literally one, we’re interconnecting kind of thing.

What’s your ultimate goal for APCA?

There’s no ultimate goal, I’m just enjoying it as it is. I’m just happy to know something which I started 9 years ago, is able to win the heart of chefs like JFA and many other. The passion we share, our principles are able to replicate it into different countries. I guess, that’s the ultimate goal. We don’t need to have, let say, 50 schools in Asia.Trust me, this is the way it works. It’s not about how many schools you have. I always look at one school as one country, APCA Indonesia means development of Pastry Chefs in Indonesia.

However, APCA Indonesia’s is not complete without the support of Mr. William Chuang (owner of PT. Freyabadi Indotama) and Louis Tanuhadi (APCA Indonesia’s Director), because I can’t open the school from Malaysia, someone has to be here. Just look at Louis, he might be 50 something years old, but the passion he has is similar to a kid, we need that kind of motivation.


Malaysia menggemparkan dunia ketika mereka berhasil memenangkan World Pastry Cup di Lyon, Prancis pada 2019. Di kompetisi pastry terbaik dunia ini, Malaysia dapat mengalahkan beberapa negara favorit seperti Prancis, Spanyol, Italia, Jepang. Dibelakang medali emas Malaysia, ada sosok Niklesh Sharma, founder Academy of Pastry Arts (APCA) Malaysia, dimana semua anggota tim Malaysia bekerja dan belajar. Ini adalah cerita tentang seseorang dengan visi besar: menyebarkan budaya dan passion di bidang pastry ke seluruh Asia.

Saya dengar dari Jean Francois Arnaud (JFA) kalian memiliki visi yang sama, apakah visi tersebut?

Chef Arnaud adalah Pastry Chef terbaik di dunia. Semua Pastry Chef yang pernah datang ke sekolah saya selalu bilang JFA berbeda. Mulai dari cara ia memandang pastry, ia tidak berpikir seperti pemilik bisnis, ia berpikir seperti seorang Pastry Chef, bagaimana cara mengembangkan Pastry Chef lain, ia sangat fokus pada pendidikan.

Kami berdua mempunyai visi bahwa industri pastry di Asia harus tumbuh. Dan satu-satunya cara untuk tumbuh adalah dengan mengundang orang-orang yang jauh lebih ahli dari kami untuk datang, kami belajar dari mereka, mempraktekkan skill, dan membagikan pengetahuan tersebut kepada para murid. Ini adalah siklus yang tidak pernah berhenti.

Visi kami cukup jelas, untuk menyebarkan budaya pastry ke sebanyak mungkin Pastry Chef di sebanyak mungkin negara, dan untuk memotivasi generasi muda yang ingin menjadi Pastry Chef, bekerja di industri pastry, atau menjadi pengusaha.

Saya asumsikan ini adalah proyek idealis.

Ya, karena kami semua adalah Pastry Chef, kami bukan businessman.

Apakah pendekatan ini sering bertentangan dengan aspek bisnis sekolah?

Tentu, sering sekali. Jika saya mengelola sekolah ini seperti businessman, maka saya akan berusaha menekan cost di banyak aspek, namun kami tidak melakukannya.

Untuk sebuah kompetisi, orang hanya melihat display cokelat dan sugar kan? Namun banyak yang tidak memahami berapal lama waktu yang dihabiskan para chef untuk berlatih, waktu yang dibutuhkan bagi Chef dari Malaysia atau negara lain untuk datang ke Indonesia dan melatih para kompetitor. Ini semua menghabiskan uang, ini biaya, kami tidak harus melakukannya, namun kami tahu kami harus, inilah satu-satunya cara untuk berkembang.

Kami bahkan memberikan beberapa pelajar training gratis selama 1 bulan di markas kami di Malaysia, tentu saja mereka harus membayar akomodasi sendiri, namun trainingnya gratis. APCA Malaysia adalah sekolah pastry terbaik di Asia, and salah satu dari top 5 sekolah pastry dunia. Kami ingin murid kami untuk belajar dari para pemenang lomba dari World Pastry Cup, tentu ini menghabiskan banyak biaya. Kompetisi selalu terlihat mudah, hingga Anda mengetahui berapa banyak yang dibutuhkan untuk mendanainya.

Malaysia memenangkan World Pastry Cup 2019, dan kompetitornya adalah instruktur APCA.

Ketiga chef yang merupakan anggota tim (Tan Wei Loon, Otto Tay, dan Loi Ming Ai) merupakan bagian dari akademi, mereka adalah keluarga saya. Saya kenal Tan dengan baik, ia adalah Pastry Chef yang mengajar di APCA Malaysia sejak hari pertama. Lalu ada Ming Ai, ia adalah mantan murid kami, setelah lulus dari APCA ia bekerja di China, kembali dan bergabung dengan kami sebagai Assistant Pastry Chef.

APCA bukanlah sekolah 9 to 5. Kami buka pada jam 8 pagi hingga 5.30, lalu di atas jam 6, semuanya berlatih hingga jam 9-11 malam, karena semuanya ingin berkembang. Tempat kami sangat terbuka bagi semua murid untuk latihan, bahkan, kami menyarankan mereka untuk berlatih. Itulah budaya yang kami ciptakan. Ini bermula di Malaysia, menyebar ke India, Filipina dan Indonesia. Agak lucu ketika kami melihat instruktur kami mewakili negara masing-masing (di kompetisi internasional), namun sesungguhnya ini adalah hal baik dan sehat, artinya kami melakukan sesuatu dengan benar, sehingga mereka dapat menjadi yang terbaik di negara masing-masing.

Apa yang membedakan APCA dengan sekolah pastry lain?

Seperti yang tadi saya sebuthkan, kami bukan sekolah 9 to 5, kami memiliki budaya belajar yang kuat dan sehat, yang saling memotivasi satu sama lain. Kami juga adalah satu-satunya sekolah pastry yang memiliki jumlah Master Chef tertinggi, mulai dari chocolatier, baker, pastry chef, ahli sugar, dari seluruh dunia. Tidak ada sekolah lain di dunia yang bisa mengundang begitu banyak chef untuk mengajar. Kami mengadakan sekitar 40 Master Class dalam setahun, 25 diadakan di Malaysia dan sisanya diadakan di negara lain.

Bagaimana Anda bisa mengenal orang-orang ini dan mengundang mereka untuk mengajar di sekolah Anda?

Oh, mereka semua teman saya. Mereka sudah seperti keluarga, Anda hanya tinggal memanggil mereka. Bahkan, jika kami tidak mengundang, mereka malah akan balik bertanya, “kenapa saya tidak datang ke Asia Pastry Forum?” atau “mengapa Anda tidak mengundang saya kali ini?” Merekalah yang membantu kami untuk tumbuh.

Anda baru saja membuka APCA Indonesia pada Januari 2019, bagaimana Anda melihat perkembangannya?

Ini akan menjadi sekolah fantastis di Indonesia, saya rasa tidak ada sekolah pastry lain di Indonesia yang bisa menyentuhnya, terutama jika kita bicara standar pengajaran dan eksposure. APCA Indonesia akan mengikuti standar Malaysia, dengan passion, visi, struktur, motivasi yang semuanya sama, hanya berbeda negara saja. Ini merupakan suatu hal indah, kami memulainya di Malaysia lalu orang bertanya-tanya, “bagaimana mungkin budaya yang sama bisa disebarkan di India, Filipina dan Indonesia?”

Bagaimana Anda melakukan standarisasi semacam itu?

Kami tidak menstandarisasi, kami hanya bicara satu sama lain. Setiap chef yang begabung di APCA harus menghabiskan waktu di APCA Malaysia selama 1-2 bulan dimana mereka dapat menyaksikan budaya perilaku, cara kami beroperasi. Meski kami memiliki banyak cabang, namun sebetulnya kami adalah satu, kami saling terhubung satu sama lain.

Apa tujuan besar Anda bersama APCA?

Tidak ada tujuan besar khusus, saya menikmatinya begitu saja. Saya cukup senang ketika tahu bahwa sesuatu yang saya mulai 9 tahun lalu dapat memenangkan hati chef-chef sekelas JFA, dan masih banyak lagi. Passion yang kami sebarkan, bisa ditiru oleh para principal kami di berbagai negara. Mungkin itu tujuan utama kami. Kami tidak menargetkan, katakanlah, membuka 50 sekolah di Asia.

Percayalah, ini cara sekolah kami bekerja. Ini bukan soal berapa banyak sekolah yang Anda miliki. Saya selalu melihat satu sekolah sebagai perwakilan dari satu negara, APCA Indonesia bagi saya adalah perkembangan Pastry Chef di Indonesia.

Namun, tentu saja APCA Indonesia tidak bisa berjalan tanpa dukungan William Chuang (pemiliki PT. Freyabadi Indotama) dan Louis Tanuhadi (Direktur APCA Indonesia), karena tidak mungkin saya membuka sekolah dari Malaysia, harus ada yang di sini. Lihat saja Louis, usianya 50an, namun passion yang ia miliki mirip dengan seorang anak kecil, kami butuh motivasi semacam itu.


No. 16, Jalan 51A/223, 46100, Petaling Jaya, Malaysia

Phone: +60 37 960 3846, apcamalaysia.com