Juno coffee company

Digitalisasi Industri Kopi

Saya tidak tahu apakah pernyataan ini pantas atau tidak di situasi sekarang, namun saya cukup bersyukur pandemi covid-19 terjadi di 2020. Bayangkan jika pandemi ini terjadi di, katakanlah, tahun 2000, saat akses Internet masih terbatas, belum ada marketplace, dan penyedia jasa delivery online seperti sekarang.


Sebagai salah satu industri yang mengandalkan atmosfer outlet dan pelayanan, coffee shop tentu salah satu pihak yang terkena pukulan paling berat, namun ada banyak cara lain berjualan kopi. Bagi peminum kopi, boleh saja mereka absen dari coffee shop langganan untuk sementara waktu, namun entah bagaimana caranya, mereka harus tetap harus minum kopi, entah itu es kopi susu literan, atau menyeduh kopi sendiri di rumah.


Apakah ini merupakan momen tepat untuk mengembangkan komunitas homebrewer? Saya berbincang dengan Mikael Teguhjaya, pemilik sekaligus roaster dari Juno The Coffee Company mengenai dampak pandemi terhadap bisnis, dan arah perubahan yang terjadi di industri kopi.



Bagaimana pengaruh PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada aktivitas Anda?


Secara garis besar, banyak pekerjaan saya yang tertunda dan beberapa kesepakatan harus dibatalkan. Selain roaster Juno Coffee & Co, saya dan istri memiliki agency foto, dan kami tidak bisa pergi ke tempat lain, sehingga bisa dibilang kami cukup terkena dampak pandemi ini. Untuk penjualan biji kopi, tentu kami mengalami penurunan kami memasok ke beberapa coffee shop.


Kebanyakan dari coffee shop ini hanya mengambil 20% dari kapasitas pembelian mereka di saat sebelum pandemi, karena pembatasan jam operasional.Namun di sisi lain, kami mengalami peningkatan penjualan di marketplace online. Meski mungkin jumlahnya tidak terlalu signifikan, ada saja pendatang baru yang ingin mencicipi kopi Juno Coffee & Co, entah dari kalangan homebrewer, atau pemain baru. Saya perhatikan, di masa pandemi ini banyak pemain baru yang berjualan kopi susu literan, mereka mencoba membeli 1-2 kg kopi kami. Jadi, saya syukuri saja, toh yang mengalami hal ini bukan hanya saya kan?


Apakah ke depannya, Anda akan terus berfokus ke pasar online?


Tidak juga. Saya memiliki beberapa teman dari kalangan coffee shop, jika saya bisa memasok ke mereka, kenapa tidak? Namun jika kami harus bergerak secara online, tidak masalah juga, karena bisa dibilang saat ini kami memang bergantung pada online. Contohnya saja, pemesanan kopi melalui Whatsapp sekian kilogram, atau email, itu semua bentuk bisnis online kan? Mungkin bedanya sekarang, jika biasa saya memasok 10 kg ke satu tempat, sekarang hanya 2 kg, namun saya masih memiliki beberapa prospek klien yang berniat membuka hingga 3 cabang baru di luar Jakarta


Bisa cerita sedikit soal kondisi kopi di hulu?


Saya sempat ngobrol dengan petani kopi di Malino, Sulawesi Selatan. Namun, untuk ekspor memang sedang sulit karena regulasi yang semakin rumit. Kondisi para petani kopi juga saat ini mereka sedang khawatir, karena sebentar lagi merupakan masa panen, sementara permintaan di hilir berkurang. Karena pembatasan jam kerja, beberapa roaster besar mengalami penurunan omset karena 70% coffee shop yang mereka pasok terpaksa tutup, jadi pengaruh pandemi ini besar sekali bagi kami.


Bagaimana dengan situasi di komunitas kopi, ada update apa?


Beberapa event kopi seperti Jakarta Coffee Week tahun ini kemungkinan besar tidak akan terjadi. Selain itu, mungkin ada sesuatu yang berbeda, yang sifatnya virtual. Saya sempat mendengar wacana untuk mengadakan lomba roasting kopi virtual, dengan menggunakan sampling bean, dan mesin roasting standar, namun kami belum membahasnya lebih jauh lagi. Pada intinya, ke depan, kegiatan-kegiatan di industri kopi akan mengarah ke online.


Bahkan, saya pernah berdiskusi soal konsep kompetisi manual brew virtual sebelum pandemi, mungkin sekitar November atau Desember. Kami berbicara banyak hal, “sepertinya menarik juga jika mengadakan kompetisi manual brew virtual.” Kami tidak menyangka sekarang wacana semacam itu dibicarakan dengan serius.


Bagaimana dengan update dari kalangan coffee shop?


Tentu saja yang paling menderita selama pandemi ini adalah coffee shop yang membuka outletnya di mal. Jika biasanya mereka mempekerjakan banyak barista, saat ini sepertinya 2 barista saja sudah cukup. Minggu lalu saya baru saja mengantarkan kopi, saya melihat kursi-kursi di coffee shop diletakkan di atas meja. Mereka tetap beroperasi, namun hanya melayani delivery dan takeaway, sementara coffee shop lan yang mengandalkan kekuatan e-commerce dan berjualan kopi susu literan.


Apakah ini merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan homebrewer?


Bisa jadi.


Seberapa besar komunitas homebrewer ini?


Berdasarkan pengamatan saya di marketplace, sepertinya pembeli kopi Juno dari kalangan homebrewer semakin banyak. Bahkan, saya sendiri awalnya adalah seorang homebrewer, kebetulan saja saya dibukakan jalan untuk menjadi roaster. Saya memiliki beberapa klien yang bekerja di perusahaan yang berbeda. Jika kami tidak berbicara soal pekerjaaan, mereka akan menyeduh kopi. Jadi, jika saya datang berkunjung, saya bisa mendapatkan 3 cangkir kopi yang diseduh oleh 3 orang yang berbeda, dengan alat yang berbeda pula, mulai dari v60, Kalita Wave, sebut saja. Mereka bahkan sudah memiliki preferensi biji kopi, tidak hanya soal origin, namun hingga ke petaninya, sedetail itu! Saya takjub sih, ternyata semakin banyak orang yang belajar soal kopi.


Jika kondisi terus begini, sepertinya daya beli masyarakat akan semakin lemah. Apakah roaster kopi seperti Anda akan terancam?


Antara ya dan tidak. Di satu sisi, mungkin bisa terancam, mereka yang bisa meminum kopi yang harganya Rp 300.000/kg mungkin akan downgrade, namun di sisi lain, mungkin tidak Anda beralih ke kopi yang kualitasnya lebih rendah? Saya tetap optimis, karena minum kopi berkualitas adalah kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari beberapa orang, jadi menurut saya bisnis ini akan terus bertahan


Namun jika kita bicara dari sisi pemilik coffee shop, apakah pandemi ini mengganggu?


Sangat mengganggu tentu saja. Saya memiliki teman yang baru saja membuka café November kemarin, dan makanannya enak. Minggu kemarin, ketika saya “Saya tetap optimis, karena minum kopi berkualitas adalah kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari beberapa orang, jadi menurut saya bisnis ini akan terus bertahan.”tanya, dia bilang cafenya sudah tutup. Semua alatnya dijual karena karyawannya tidak ada yang masuk kerja. Menurutnya, perhitungan bisnis café tersebut sudah tidak masuk akal, jadi ia lebih memilih untuk tutup saja. Karena dia cukup berada, mudah saja baginya untuk beralih ke bisnis lain.


www.junothecoffeecompany.com

0 0
Feed