COFFEE TALK WITH SAGALEH

Meet Dhydha Maryudha - one of the co-owners of Sagaleh, among the first coffee shops that pioneered the emergence of es kopi susu beverage. With the industry landscape is now much more diversified, he shares his two cents about the business.


In just mere three years, coffee shops are sprouting like wildfire across Indonesia. Early last decade, it was all initiated by a handful of third-wave coffee shops, championing both local beans and micro batches from across the globe. The movement sparked a renewed nationwide appreciation toward coffee and the dynamics that surround it.

Among which is something that’s exclusively found in Indonesia and it’s none other than es kopi susu. This is a refreshing mixture of espresso shots with milk and mixed with homemade sugar sauce, with many prefer using brown sugar. Sagaleh however has its own recipe and was among the pioneers alongside Toko Kopi Tuku, Kopi Sana, Animo, and Di Bawah Tangga.


How it all began

Before fully inheriting RM Sepakat - a long standing Padang restaurant in Blok M, Dhydha and the rest of third generation owners decided to open their own business first. As to why a coffee business, he simply says that’s because everyone in the family likes coffee!

I remembered a day in 2017 when I walked down this downhill alley around Petogogan, South Jakarta. There I found Sagaleh and it was not the coffee shop that I would had imagined. It was a home, designed for takeaway orders. There were also stools reserved mostly for Gojek drivers. That was my first time enjoying their bold and indulging es kopi susu. It’s among my personal favorites and tastes consistently the same today.

Sagaleh started out modestly without investing in professional espresso coffee machine. “Four portable stoves and ten moka pots. That’s what it takes to brew our coffee”, Dhydha reminisces. Those days, Gojek was not yet available as easily as today. How they did it was just by letting everyone know that they’re open for business through social media. “We still received last order the day before delivery. The next day, we’re using GoSend to deliver our beverages – even to as far as Tangerang and Cibubur!”, he adds.

However, it wasn’t long until they can finally harness the full might of Gojek to catapult the Sagaleh into a well-known powerhouse in es kopi susu business.

Growth and expansions

A few months later, Sagaleh received an opportunity to expand. With overflowing orders keep on coming, the owners must consider an option to move out and not intruding their residential neighbors furthermore. Since then, a small shop tucked on Jalan Sambas - Blok M, became their new home. It was not only designed for takeaway orders, but also for hanging out.

However, the big break came almost just a year after they first started the business and this time the offer came from Pondok Indah Mall. It was still rare in 2018 to find an es kopi susu vendor in shopping malls. Until this day, the one at Pondok Indah Mall remains among the best performing of all Sagaleh outlets.

In 2019, Sagaleh opened up their flagship store in Panglima Polim area. Designated as a hub, Rumah Sagaleh shares its space with a barber shop. Inside, you can find more seats and even outdoor space. The kitchen was also set up to cater more more food menu to complement your drinks.

“Finally, we have a complete portfolio for Sagaleh. A full-fledged coffee shop, a smaller shop like the one on Jalan Sambas, and a tenant at a lifestyle shopping mall”, explains Dhydha.

The road ahead


Now there are more than just the three outlets in Jakarta. Only recently, they have expanded to Bandung and soon at least a couple more will be opened. “We are also considering for other cities as well. Would be great to reach 10 shops this 2020!”, exclaims Dhydha, brimming with confidence.

Even so, the pathway that Sagaleh leads to is to grow organically. With rapid expansions of several brands in the coffee shop business recently, it was only natural for us to ask his two cents about it. “Do you think such growth is deemed healthy for the industry and the competition?”, we ask.

Wisely Dhydha answers that he does not worry about it. “As long as we can all compete healthily, it should be okay. But my concern would be the astronomical demands for the farmers”, he continues. A just concern, remembering that Indonesian farmers capacity to cater such scale is being seriously challenged.

“Venture capitalists are now partnering with coffee shops and they now have serious KPI to fulfill. Such offer was once presented for us, but we decided to just grow the business by ourselves”, explains Dhydha. The new direction from the management of Sagaleh is not only expanding their business gradually, but to also focusing on quality without forgetting their roots.

“To bridge the gap between es kopi susu and specialty coffee would be where we’re heading next. It’s already challenging to maintain consistency with the products and our human resources. So in the end, it’s all about creating a sustainable business for the long run”, he says.

==================================================================================================================================================


Passion bertemu dengan Dhydha Maryudha – satu dari enam pemilik Sagaleh, sebuah bisnis kopi berandil besar menjadikan es kopi susu populer. Ia berbagi cerita mengenai industri yang kini semakin semarak perkembangannya.

Hanya dalam tiga tahun saja, kedai kopi bermunculan begitu banyak di seluruh Indonesia. Di dekade sebelumnya, gerakan ini dimulai oleh segelintir third-wave coffee shop yang mempromosikan biji kopi lokal ataupun internasional yang berkualitas. Gerakan ini menjadikan banyak orang Indonesia kembali mengapresiasi kopi dan berbagai dinamikanya.

Di antara dinamikanya yang hanya ditemukan di Indonesia adalah es kopi susu. Sebuah perpaduan antara espresso, susu, dan pemanis yang umumnya menggunakan gula jawa. Sagaleh memiliki resep mereka sendiri dan merupakan pelopor di antara nama-nama besar lainnya seperti Toko Kopi Tuku, Kopi Sana, Animo, dan Di Bawah Tangga.

Asal mula

 

Sebelum mewarisi RM Sepakat - sebuah rumah makan khas Padang legendaris dari Blok M, Dhydha dan keluarga generasi ketiga lainnya memutuskan untuk membuka bisnis mereka sendiri dulu. Alasan di balik mengapa mereka memilih bisnis kopi begitu sederhana, yaitu karena semua menyukainya.

Satu hari di tahun 2017, saya menyusuri sebuah gang di daerah Petogogan, Jakarta Selatan. Di sanalah saya menemukan Sagaleh dan ternyata ia bukanlah kedai kopi yang saya bayangkan. Sagaleh berlokasi di sebuah rumah tempat tinggal, dirancang untuk menerima pesan antar. Terdapat banyak kursi di sana, namun dipakai khususnya oleh para pengendara Gojek. Inilah kali pertama saya mencoba es kopi susu mereka yang berkarakter bold. Sampai hari ini, es kopi susu mereka masih menjadi favorit pribadi dan tetap konsisten rasanya.

Sagaleh memulai bisnisnya dengan sederhana, tanpa berinvestasi pada mesin espresso profesional. “Empat kompor portable dan sepuluh moka pot. Itulah yang kami butuhkan untuk menyeduh kopi kami saat itu”, ingat Dhydha. Di awal berdirinya, Gojek belum membuka layanannya secara penuh, sehingga yang mereka lakukan adalah mempromosikan usahanya melalui media sosial. “Kami masih menerima pesanan hingga H-1. Esoknya, kami mengirimkan kopi kami dengan menggunakan GoSend – hingga sejauh Tangerang dan Cibubur!”, tambahnya.

Tidak lama berselang, akhirnya Sagaleh bekerja sama dengan Gojek dan ini kian melambungkannya sebagai
salah satu nama besar di bisnis es kopi susu.

Masa perkembangan

Beberapa bulan berikutnya, Sagaleh punya peluang untuk berekspansi. Dengan begitu banyaknya pesanan, mereka harus memutuskan untuk pindah karena kondisi Petogogan sudah tidak kondusif lagi. Akhirnya mereka menemukan tempat baru yang berlokasi di Jalan Sambas, Blok M. Tidak hanya untuk pesan antar saja, kedai kopinya dirancang nyaman untuk duduk berlama-lama.

Kesempatan terbesar mereka terjadi setahun sejak berdiri dan kali ini datang dari Pondok Indah Mall. Masih terbilang jarang di tahun 2018 untuk menemukan kedai kopi susu di dalam mall. Hasilnya, hingga hari ini Sagaleh cabang Pondok Indah Mall punya performa yang terbaik.

Setahun kemudian, Sagaleh akhirnya membuka kedai kopi terbesarnya di Panglima Polim. Sebagai sebuah hub, Rumah Sagaleh berbagi tempat dengan sebuah tempat pangkas rambut kekinian. Kini kapasitas tempat duduk bertambah dan punya area outdoor. Kemudian, terdapat juga dapur yang diperuntukkan untuk menyiapkan menu makanan yang lebih bervariasi.

“Akhirnya kami punya portfolio komplit untuk Sagaleh. Sebuah kafe besar, kafe kecil, dan sebagai tenant di mall”, ujar Dhydha.

Rencana ke depan


Selain tiga outlet ini, Sagaleh juga berekspansi ke Bandung dan beberapa tempat lagi di Jakarta. “Kami juga tengah mempertimbangkan untuk kota-kota lainnya. Rencananya tahun 2020 ini akan buka 10 toko”, begitu sahutnya.

Pertumbuhan Sagaleh diarahkan secara organik, sementara beberapa nama lainnya kini berkembang pesat dengan cara yang berbeda. Soal ini kami tanyakan langsung kepada Dhydha, “Apakah perkembangan seperti ini sehat untuk industri dan kompetisi?”

Dengan bijak Dhydha menjawab bahwa ia tidak khawatir. “Selama persaingan itu sehat, mengapa tidak? Tapi yang saya pedulikan adalah kondisi petani kopi yang menghadapi pada permintaan yang begitu tinggi”, begitu lanjutnya. Sebuah kepedulian yang terjustifikasi, mempertanyakan apakah kapasitas petani kopi Indonesia sanggup ketika dihadapkan pada tantangan sebesar ini.

“Para pemilik modal ventura kini banyak bekerja sama dengan bisnis kopi dan punya KPI tinggi untuk dicapai. Sagaleh pernah mendapatkan tawaran serupa, namun kami memutuskan untuk berkembang sendiri”, Dhydha menjelaskan. Arahan baru dari manajemen Sagaleh adalah berfokus pada kualitas dan tidak melupakan asal usul mereka. Selain tentunya menambah jumlah toko yang mereka miliki.

“Menjembatani antara es kopi susu dan specialty coffee menjadi arahan baru kami. Menjaga konsistensi produk dan SDM saja sudah sangat menantang dengan beberapa cabang. Pada akhirnya, ini soal bagaimana kita menciptakan sebuah bisnis yang berkelanjutan hingga jauh ke depannya”, tutup Dhydha.



0 0
Feed