French Style Pastry in Bandung

“Who makes a trend?” that’s question of all the industry’s players. Big companies is probably an answer that makes most sense, but in local pastry scene, one of the most influential ones are the graduates from abroad pastry schools who returned to Indonesia to build their own business. Jakarta has Social House, La Maison, and in this issue, Charins, are few of the good examples that succeed in introducing the French style pastry. Meanwhile, Bandung has Ambrogio and Sucre Patissier.

Sucre (French word for sugar) is a pastry shop built by Gitta Angelina, a Le Cordon Bleu, Sidney graduate with French style pastry concept. Gitta came from a family (mother and grandmother) who loves to make cakes, they don’t hesitate to give full support for Gitta to start her own pastry business.

Sucre Patissier offers various French pastries such as gateaux, croissant, macaron, brownies, cookies and custom cakes (individual and wedding), however chiffon is Sucre’s signature product. Of course, you need to do some recipe modifications to suit the French pastry to local taste.

Sucre Patisser’s products has their own target market. “For chiffons and old school sponge cakes, we aim for customers from 30-50 with less sweet and familiar taste for their palate, thus, they buy them for daily consumption or as gifts as they’re so affordable. Meanwhile, gateaux and croissants are designed for younger audience who appreciate unique, updated taste. So we can tell that we have different market segments,” explained Gitta.

The growth of coffee shop scene also helps Sucre Patissier’s business. As we all know, the hangout lifestyle is already part of nowadays life. And when you hangout, croissant and cake are coffee’s best friends. “We realize the need, so we expand our business by working together with some leading coffee shops in Bandung. If you visit any Bandung coffee shops, there’s a good chance that you’ll find our products there,” said Gitta.

With its strong French root, Sucre Patissier doesn’t ignore the current trend. “For example, Indomie was very viral and trending, so we created Indomie croissant that was happening, it’s very significant for us. However, we will never level down our quality just to get very cheap selling price. No worry, our price is very affordable if you compare it to competitors’ cake shops. So, why not buy the best tasting, affordable cake?” said Gitta.

The  presence of new pastry shop like Sucre Patissier affects Bandung’s pastry scene significantly as previously it was dominated by gift shops. With Sucre’s success in Bandung, Gitta is planning to open a new outlet in Jakarta within 2 years with proper preparations and target market that’ss hungry for new changes.

===================================================================================================================================================================================


“Siapayang membuat trend?” tentunya itu pertanyaan semua pelaku industri. Perusahaan-perusahaan modal besar mungkin adalah jawaban paling masuk akal, namun khusus di skena pastry lokal, salah satu yang paling berpengaruh adalah lulusan sekolah pastry luar negeri yang kembali ke Indonesia dan membuka bisnis mereka sendiri. Jakarta memiliki Social House, La Maison, dan pada edisi ini, Charins, adalah beberapa contoh lulusan luar negeri yang sukses memperkenalkan pastry khas Prancis. Sementara itu, Bandung memiliki Ambrogio dan Sucre Patissier.

Sucre (bahasa Prancis dari gula) merupakan pastry shop yang didirikan oleh Gitta Angelina, seorang lulusan Le Cordon Bleu, Sidney dengan konsep French style pastry. Gitta berasal dari keluarga (ibu dan nenek) yang suka membuat kue, sehingga mereka tidak ragu untuk memberikan dukungan pada Gitta untuk membangun bisnis sendiri di bidang pastry.

Sucre  Patissier menawarkan berbagai produk pastry khas Prancis seperti gateaux, croissant, macaron, brownies, cookies, dan custom cake (individual atau wedding), namun chiffon adalah produk yang menjadi signature Sucre. Tentu saja, modifikasi resep untuk menyesuaikan produk dengan selera pasar harus dilakukan terlebih dahulu.

Produk-produk Sucre Patissier memiliki target marketnya sendiri. “Untuk chiffon dan bolu-bolu jadul, kami lebih menargetkan pelanggan berusia 30-50 tahun dengan rasa yang tidak terlalu manis dan familiar di lidah mereka, sehingga biasa mereka membeli untuk konsumsi sehari-hari atau sebagai hadiah karena harganya yang terjangkau. Sementara untuk gateaux dan croissant, Sucre Patissier lebih menargetkan orang-orang muda yang menyukai rasa unik dan mengikuti jaman. Jadi dari kategori produknya pun kita memiliki target market yg berbeda,” jelas Gitta.

Perkembangan coffee shop juga cukup mempengaruhi bisnis Sucre Patissier. Seperti yang kita ketahui, lifestyle nongkrong sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat saat ini. Dan saat hangout, tentu croissant dan cake adalah teman terbaik kopi. “Kami menyadari kebutuhan ini, kami pun melebarkan usaha dengan melalui kerjasama dengan beberapa coffee shop yang cukup ternama di Bandung. Jika kalian mengunjungi coffee shop di Bandung, kemungkinan besar kalian akan menemukan produk kami disana,” kata Gitta.

Meski memiliki style French yang kuat, Sucre Patissier tidak menutup mata terhadap trend di masyarakat. ”Contohnya, saat Indomie sedang marak dan viral di masyarakat, kami ciptakan croissant Indomie yang ternyata booming, hasilnya cukup dahsyat bagi kami. Namun kami tidak akan menurunkan kualitas produk hanya demi mendapatkan harga jual yang sangat murah. Jangan khawatir, harga kami cukup terjangkau jika dibandingkan dengan cake shop kompetitor. Jadi, kenapa tidak membeli kue dengan harga pas dan rasa terbaik?” kata Gitta.

Kehadiran pastry shop baru seperti Sucre Patissier tentu mempengaruhi scene pastry di Bandung yang sebelumnya didominasi oleh produk oleh-oleh. Dengan kesuksesan Sucre Patissier di Bandung, Gitta berencana untuk membuka cabang di Jakarta dalam kurun waktu 2 tahun dengan persiapan yang matang dan target market yang haus akan perubahan.



SUCRE
Jl. Kaca-kaca Wetan No.3B, Lengkong Kecil, Bandung 40261, West Java, Indonesia
Phone : +62 22 426 7276 / 426-7277,
www.sucregroup.com

0 0
Feed