YOUNG & DANGEROUS

Ceaseless Exuberrant Innovator

Mengawali karir di Bali dan menaklukkan kompetisi bergengsi, Melvern Nathaniel mengasah bakatnya di waktu dan tempat yang tepat. Kepada Passion, bartender muda andalan W Bali - Seminyak ini membagikan sejumlah pemikiran cemerlangnya. 


Muda, bertalenta dan memiliki mental juara, Melvern Nathaniel memiliki segalanya untuk meraih kesuksesan. Sempat menyabet gelar juara kedua di salah satu kompetisi bartender bergengsi, pria kelahiran Jakarta tersebut kini tengah meniti karir sebagai bartender di W Lounge milik W Bali - Seminyak yang prestisius. Passion berbincang dengan Melvern di sela kesibukannya dan membahas sejumlah hal tentang karirnya yang gemilang…



Kisahkan sedikit tentang awal karir kamu dan kenapa memutuskan untuk terju ke dunia bartending?


Saya memilih bartending saat saya berkuliah di Universitas Pelita Harapan. Saya tertarik melihat situasi di kelas bar saat itu yang seru, dan saya pun memilih job training di bar. Selepas lulus, saya kebetulan langsung diterima untuk bekerja sebagai bartender di Ritz-Carlton Bali. Ini terjadi pada tahun 2015, jadi kira-kira saya sudah menekuni profesi bartending selama hampir lima tahun. Saya lebih memilih bartending ketimbang kuliner (menjadi chef), karena menurut saya profesi ini sangat elegan, kita bisa menciptakan produk, tapi tidak berhenti sampai di situ. Kita juga bisa memberikan service kepada customer agar mereka bisa mendapatkan suatu pengalaman yang berbeda.


Kamu sudah mengikuti sejumlah kompetisi sepanjang karir bartender kamu. Bisa ceritakan salah satu yang paling berkesan untuk pembaca kami?


Momen paling berkesan bagi saya sejauh ini adalah ketika mengikuti kompetisi DIAGEO World Class di tahun 2017. Pada saat itu, saya baru saja pindah ke Katamama hotel di Potato Head Bali, kemudian saya diminta untuk mewakili company di kompetisi DIAGEO tersebut. Saya berhasil menembus proses seleksi, semifinal, hingga bisa melaju ke final dan akhirnya keluar sebagai Top Two (runnerup), meskipun saya merupakan peserta termuda. Tantangannya kala itu adalah kita harus membuat kreasi cocktail dengan menggunakan brand-brand minuman dari DIAGEO. Bukan hanya sekedar minuman, kita juga harus membuat cerita di balik setiap cocktail, filosofi, perpaduan rasa dan lain sebagainya. Di partai final, saya diminta membuat dua cocktail, yakni dengan mengacu pada tren saat ini dan juga tren masa depan.


Jelaskan sedikit tentang signature drink di W Lounge, dan apa kreasi minuman yang paling kamu banggakan di sini?


Di W Lounge, kita tidak membuat kreasi cocktail yang sophisticated (rumit), namun lebih kepada twist-twist klasik, karena konsep hotel W sendiri adalah agar orang-orang bisa dengan mudah menikmati kreasi cocktail kami. Jadi di sini ada satu menu signature bernama ‘Lila Margarita’. Lila diambil dari warna ungu muda. Saya memadukan tequila, lime dan juga bunga lavender serta blueberry untuk sentuhan floral di citarasanya Kemudian untuk signature saya sendiri, saya sempat membuat ‘cocktail of the month’ bulan lalu yang juga masuk dalam acara top 50 best bar Asia Pasifik yang diadakan Marriott. Saya buat sebuah kreasi bernama ‘Tropical Symphony’, dibuat dengan whisky sour twist sebagai base (landasan) nya. Pada persepsi umum, whisky adalah minuman gentleman yang elegan, maka saya tambahkan sentuhan fruity yang ceria, bersama bourbon dan apricot brandy, kemudian passionfruit (markisa), jahe dan sirup vanilla. Feedback (tanggapan) yang saya dapatkan saat itu dari para pelanggan sangat positif!


Apa saran kamu untuk mereka yang baru mau belajar di bidang bartending?

Yang pertama, temukan dulu ‘passion’ kalian. Dari sana, akan lebih mudah untuk belajar. Kemudian sebagai bartender, kita juga harus mempelajari hal-hal mendasar seperti hygiene (kebersihan), hal tersebut juga penting karena kita tidak hanya sekedar membuat minuman, melainkan harus berinteraksi dengan para tamu juga. Penting juga untuk memahami basic knowledge/pengetahuan dasar tentang spirit dan produk yang akan di gunakan dan juga mise en place/persiapan yang maksimal. Hal-hal ini perlu untuk diketahui mereka baru mulai belajar bartending.


Apa tren di dunia bartender yang saat ini hendak kamu aplikasikan di W Lounge, dan apa yang ingin kamu hindari?


Tren yang sedang ingin saya aplikasikan adalah sustainability / ramah lingkungan. Di W, sebetulnya kami sudah mengaplikasikan dalam hal mengurangi penggunaan plastik, namun lebih jauh lagi, hal itu bisa juga kita terapkan dalam pembuatan minuman. Misalnya dalam penggunaan buah apel; biasanya ampas dan kulitnya akan dibuang, tapi itu sebetulnya bisa kita olah lagi sebagai garnish (hiasan), begitu pula dengan jeruk sebelum di juice kita bisa ambil kulitnya terlebih dahulu untuk di infused ke spirit yang kita mau. Sustainable cocktail saat ini sedang menjadi tren yang baik di dunia bartender. Kemudian saya juga menganut paham ‘less is more’ dalam pembuatan cocktail; dimana saya tidak berupaya membuat homemade cocktail yang sulit, namun lebih ingin membuat sesuatu yang bisa dinikmati semua orang, kapanpun dan di manapun.


Untuk tren yang ingin dihindari, sebetulnya lebih ke experiment kita yang masih coba-coba agar tidak langsung di serve ke customer, namun ada kalanya experimen tersebut harus dipikirkan secara baik dan teliti Contohnya saat kita mencoba metode fermentasi, tapi kita tidak memahami takarannya, sehingga bila salah bisa memicu bakteri dari bahan yang kita pakai. Hal ini harus dihindari sehingga konsumen tidak dirugikan dari minuman yang kita buat. Kemudian ada pula beberapa jenis tumbuhan yang berbahaya untuk diolah; kita harus mengetahui bahan-bahan yang kita gunakan dalam racikan cocktail.


Whisky atau Vodka?


Whisky pastinya. Karena lebih banyak percabangan dalam whisky; ada singlemalt, bourbon, Japanese whisky, Canadian, bahkan Irish whisky, jadi citarasa serta karakternya lebih beragam. Vodka lebih merupakan natural “spirit” dengan flavor notes yang tidak jauh berbeda. Whisky lebih menantang indera pengecap (palate) karena tipenya yang berbeda-beda.

0 0
Feed