Blue alley

French Brasserie in Kelapa Gading

Growing up in Kelapa Gading, I couldn’t believe I had a really, really hard time thinking when a friend asked me a recommendation of proper restaurant for candle light dinner in the area. After contemplating for almost 30 minutes, I gave up, “why don’t you look elsewhere? Let’s say, Senopati perhaps?” That was back in 2014, now Kelapa Gading has more new modern, ambience-based restaurants here, like the new Bleu Alley Brasserie.


Whenever we talk about Kelapa Gading as food destination, you’d immediately think about bakmie, chinese food, seafood, ramen, or kopitiam. Thus, the idea of opening a French brasserie in Kelapa Gading might sound like a radical idea, even for the Bleu Alley’s Executive Chef, Hendry Ramaly Hutama.


“I’ve been living here (Kelapa Gading) since 1996. I love Gading! I hate Gading! It seems like people here come to restaurant merely for the food, they don’t really care about the dining experience. I know we’re going against the stream, however, there’s always first time in everything,” said Hendry.


At first, Hendry has been known as the founder of Maison Bleu Centre of Culinary Art that was established in 2015. In the beginning of 2019, they moved to a bigger place which will be the home of Maison Bleu, Bleu Alley Brasserie (and boulangerie, soon), and Elise (their future project, involving Indonesian progressive cooking).


“We had an internship program for our students, but we had some issues. Most places are willing to hire internship students for 6 months minimum, without salary, meanwhile, we only require students to work for 240 hours, which can be translated into 1,5 – 2 months work period. Finally, we decided to open our own restaurant to help students with their internship program,” Hendry explained.


Hendry realized that running a restaurant in a highly competitive area like Kelapa Gading is already a difficult task, let alone introducing the unfamiliar French brasserie concept. “I’ve seen many restaurants that are successful in other places closed down when they open their outlet here. Kelapa Gading market is really unpredictable, that’s why we put extra effort and passion in everything. Actually, our food cost suffers a little bit in order to gain more customers,” he added.


If you think French food is all about fine dining, served in beautiful presentation, but small portion, we’re pretty sure you’re not alone. That’s how most Indonesians see French cuisine in general. On the other hand, Bleu Alley is more to a bistro (or brasserie in French) that serves French’s everyday food. “Why French? Because Maison Bleu’s curriculum is based on Le Cordon Bleu’s. We want students to have real life experience of serving food to actual customers to see their feedback,” said Hendry.


Brasserie Menus


“The thing about French food, is that almost all of the ingredients are homemade. We made our own baguette, brioche, croissant, soft roll, even our smoked salmon. Actually, French cooking is very simple, but it took quite a long time. Some dishes even require 3-4 days preparation,” said Hendry.


Escargot is a definitely staple French brasserie menu. The oven-baked snail is served with butter, pesto, parsley, garlic, wine, and baguette. The idea of eating snail might intimidate you at first, but please, give it a try and thank us later, you’re welcome! And then we have Moules Normandie (baked mussels, aromatic herbs, lemon, white wine, and homemade sourdough) and Le Morue (pan-fried black cod fish served with  sweet potato puree, baby carrot, shitake mushroom and soy ginger broth).


Bleu Alley also serves Tagliatelle (miso cream & mushrooms) and Boeuf Bourguignon, beef burgundy that requires 48 hours preparation time from the marinade process to sous vide, served with pommes puree, green peas, mushrooms, pearl onion, bacon. The menu is actually very comforting, especially when you enjoy it when it’s cold and raining outside. And of course, it’s not French it serves the classic Confit de Canard (duck confit).


For the dessert, the recommended menus are Canele and Tarte Tatin. Canele requires 9 hours resting time as it needs natural yeast and it was served with olive oil gelato and coffee creme anglaise. Tarte Tatin is the classic warm apple and caramel tart, served also with the olive oil gelato.


Hendry understands that for most Indonesians, European food tend to taste relatively more bland compared to Asian cuisine, especially the spicy Indonesian food. It’s a common practise increase the flavor intensity by adding MSG, however, Hendry’s pride as the owner of a culinary school won’t allow him to do so.


“We’re serving honest food. Our secret is we put more glace de viande onto most dishes. To make regular liquid stock, normally it took around 6 hours, for sauce it could be 12 years. Glace de viande even took longer, until the texture becomes some sort of jelly, very thick. From 20 kg of bones, we end up with only 6 litres of glace de viande. It makes our food cost higher, somehow not everyone understands it,” he said. As a result, we had tastier dishes in almost all of the menus compared to the traditional French cuisine. With the addition of glace de viande and surprisingly affordable pricing, Bleu Alley is trying to make French cuisine available to wider range of audience.


The dining experience in Bleu Alley slightly changes our perception on French cuisine. Even though people associate it with fine dining, that’s kind of intimidating for some people, the menus served in Bleu Alley Brasserie are surprisingly homey, comforting, and tasty. We understand, a French brasserie in Kelapa Gading might sound strange, but we believe Bleu Alley is one of the hidden gem of the area that deserves a try.

============================================================================================================


Tumbuh besar di Kelapa Gading, saya tidak percaya saya harus berpikir sangat keras ketika seorang teman meminta rekomendasi sebuah restoran untuk candle light dinner di daerah ini. Setelah sekitar 30 menit, saya menyerah, “kenapa tidak cari tempat lain saja? Seperti, Senopati mungkin?” Itu terjadi pada 2014, sekarang Kelapa Gading memiliki banyak restoran modern yang mengutamakan ambience, seperti Bleu Alley Brasserie yang baru.


Ketika kita bicara soal Kelapa Gading sebagai destinasi kuliner, Anda akan langsung berpikir soal bakmie, chinese food, seafood, ramen, atau kopitiam. Sehingga, ide untuk membuka sebuah French brasserie di Kelapa Gading terdengar seperti sebuah ide radikal, bahkan untuk Executive Chef Bleu Alley, Hendry Ramaly Hutama.


Saya tinggal di sini (Kelapa Gading) sejak 1996. Saya cinta Gading! Saya benci Gading! Sepertinya orang-orang di sini datang ke THE CITYEscargotBoeuf Bourguignon22passionmedia.co.idTHE CITYrestoran untuk sekedar makan, mereka tidak terlalu peduli soal pengalaman dining. Saya tahu kami melawan arus, namun selalu ada yang pertama untuk semuanya,” kata Hendry.


Awalnya, Hendry telah dikenal sebagai founder dari Maison Bleu of Culinary Art yang berdiri sejak 2015. Pada awal 2019, mereka pindah ke tempat yang lebih besar yang akan menjadi rumah bagi Maison Bleu, Bleu Alley Brasserie (dan boulangerie, segera) dan Elise (proyek selanjutnya yang melibatkan masakan Indonesia progresif ).


“Kami memiliki program magang untuk para siswa, namun ada sedikit masalah. Kebanyakan tempat mau mempekerjakan karyawan magang selama minimal 6 bulan, tanpa gaji, sementara kami hanya mewajibkan siswa untuk bekerja selama 240 jam, artinya 1,5 -2 bulan masa kerja. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuka restoran sendiri sekaligus untuk membantu siswa mencari tempat magang,” jelas Hendry.


Hendry menyadari bahwa menjalankan bisnis restoran di tempat yang sangat kompetitif seperti Kelapa Gading saja sudah cukup berat, apalagi memperkenalkan konsep French brasserie yang kurang familiar. “Saya menyaksikan banyak restoran yang sukses di tempat lain malah gagal ketika membuka outlet di sini. Pelanggan Kelapa Gading tidak bisa ditebak, itu sebabnya kami memberikan usaha dan passion ekstra di segala hal. Sebetulnya, food cost kami harus sedikit dikorbankan demi mendapatkan nama,” tambahnya.


Jika Anda berpikir makanan Prancis adalah fine dining yang disajikan secara indah dalam porsi kecil, kami yakin Anda tidak sendirian. Itulah bagaimana kebanyakan orang Indonesia melihat masakan Prancis secara umum. Di sisi lain, Bleu Alley memiliki konsep bistro (atau brasserie dalam bahasa Prancis) yang menyajikan makanan sehari-hari Prancis. “Mengapa Prancis? Karena kurikulum Masion Bleu didasarkan pada Le Cordon Bleu. Kami ingin agar siswa kami memiliki pengalaman menyajikan masakannya ke pelanggan sungguhan untuk mendapatkan feedback,” kata Hendry.


Menu Brasserie“Makanan Prancis menggunakan bahan-bahan yang hampir semuanya homemade. Kami membuat sendiri baguette, brioche, Tarte TatinLe Moruepassionmedia.co.id23THE CITYcroissant, soft roll, bahkan smoked salmon. Sebetulnya, teknik masak Prancis sederhana, namun memang membutuhkan waktu lama. Beberapa menu bahkan membutuhkan persiapan 3-4 hari,” kata Hendry.


Escargot tentu merupakan menu wajib brasserie Prancis. Bekicot yang dioven-baked disajikan dengan butter, pesto, parsley, bawang putih, wine dan baguette. Mungkin ide memakan bekicot begitu menakutkan bagi Anda, namun tolong, berikan kesempatan dan silahkan berterima kasih pada kami nanti! Kemudian kami mencoba Moules Normandie (baked mussel, aromatic herbs, lemon, white whine dan sourdough homemade) dan Le Morue (ikan cod pan-fried yang disajikan dengan puree ubi, wortel baby, jamur shitake dan soy ginger broth).


Bleu Alley juga menyajikan Tagliatelle (miso cream & mushrooms) dan Boeuf Bourguignon, beef burgundy yang membutuhkan 48 jam, mulai dari proses marinasi hingga sous vide, disajikan dengan mashed potato, kacang polong, jamur, pearl onion, bacon. Menu ini terasa begitu comforting, terutama jika Anda menikmatinya ketika cuaca sedang dingin dan hujan. Dan tentu saja, bukan resto Prancis namanya jika tidak menyajikan menu klasik Confit de Canard (duck confit).


Untuk dessert, menu rekomendasinya adalah Canele dan Tarte Tatin. Canele membutuhkan waktu resting selama 9 jam untuk mendapatkan ragi alami, untuk kemudian disajikan dengan gelato olive oil dan coffee crème anglaise. Tarte Tatin adalah tart apel dan karamel klasik yang juga disajikan dengan gelato olive oil.


Hendry mengerti bahwa untuk kebanyakan orang Indonesia, masakan Eropa rasanya relatif lebih tawar jika dibandingkan dengan masakan Asia, terutama Indonesia yang mengandalkan rempah. Untuk meningkatkan intensitas rasa, penggunaan MSG merupakan praktek umum, namun, kebanggaan Hendry sebagai pemilik sebuah sekolah kuliner mencegahnya untuk melakukan hal serupa.


“Kami menyajikan masakan jujur. Rahasianya adalah kami memberikan lebih banyak glace de viande pada hampir semua masakan kami. Untuk membuat kaldu cair, biasany butuh 6 jam, untuk saus bisa mencapai 12 jam. Glace de viande membutuhkan waktu lebih lama lagi sehingga teksturnya berubah menjadi seperti agar-agar, sangat kental. Dari 20 kg tulang, kami hanya mendapat sekitar 6 liter. Ini menjadikan food cost kami lebih tinggi, namun tidak banyak yang mengetahui hal ini,” katanya. Akibatnya, kami mendapatkan masakan yang cenderung lebih gurih di semua menu, terutama jika Anda bandingkan dengan masakan Prancis tradisional. Denhan tambahan glace de viande dan harga yang terjangkau, Bleu Alley sedang mencoba untuk membuat masakan Prancis untuk kalangan yang lebih luas.


Pengalaman dining di Bleu Alley sedikit mengubah persepsi kami mengenai masakan Prancis. Meski banyak yang mengidentikannya dengan fine dining, menu yang tersedia di Bleu Alley Brasserie ternyata begitu homey, comforting, dan tasty. Kami mengerti, sebuah French brasserie yang berlokasi di Kelapa Gading mungkin terdengar aneh, namun kami percaya Bleu Alley merupakan salah satu hidden gem dari daerah ini yang layak Anda kunjungi.


BLEU ALLEY BRASSERIE

Jalan Raya Boulevard Timur blok NE-01 No. 75, Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara 14240,

Phone : +6221 2245 8546

0 0
Feed