kopitoko

Focus. Flow. Family

Family is the most invaluable treasure, and Rendy Febriano Sukardi understands that really well. His coffee establishment, Kopitoko, was built solely from that philosophy, and now has flourished into three different branches in Sanur, Ubud and Seminyak. Embracing the warm vibe of family and his expertise in coffee roasting, it is safe to say that the future shines bright for the young coffeepreneur. Here’s his exclusive interview with PASSION…


Tell us about your background. When did you first fall in love with coffee? Was it given that you’d work with coffee for a living, or have you ever consider other careers?


My background is actually as a 3D animator. Usually, as you know, the rendering process took all night long to finish, and I definitely need coffee to stay awake. Then I decided to start taking step in coffee business because my wife and sister-in-law want to do business as well; my wife Putri has a handcrafted bag brand, and my sister-in-law, Dyah, was a pottery maker, and we all love coffee. I began to really focus in coffee since three years ago. 


To be honest, I never plan to start a coffee business, everything just go with the flow. We study it from scratch, observe the opportunity, and then our (first) customers gave us positive feedback; then we decided to be more focused. Every aspects in Kopitoko are family-based, from the ceramic (furniture), interior design, coffee, to food are made by ourselves.


What is your favorite aspect of operating a coffee café and roastery?

My background is related with art, and in coffee, as art, we have to use feeling a lot. I spent one year to learn everything about roastery, so the process is really not as easy as much people think. You have to use feeling to make coffee. Things I like the most from the process is when the end result is good, especially for others. We don’t want to sell our product halfheartedly; customer’s happiness is our satisfactory. 


When did you first establish Kopitoko? And what is your vision for the brand in the future?

Good question! Kopitoko established in 2016. Of course we really want to develop in the future, but right now, we want to focus in three of our branches first. We don’t want to open up another store but compromise the quality; not just the coffee, but we want to make the best out of the food as well. We are happy because now customers come to Kopitoko not only for the coffee, but also out homemade sandwich. There two are things that we want to improve the most in the future.


What’s your preferred brewing method? And which part of roasting process that you think is the most important?


Personally, my favorite brewing method is basic espresso, classic pure flavor without any peculiar mixes. Then, on the roasting process, the most important thing for me is the coffee bean’s quality. If the base ingredients are already good, the next steps will be easy, but if not, it will be a bit tricky on the roasting process.


With the rise of prominent coffee establishments in Bali; café and roaster alike, how would you say Kopitoko is different from the rest? What do you wish to convey to your customers?


In Kopitoko, we want to give our overall best; from the interior design of our store, food, coffee, we put extra effort to create a warm, family vibe with our customers, especially between the barista and them. There are plenty of our customers who ended up becoming close friend. Kopitoko is not a mere business, but something born out from the things that we love, as a family.


Do you have any favorite blends or origins? What do you think about Indonesia coffee bean in general?


Personally, I really like our own house blend, which consists of Indonesia’s indigenous coffee beans mix; Bali and Aceh. These are the beans that we try to focus in Kopitoko, and so far, our customers give their good feedback as well. Specifically, we use Kintamani and Gayo beans, with a balanced blend of chocolate and fruity flavors; not too strong but not too weak, so everyone can drink it conveniently. I think Indonesia is one of the best coffee producers in the world, and really capable of competing in international level.


Do you have any plan for the rest of 2019 for Kopitoko?


Our closest plan this year is developing Kopitoko’s own roastery. Slowly, we want to enter the supplier scene and supplying our coffee to other places of business. Hopefully throughout the rest of 2019, we can start to mass-produce our coffee for supply purpose.


What advice would you give for someone looking to get into roasting?

If you wish to enter coffee business, really get into it from the beginning. This is not a cheap investment, and need a quite amount of budget. Nowadays, there are so many competitors around; and the customers are getting smarter to choose quality coffee. The point is, only when you are truly passionate that your coffee business can run well. At first, Kopitoko didn’t have its own roastery, because I didn’t feel confident to do it. It needs about one year for me to learn about roastery before I decided to opens it on my business. I didn’t plan for that at all, again, everything just ‘go with the flow’! The equipment to do the roastery are also cost quite a penny, so I have to save money little by little to buy them all (laugh).



=================================================================================================================================


Harta yang paling berharga adalah keluarga, dan Rendy Febrianto Sukardi benar-benar memahami hal tersebut. Brand kopinya, Kopitoko, dibangun semata hanya dari filosofi tersebut, dan kini telah berkembang menjadi tiga cabang berbeda di Sanur, Ubud dan Seminyak. Mengedepankan suasana kekeluargaan hangat dan keahliannya di bidang roasting kopi, kini bisa dibilang bahwa masa depan terlihat cerah bagi sang pengusaha muda. Berikut wawancara eksklusifnya dengan PASSION...


Ceritakan sedikit tentang background anda; kapan anda pertama kali jatuh cinta pada kopi, dan apakah anda telah mengetahui akan berkarir di bidang kopi, ataukah pernah mempertimbangkan profesi lain?


Waktu itu awalnya karena background saya di animasi. Biasanya kita proses rendering semalam suntuk dan pastinya butuh kopi. Kemudian saya memutuskan untuk memulai terjun di bisnis kopi karena kebetulan istri dan kakak ipar juga ingin memulai usaha. Istri saya membuka usaha tas, dan kakak ipar memiliki tempat ‘pottery’ atau pengrajin keramik, dan kami semua suka kopi. Saya benar-benar mulai fokus di kopi sekitar 3 tahun lalu.


Sebenarnya saya sama sekali tidak merencanakan untuk memulai bisnis kopi, semua hanya mengalir begitu saja. Kita pelajari sejak awal, dan melihat peluang yang ada, lalu para pelanggan juga banyak memberikan tanggapan positif, maka kami memutuskan untuk lebih fokus. Semua aspek di Kopitoko berlandaskan pada kekeluargaan (family-based), mulai dari keramik, kopi hingga makanannya kami racik sendiri.


Apa hal yang paling anda sukai dari bisnis coffee / roastery?


Saya memiliki latar belakang di dunia seni, dan di kopi pun, selayaknya seni, kita lebih banyak menggunakan feeling / perasaan. Saya menghabiskan waktu satu tahun lebih untuk mempelajari seluk beluk roastery, jadi prosesnya memang tidak semudah yang dikira orang-orang. Untuk membuat kopi memang harus menggunakan perasaan. Yang paling saya sukai dari proses ini adalah ketika hasil akhirnya memuaskan, terutama bagi orang lain. Kami tidak mau menjual produk secara asal-asalan. Kesenangan pelanggan adalah kepuasan utama kami. 


Kapan anda pertama kali mendirikan Kopitoko? Dan apa visi anda terhadap brand ini di masa depan?


Pertanyaan yang bagus! Kopitoko berdiri di tahun 2016. Pertama-tama, kami tentunya ingin lebih berkembang di masa depan, namun saat ini, kami ingin lebih fokus di tiga cabang Kopitoko kami terlebih dahulu. Kami tidak ingin membuka lagi di tempat lain tapi kualitasnya belum terjaga; bukan hanya kopinya, tapi juga makanan pendampingnya yang ingin kami buat sebaik mungkin. Kami senang karena pelanggan datang ke Kopitoko bukan hanya karena kopi, namun juga sandwich buatan kami (homemade). Dua hal inilah yang ingin kami tingkatkan di masa depan.


Apa metode brewing yang paling anda sukai? Bagian mana dari proses roasting yang anda anggap paling penting?


Metode brewing favorit saya pribadi adalah base espresso, citarasa klasik tanpa campuran yang aneh-aneh. Kemudian dalam proses roasting, yang terpenting bagi saya adalah kualitas biji kopinya. Bila bahan dasarnya sudah bagus, tentu proses selanjutnya akan mudah, namun jika tidak, akan cukup sulit untuk mengakali roastingnya.


Melihat kebangkitan brand-brand kopi berkualitas di Bali belakangan ini, apa yang menurut anda membedakan Kopitoko dari yang lain? Apa yang ingin anda sampaikan kepada para pelanggan?


Di Kopitoko, kami ingin memberikan yang terbaik secara keseluruhan; mulai dari tempat, desain interior, makanan, kopi, dan kami senantiasa berusaha menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat dengan pelanggan, terutama antara barista dan pelanggan. Banyak sekali pelanggan yang akhirnya menjadi akrab dengan kami. Kopitoko bukan hanya sekedar bisnis, tapi sesuatu yang lahir dari hal yang kami cintai sebagai keluarga.


Apakah anda memiliki blend kegemaran? Dan apa pendapat anda tentang biji kopi Indonesia secara umum?


Saya pribadi sangat menggemari kopi houseblend kami sendiri, yang terdiri dari biji kopi asli Indonesia; yakni Bali dan Aceh. Memang hal inilah yang kami coba fokuskan di Kopitoko, dan sejauh ini para pelanggan juga memberi respon baik. Secara spesifik, kami memakai biji kopi Kintamani dan Gayo, dengan citarasa coklat dan fruity yang seimbang; tidak terlalu strong atau weak, sehingga semua orang bisa meminumnya. Menurut saya, Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, yang tentu sangat mampu untuk bersaing di level internasional. 


Apakah anda memiliki rencana untuk Kopitoko di sepanjang sisa tahun 2019 ini? 


Rencana terdekat adalah memajukan roastery Kopitoko sendiri. Kami perlahan-lahan ingin merambah ranah supplier dan memasok kopi ke tempat-tempat usaha lain. Semoga dalam kurun sisa tahun ini kami sudah bisa mulai memproduksi kopi untuk disuplai ke tempat lain.


Saran apa yang bisa anda berikan bagi mereka yang hendak memulai bisnis coffee/ roaster?


Bila memang ingin terjun ke bisnis kopi, kalau bisa benar-benar ditekuni sejak awal. Karena ini bukanlah investasi murah dan membutuhkan budget yang cukup besar. Persaingan juga sudah mulai ketat di beberapa tahun terakhir; dimana para pelanggan sudah mulai pintar untuk memilih kopi berkualitas. Intinya jika memang memiliki passion di bidang kopi, maka bisnisnya pasti berjalan.


Pada awalnya, Kopitoko belum memiliki fasilitas roastery sendiri, karena saya belum ‘pede’ untuk hal itu. Butuh waktu kurang lebih satu tahun bagi saya untuk mempelajari bidang roastery sebelum memutuskan untuk membukanya, itu pun tidak direncanakan sama sekali, semua hanya ‘go with the flow’, lagipula alat-alat roaster juga cukup mahal, sehingga saya harus menabung sedikit demi sedikit untuk membelinya (tertawa).


KOPITOKO UBUD
Jl. Raya Campuhan, Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali 80571
Phone: +62 812 26967782

0 0
Feed