Chef Stefu

Dampak Covid-19 pada Industri F&B

Jika Anda pernah berinteraksi dengan Stefu Santoso Executive Chef Aprez Catering, sekaligus Presiden ACP (Association of Culinary Professionals), mungkin Anda mengenali cara bicaranya yang khas. Stefu cenderung mengatakan segala sesuatu apa adanya, termasuk mengenai kondisi industri F&B ditengah pandemi covid-19, sebuah kenyataan pahit yang sedang dihadapi semua yang bergerak di industri ini, dari level atas, hingga bawah. Seolah tidak mau menyerah pada kondisi, PT. Api Metra Boga melalui Amuz dan Aprez tetap bertahan dengan cara menyajikan makanan ready to eat lewat delivery.

Apa aktivitas Anda sehari-hari sekarang?


Saya setiap hari masih ngantor, kami menjual makanan delivery, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan.


Seberapa parah dampak covid-19 ini bagi PT. Api Metra Boga?


Wah, jika Anda bicara soal dampak sih, parah, luar biasa parah. Banyak orang bilang kondisi saat ini jauh lebih parah dari krisis moneter 1998 karena meski terjadi kerusuhan, paling tidak bisnis masih bisa beroperasi. Yang hancur adalah mata uang rupiah dan tingkat keamanan negara. Untuk pandemi ini, selain keamanannya bermasalah, bisnis tidak bisa buka, lalu orang memiliki ketakutan tersendiri akan isu ini. Sekarang ini, meskipun beberapa orang memiliki uang, mereka tidak bisa melakukan apa-apa, seperti makan di restoran, paling hanya sebatas delivery, yang tentu kenikmatannya berbeda.


Beberapa orang melihat ini sebagai “kiamat kecil” bagi industri F&B.


Kita tidak usah menggunakan istilah yang terlalu seram, namun ini memang sebuah pukulan besar, dan tidak hanya F&B, semua bidang kondisinya sama. Saya tidak bisa berkata sektor mana yang lebih baik atau jelek, semua bisnis, dari atas hingga bawah, apapun jenis bisnisnya mengalami hal yang sama. Mungkin dari luar orang melihatnya berbeda, tapi pada dasarnya sama, semua perusahaan mulai kehabisan cashflow.


Kita kembali ke awal dahulu, Anda sudah mengetahui soal covid-19 sejak kapan?


Saya mendengar wabah bermula di Wuhan pada akhir Desember. Saat Januari, semakin banyak yang mengetahui, hanya saja yang jadi masalah, bagaimana cara mencegahnya? Karena belum ada kasus covid-19 di Indonesia. Efeknya mulai kami rasakan pada awal Maret, mulai terjadi kepanikan. Ketika kasus pertama covid-19 diumumkan, Amuz sebetulnya memiliki sekitar 30 meja yang sudah dibuking, tetapi sebagian besar membatalkan. Café dan catering (Aprez) kami masih aman, namun mulai minggu kedua Maret, bisnis langsung mengalami penurunan drastis. Kami kehilangan bisnis, keadaan sudah sangat sepi dan okupansi gedung (Energy Building) sudah sangat menurun. Akhirnya kami memutuskan untuk menutup Amuz sementara.


Apa pertimbangan kalian saat itu?


Begini, ketika jumlah tamu sudah menurun, dan kami yakin bahwa tidak orang yang mau makan ke luar karena himbauan untuk tetap di rumah, mungkin tamu kami hanya 1-2 meja. Sementara untuk membuka restoran setiap hari, kami butuh cost yang cukup besar, mulai dari listrik, gas, lalu tenaga kerja. Ketika cost operasional saja lebih besar dari penghasilan, itu yang menjadi dasar kami untuk menutup restoran.


aya sempat mengetahui broadcast kalian yang menjual koleksi wine dan whisky, barang yang seharusnya bisa disimpan lama. Anda mengantisipasi pandemi ini untuk jangka panjang?


Kami berpikir jauh lebih panjang. Mengapa kami melakukan itu? Saya rasa semua restoran sama, kami berjuang untuk mendapatkan cashflow, yang notabene, setelah minggu kedua (Maret) bisnis sangat down. Café (Aprez) kami bahkan hanya kedatangan 3-4 tamu dalam sehari. Kami kehilangan banyak revenue, sehingga kami harus mencari cari untuk mendapatkan cashflow, paling tidak untuk membayar gaji karyawan.


Lalu, apa kebijakan perusahaan dalam mengantisipasi pandemi ini?


Kami mulai mengurangi jumlah karyawan dan lebih fokus ke delivery. Sejauh ini, belum ada yang namanya PHK. Kami masih menerima gaji penuh hingga Maret, namun untuk April, sudah tidak penuh lagi.


Berapa lama antisipasi kalian dalam menghadapi covid-19?


Sejauh ini, kami berpikir dari bulan ke bulan. Kami tidak mau berpikir terlalu jauh karena terus terang saja, isu semacam ini tidak bisa diprediksi. Beritanya simpang siur, ada yang bilang ini akan selesai setelah Lebaran, Juni, Juli, atau Oktober. Semuanya serba tidak pasti, jadi yang paling mudah adalah berpikir dari bulan ke bulan. Yang kita hadapi ini adalah sesuatu yang tidak terlihat, apalagi diprediksi. Ini bukan soal keamanan negara karena perang atau rupiah yang hancur, penyebabnya hanya 1 saja.


Saya tertarik dengan konsep Fine Dine at Home Amuz dan bahan ready to cook Aprez, bisa jelaskan sedikit?


Kami menyediakan makanan ready to eat dan ready to cook untuk pre order. Kami berpikir akan melakukan ini hingga kondisi normal, karena jika kami tidak melakukan sesuatu, kami tidak bisa menggaji karyawan.


PSBB mungkin akan dicabut, namun sebelum ada vaksin untuk covid-19, beberapa ahli memprediksi social distancing ini akan berlaku hingga 2022, apa pendapat Anda?


Kembali lagi, kami berpikir dari bulan ke bulan saja. Kita tidak tahu pandemi ini akan berlangsung sampai kapan, 2021? 2022? Kami melakukan apa yang kami bisa, semampu kami. Itu satu-satunya cara, bertahan dengan segala kemampuan dan usaha.Jika ini berlangsung hingga 2021, saya tidak yakin orang masih memiliki cashflow, ini saya bicara orang loh ya, bukan perusahaan. Bagi perusahaan, di 2021 mungkin sudah tidak ada lagi cashflow, lalu bagaimana dengan manusianya? Berapa banyak orang yang masih mampu menghidupi keluarganya?


Bagaimana dengan agenda ACP?


Otomatis kami batalkan semua. Mulai dari gathering bulanan pada Maret, April ini seharusnya kami berpartisipasi di Food, Hotel & Tourism Bali 2020, lalu di Juli seharusnya ada event Hotelex Indonesia 2020. Menurut panitia, Hotelex 2020 akan diundur ke September. April ini saya juga seharusnya menghadiri acara charity di Kamboja, namun diundur ke Oktober. Hingga hari ini, saya tidak tahu apakah acara-acara tersebut akan terlaksana atau tidak. Ada juga acara seperti Worldchefs Congress di Rusia yang resmi dibatalkan.


Oke, di luar semua dampak negatif covid-19, apakah ada hal positif yang Anda lihat?


Jika kita bicara hal positif di luar pekerjaan, mungkin kualitas udara yang semakin baik, polusi berkurang, orang semakin dekat dengan keluarga, tidak banyak sih. Lalu ada inovasi baru mengenai sistem belajar online, saya tidak tahu apakah itu akan efektif? Apakah guru dan siswanya siap? 


Belum lama ini Jakarta memberlakukan PSBB (10 April 2020) secara resmi, apa dampaknya terhadap industri F&B?


Sama saja, tidak ada perbedaan karena toh kami tetap melakukan delivery. Mungkin bedanya ketika saya berkunjung ke sebuah mal, sebelum PSBB, beberapa restoran masih menerima tamu dine in, meski memang jam operasional malnya dibatasi. Sekarang, situasi yang sudah sepi, ditambah larangan dine in, bisnis yang sudah turun akan semakin turun lagi.Saat ini, orang bahkan sudah takut akan packaging takeaway, karena menurut beberapa artikel, virus corona bisa bertahan di kantong plastik. Saya melihat sendiri ada satu rumah yang menggantung sebuah keranjang di pagar, jadi ketika ada orang yang ingin mengantar barang, cukup hanya meletakkan di keranjang, lalu setelah itu disemprot disinfektan sebelum barangnya masuk ke rumah.Setelah PSBB, terkadang jalanan mulai terlihat ramai lagi, karena pertama, orang mulai bosan di rumah. Kedua, untuk mayoritas kalangan menengah ke bawah, mereka harus bertahan hidup dengan cara berjualan, entah itu es campur atau nasi goreng. Karena jika kita tidak jualan, siapa yang mau membantu kita? Saat ini semua orang berusaha untuk survive. 


APREZ Cafe

The Energy Building, 2nd Floor, Lot 11A, SCBD, Jalan Jendral Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190

Phone: +6221 2995 1406

0 0
Feed