Dibalik Lensa dan Segelas Kopi

Bermula dari kegemarannya menyambangi kedai kopi, Cahya Saputra memutuskan untuk memusatkan segenap karirnya di dunia kopi; baik sebagai barista, konsultan dan fotografer hingga menjabat sebagai Head Barista / Coffee Conceptor di kafe Kopi Obey. Kepada PASSION, ayah satu anak itu membagikan sejumlah pemikiran cemerlangnya; mulai dari latar belakang hingga komunitas yang digagasnya di Pulau Bali. Simak sembari menikmati segelas ice latte segar favoritmu!

Ceritakan sedikit latar belakang kamu, dan apa yang membuat kamu jatuh cinta dengan dunia kopi?


Latar belakang karir saya sebenarnya cukup jauh dari dunia kopi, yakni sebagai interior designer, graphic designer dan juga 3D compositor, tapi saya memiliki passion tentang kopi. Pada mulanya, saya gemar melakukan ‘coffee hopping’ atau mengunjungi serta mencicipi berbagai kedai kopi di Bali sejak tahun 2011. Kemudian saya belajar tentang barista secara otodidak dari seorang teman asal Jakarta yang memiliki coffee shop. Dari sana saya mulai coba-coba meracik kopi sendiri, baik manual maupun memakai mesin. Lalu, saya mulai mengembangkan konsep ‘coffee photography’, yakni memotret segelas kopi yang saya minum, dan cukup berkembang juga hingga saat ini lewat akun instagram @chielogue. Setelah sekian lama menjadi konsultan kopi, saya akhirnya mendapat kesempatan untuk membangun kafe dan menuangkan seluruh ide serta keahlian saya di Kopi Obey.


Selain menjabat sebagai co-owner / head barista di Kopi Obey, kamu juga dikenal sebagai fotografer professional. Apa pencapaian terbesar dalam karir kamu di bidang fotografi sejauh ini?


Pencapaian terbesar sejauh ini adalah ketika saya bisa membangun sebuah komunitas; terutama di ranah fotografer untuk barista dan kopi. Saat ini kami belum memilki nama resmi, namun secara offline, kami memiliki sebuah grup yang beranggotakan beberapa influencer—khususnya yang berasal dari Pulau Bali. Melihat betapa maraknya komunitas serupa di Jakarta yang sudah ada terlebih dahulu, saya berpikir mengapa kita tidak coba membuatnya di Bali. Saya mengawali bukan dengan cara menarik massa secara langsung, namun secara perlahan melakukannya sendiri hingga banyak yang menyadari potensi bidang fotografi kopi tersebut. Di awal tahun sempat tercetus ide untuk meresmikan komunitas ini, namun semua harus ditunda karena pandemic COVID.


Bisa jelaskan sedikit mengenai konsep akun @chielogue, dan apakah saat ini kamu sudah bisa disebut sebagai ‘Coffee Influencer’?


Akun @chielogue pada awalnya hanyalah akun iseng semata dimana saya suka memotret jajanan pasar dan street food (namanya sendiri terinspirasi dari jajan khas Bandung, ‘cilok’). Bila mau ditelusuri, foto-foto awal akun @chielogue masih menampilkan jajan seperti lumpia pasar (tertawa). Namun dengan seiring waktu dan bertumbuhnya minat saya pada kopi, saya kemudian suka memotret kopi yang saya minum ketika ‘coffee hopping’, dan menaruhnya di feed akun @chielogue. Pada waktu itu malah tidak terpikir bila orang akan suka dengan foto segelas kopi, tapi lambat laun banyak yang mulai tertarik dengan ciri khas foto saya yang memang kurang lazim. Banyak yang bertanya kenapa saya bisa mendapatkan angle foto dari balik counter, hingga mendapatkan proses pembuatan kopi oleh baristanya, namun itulah yang memang ingin saya angkat. Mengapa saya membuat foto di belakang barista yang notabene di waktu itu belum marak, karena saya memiliki konsep tersendiri. Saya ingin membagikan cerita tentang barista yang banyak orang mungkin tidak sadari di balik segelas kopi cantik yang mereka nikmati. Di baliknya, mungkin banyak yang tidak terpikirkan bahwa kopi tersebut sudah dibuat berulang kali, sampai betul-betul sempurna di meja anda. Jika diperhatikan, tone foto kopi saya cenderung monokrom dan sedikit ‘rough’, karena saya ingin memperlihatkan bahwa profesi barista adalah profesi yang keras dan tidak semudah yang dipikir orang-orang.


Bagaimana pandemic COVID mempengaruhi bisnis kamu secara menyeluruh, dan apa kiat kamu untuk menyambut era ‘New Normal’?


Pengaruhnya jelas sangat banyak! Bahkan sebelum saya berkarir di Kopi Obey; banyak klien konsultasi kopi saya yang terpaksa berhenti di tengah jalan, namun ada juga yang bisa bertahan, terutama bisnis skala kecil. Kemudian kiat dalam menyambut New Normal, sesungguhnya kopi adalah bisnis yang bisa menyesuaikan diri. Tidak ada istilah ‘stuck’ dengan situasi; situasi berubah, bisnis juga harus berubah. Contohnya di Kopi Obey, cafe ini akhirnya tetap bisa buka di tengah masa pandemi, karena saya mulai dengan menjual kopi botolan, sehingga mereka yang tidak bisa keluar dan terpaksa #stayathome masih bisa menikmati kopi berkualitas di rumah. Yang membedakan kopi botol di Kopi Obey dari kopi kekinian lain adalah semua bisa dibuat sesuai permintaan para konsumen, bukan minuman produksi-massal yang jenisnya terbatas. Semua menu kopi yang kami kemas dalam botol sama dengan apa yang bisa dipesan ketika orang nongkrong di kafe kami, dan bisa dibuat secara spesifik sesuai permintaan (customized).


Apa tren yang sedang ‘in’ di dunia kopi saat ini? Dan apakah ‘Q-Grader’ masih menjadi tolak ukur kesuksesan seorang barista?


Untuk sekarang, secara umum ada dua jenis konsumen kopi; mereka yang benar-benar memahami kopi dan mereka yang ‘hanya’ sekedar bisa minum kopi. Untuk yang terakhir, tren yang ada saat ini adalah es kopi kekinian yang murah dan bisa diakses semua kalangan. Untuk jenis penikmat kopi spesifik, manual filter masih menjadi trend utama, karena ada banyak sekali taste-note (citarasa) yang bisa dikulik dari jenis kopi tersebut, dan bisa dikembangkan lebih luas dari sekadar latte atau cappuccino; terutama di ranah kompetisi. Sementara untuk Q-Grader sebenarnya lebih condong kepada profesi ‘roaster’, bukan barista; yakni mereka yang memang terjun langsung untuk bertemu dengan petani dan mendalami tentang metode roasting atau penanaman kopi. Barista sendiri lebih bertindak sebagai eksekutor terhadap hasil biji kopi yang ada, dan harus bisa meracik sedemikian rupa komposisi yang ada untuk menyajikan yang terbaik bagi para penikmat kopi. Namun dari segi profesi, tentu menjadi seorang Q-Grader bisa lebih menjanjikan, karena lidah seorang Q-Grader bisa dikatakan sudah tersertifikasi secara resmi, dan dia bisa mengemban jabatan spesifik seperti Cup taster.



Kopi Obey

Pertokoan Puri Alit No. 3, Jl. By Pass Ngurah Rai No.7, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361

Phone: +62 819 3844 4111, IG: @chielogue

0 0
Feed