Elevated Street Food

At the moment, we have many 5 star hotels that give special attention to Indonesian cuisine, however, Grand Hyatt is willing to take the extra step through one of his outlet, Grand Café. If previously it was known as a place that served international cuisine, on May 2018 Grand Café was relaunched, after the full renovation process that took 4 months, with strong local influence.


There are times when street food and 5 star hotel fool was an antonym. “It seems that we didn’t have too many 5 star hotels that are serious about local food. Many people love street foods, but they want to dine in a more convenient, clean place, finally they go to hotels,” said Susanto, Grand Café’s Chef de Cuisine.


For research purpose, Grand Café’s culinary team never hesitate to visit the origin place of the street food to understand it’s true flavor. “We want authentic street food. I’ve had Sate Maranggi in Purwakarta, while it tasted really good, the beef was quite chewy. Here, we use Australian tenderloin to achieve the tenderness. We’re always into getting the same flavor, but using better quality ingredients,” explained Susanto.


Authentic Taste


Sop Buntut (Oxtail Soup) is definitely an icon in Grand Café. It’s a bold move, as we already had another 5 star hotel that’s already famous for the same menu. “Why we chose Sop Buntut? Just ask the customers, whose Sop Buntut is better? We’re very confident our Sop Buntut is the best. The statement came not from us, but from the guests. Whether it’s our regular or old customers, they keep coming back for Sop Buntut,” said Susanto.


Furthermore, Susanto explained that Grand Café only uses the best ingredients, from the local spices, to the imported beef. “We use Australian oxtail because the local ones are too small,” he added.


In a day, Grand Café can make up to 100 kg of oxtail as the menu is also available in its buffet. “During lunch time, if Grand Café is at full capacity, around 200 people, we use 80 kg of oxtail, not to mention the dinner and ala carte,” Susanto stated. To get that distinctive clear, umami soup, Grand Café employs the slow cooking method. “We spend 4 hours just to make Sop Buntut because we use low flame,” he added.


Aside from Sop Buntut and Sate Maranggi, no one seems to dislike Mie Ayam (chicken noodle). Once again, Grand Café walks the extra miles to recreate one of the most common street foods. “We make our own noodle using lamian technique. We also cook the chicken for 1 hour with low heat. And then, we make our own meatball broth using beef bone and striploin trimming,” said Susanto. 


For the Indonesia’s traditional salad Rujak, they use familiar ingredients such as sweet potato, peanut, tamarind, shrimp paste, brown sugar, cucumber, starfruit, pineapple, but Grand Café also use pomelo as a twist that you rarely see in the street. 


On the trending Indonesian cuisine, Susanto has his own perspective. “Food trend tends to be cyclical and repeat itself. In the 80’s we knew Bubur HI. In 90’s. when our tourism was booming, we have many expatriates that highlight western foods. Usually, the cycle last around 5-10 years,” he explained.


It’s difficult to discuss about taste in printed media. Don’t just believe the customers’ testimonials and Susanto’s claim. You need to see it for yourself to check the truth about the flavor. One thing for sure, enjoying the common street food that was made with 5 star hotels approach is definitely an inspiring experience.

======================================================================================================================================


Saat ini mulai banyak hotel bintang 5 yang memberi perhatian khusus pada masakan Indonesia, namun Grand Hyatt melakukannya lebih jauh melalui salah satu outletnya, Grand Café. Jika sebelumnya dikenal sebagai tempat yang menyediakan masakan internasional, pada Mei 2018 Grand Café kembali beroperasi setelah proses renovasi selama 4 bulan dengan konsep Indonesian food.


Ada saat dimana makanan jalanan dan makanan hotel bintang 5 merupakan antonim. “Sepertinya jarang ada hotel bintang 5 yang mengedepankan masakan Indonesia secara serius. Banyak orang yang suka street food namun mereka ingin makan di tempat yang lebih nyaman dan bersih, akhirnya mereka pergi ke hotel,” kata Susanto, Chef de Cuisine Grand Café.


Untuk riset, tim kuliner Grand Cafe tidak ragu untuk mengunjungi daerah asal makanan tersebut untuk mengetahui rasa aslinya. “Kami ingin street food dengan rasa otentik. Saya pernah mencicipi Sate Maranggi di Purwakarta, meski rasanya enak namun tekstur dagingnya keras. Di sini kami menggunakan tenderloin dari sapi Australia sehingga teksturnya sangat empuk. Kami selalu tertarik untuk mendapatkan rasa yang sama, namun dengan kualitas bahan yang lebih tinggi,” jelas Susanto.


Rasa Otentik


Sop Buntut adalah salah satu menu yang menjadi ikon di Grand Café. Ini adalah sebuah keputusan yang cukup berani, mengingat ada hotel bintang 5 lain yang lebih dulu terkenal dengan menu yang sama. “Mengapa kami pilih Sop Buntut (sebagai ikon)? Coba saja tanyakan kepada tamu, Sop Buntut siapa yang lebih enak? Kami sangat percaya diri bahwa Sop Buntut kami adalah yang terbaik, namun pernyataan tersebut bukan keluar dari mulut kami, melainkan dari para tamu. Baik pelanggan setia mau pun pelanggan lama kami selalu kembali untuk Sop Buntut,” kata Susanto.


Lebih lanjut lagi, Susanto menjelaskan bahwa Grand Café hanya menggunakan bahan-bahan terbaik, mulai dari rempah-rempah lokal, hingga daging sapi impor. “Kami sengaja menggunakan buntut sapi Australia karena buntut sapi lokal ukurannya lebih kecil,” tambahnya.


Dalam sehari, Grand Café bisa membuat hampir 100 kg buntut sapi karena menu ini juga tersedia di buffet. “Jika pada saat lunch Grand Café kondisinya penuh, dengan kapasitas 200 orang, kami bisa menghabiskan 80 kg buntut sendiri, belum termasuk dinner dan menu ala carte,” tegas Susanto. Untuk mendapatkan ciri khas kuah sup yang gurih, namun tetap jernih, Grand Café menggunakan teknik slow cooking. “Kami bisa menghabiskan 4 jam untuk membuat Sop Buntut karena kami menggunakan api kecil,” tambahnya.


Selain Sop Buntut dan Sate Maranggi yang menjadi andalan, rasanya tidak ada orang yang tidak suka mie ayam. Sekali lagi, Grand Café menunjukkan usaha ekstranya untuk membuat street food yang begitu umum. “Kami membuat sendiri mie kami menggunakan teknik membuat lamian. Selain itu proses masak ayamnya juga cukup lama, sekitar 1 jam dengan api kecil. Lalu untuk kuah baso, kami juga membuat sendiri menggunakan tulang dan tetelan striploin,” kata Susanto.


Untuk menu salad khas Indonesia, Rujak, mereka menggunakan bahan yang familiar seperti ubi, kacang, asam jawa, terasi, gula merah, timun, belimbing, nanas, namun Grand Café juga menggunakan jeruk bali yang jarang Anda jumpai di jalanan biasa.


Mengenai masakan Indonesia yang sedang menjadi tren, Susanto memiliki teorinya sendiri. “Tren makanan sifatnya berputar dan berulang terus. Pada tahun 80an, kita mengenal Bubur HI. Pada 90an ketika industri pariwisata kita mulai booming, para ekspatriat berdatangan sehingga masakan western menjadi tren. Biasa tren semacam ini berlangsung selama 5-10 tahun,” jelasnya.


Sulit rasanya berdiskusi soal rasa melalui media cetak. Jangan percaya begitu saja dengan testimonial pelanggan Grand Café dan klaim Susanto, Anda harus datang sendiri untuk membuktikan kebenaran soal rasa. Yang jelas, menikmati street food yang Anda nikmati sehari-hari yang diolah dengan pendekatan hotel bintang 5 merupakan sebuah pengalaman yang selalu menginspirasi.



GRAND CAFE

Grand Hyatt Jakarta, Jalan M. H. Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350

Phone: +6221 2992 1234, www.hyatt.com/en-US/hotel/indonesia/grand-hyatt-ja...


0 0
Feed