Chocotoberfest Returns

Chocotoberfest yang kedua kembali digelar di Mal Taman Anggrek pada 25-28 Oktober 2018 oleh PT. Freyabadi Indotama dan Tulip Chocolate. Tidak hanya sekedar memamerkan, mempromosikan produk, dan memperingati Hari Kakao Indonesia yang jatuh pada 16 September, Chocotoberfest kali ini yang bertema Circus Chocolate didesain untuk lebih mengedepankan edukasi, ide, dan gagasan baru agar cita rasa cokelat Indonesia menjadi yang terdepan di pentas dunia.


Salah satu latar belakang acara ini adalah fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kakao terbesar dunia ternyata tingkat konsumsi cokelatnya masih sangat rendah yaitu 0,4kg/kapita/tahun. Di sisi lain, Malaysia sudah mencapai 1kg/kapita/tahun bahkan di negeri yang tidak punya pohon kakao malah tingkat konsumsinya sangat tinggi hingga 12kg/kapita/tahun.


Chocotoberfest 2018 dan Cocoa Day 2018 memiliki tujuan yang sama yaitu mempromosikan produk-produk unggulan dari industri olahan kakao di dalam negeri dan untuk meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap produk berbasis kakao/cokelat. Jika upaya tersebut terus meningkat maka bukan hanya turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja tetapi juga turut meningkatkan kesejahteraan petani kakao Indonesia.


“Dibandingkan tahun lalu, pertumbuhan jumlah usaha cokelat home industry menjadi banyak sekali, merekalah penggerak yang dapat meningkatkan konsumsi cokelat. Yang menarik, terdapat beberapa home industry dari luar Pulau Jawa yang latar belakanganya adalah petani. Merekalah pelaku konsep ‘bean to bar’ yang sesungguhnya,” jelas Louis Tanuhadi, The Embassy of Chocolate sekaligus salah satu penggagas utama Chocotoberfest.


Salah satu produsen cokelat home industry yang mengundang kekaguman dari Louis adalah Delicacao. “Banyak orang berpikir bahwa produksi cokelat membutuhkan peralatan canggih berskala industri, namun sebetulnya, alat dengan skala home industry masih mampu memproduksi paling banyak 5kg/hari. Itu pun hasilnya sudah cukup baik, bahkan saya sempat terkejut. Mereka masih menggunakan cara lama untuk melakukan conchinh yaitu diaduk selama 2 hari dengan menggunakan mixer agar hasilnya homogeny. Beberapa produsen yang kurang sabar hanya melakukannya selama beberapa jam saja, tentu hasilnya kurang bagus,” tambah Louis.

Beberapa event menarik yang diadakan di Chocotoberfest 2018 adalah “Grab the Cake Enjoy the Ride” dimana pelanggan yang membeli kue cokelat dapat memenangkan undian liburan ke Thailand sekeluarga, acara melukis dan membuat permen cokelat, parade busana yang terbuat dari cokelat, lomba menghias pudding, dekorasi kue, dan lain-lain. Menurut Rudi Cahyono, selaku ketua panitia penyelenggara, 350 pelanggan telah berpartisipasi, dan pengundian dihadapan notaris dan Depsos dilakukan hari Jumat, 25 Oktober 2018 jam 15.00.


Kompetisi utama Chocotoberfest adalah Junior Chocolatier Competition. Sebuah kompetisi ahli cokelat junior (setingkat SMK dan mahasiswa) untuk menggali dan mencari bakat-bakat muda, menjadikan mereka ahli pembuat cokelat yang akan membawa cita rasa cokelat Indonesia ke pentas dunia.


Ultimate Chocolate & Coffee Pairing Workshop

Pada tahun ini, Passion Media kembali berpartisipasi dalam Chocotober dengan menyelenggarakan acara berjudul “Ultimate Chocolate & Coffee Pairing Workshop”. Jika sebelumnya konsep pairing lebih populer di dunia wine, Passion Media mencoba melakukan pairing antara cokelat dan kopi dengan menggandeng Louis Tanuhadi sebagai Chocolatier dari The Embassy dan Ronald Prasanto, CEO dan Co Founder Kopi Pak Wawan.


Dengan konsep yang fun, jangan harapkan para peserta hanya akan menutup mata, mencicipi kombinasi kopi dan cokelat dan mencari notes-notes tersembunyi, sebagaimana acara tasting yang serius. Louis mengadopsi konsep dari cara menikmati cokelat menggunakan 5 panca indera dalam pairing kali ini. Untuk menghindari kesan serius, bahkan cokelat yang disajikan bukanlah chocolate bar, melainkan praline yang memiliki berbagai isian. Di sisi lain, Ronald Prasanto juga boleh menambahkan apa pun ke dalam kopinya.


Aturan mainnya sederhana, setiap peserta akan dibagikan sebuah 4 cokelat praline dan 4 cangkir kopi sebagai pairing. Sebelum menikmati keduanya, peserta diperlihatkan sebuah video pemandangan di ruangan dengan wewangian khusus. Ini merupakan sebuah pengalaman yang memanjakan kelima panca indera Anda.


Pada pairing pertama, Louis memperlihatkan video suasana di hutan yang sangat hijau dan segar. Praline yang disajikan pun memiliki sedikit rasa asam yang menyegarkan yang dipadukan dengan dengan kopi 50% Toraja Pulu-Pulu dan 50% Flores Bajawa dan sedikit tambahan lemon zest. Pairing kedua dibuka dengan video padang gurun yang kering, lalu praline yang disajikan memiliki rasa kacang yang dominan. Untuk mengimbanginya, Ronald menyajikan 100% fine robusta Lampung Pak Ali.


Pairing ketiga menunjukkan video buah berry yang segar dan berwarna-warni. Louis menyajikan praline beraroma berry yang disajikan bersama kopi 50% Gayo Kawanda + 50% Gayo Papandayan yang dibuat menggunakan liquid nitrogen dan tambahan potongan stroberi. Pada pairing terakhir, Ronald menyajikan espresso 70% Flores Bajawa dan 30% Bali Kintamani Natural dan susu. Namun sayang sekali, kami harus merahasiakan video yang ditampilkan, biarlah hal ini diketahui para peserta dan pengunjung Mal Taman Anggrek saja. Yang jelas, ini merupakan sesi pairing yang paling menarik dan mengundang reaksi baik peserta dan pengunjung.


Acara ini memberikan ide bagi para peserta mengenai perpaduan cokelat dan kopi yang kemungkinan akan menjadi tren di masa depan. Apakah ini merupakan paduan baku bagi pairing cokelat dan kopi? Sejujurnya, kami tidak tahu. Yang jelas tujuan kami dari acara ini adalah bersenang-senang melalui pairing keduanya, dan melalui acara ini, tujuan tersebut telah tercapai.

0 0
Feed