Cara Instant Coffee

Saya memiliki beberapa kesempatan untuk bertemu dengan Adi Taroepratjeka, mulai dari acara demonya di sebuah coffee shop di bilangan Kemang pada sekitar 2014, hingga secara kebetulan untuk sama-sama menjadi juri untuk kompetisi kopi internal sebuah brand hotel bintang 5. Namun, ada satu topik yang paling saya ingat dari Adi, yaitu ketika kami berbicara soal sebuah brand kopi instan sachet.


Saya, dan kebanyakan orang, mungkin berpikir orang yang bergerak bidang kopi specialty tidak akan terlalu peduli dengan kopi instan, tapi tidak dengan Adi. Ia menuturkan bahwa produsen kopi instan global ini melakukan riset mendalam mengenai selera kopi di masing-masing negara yang berbeda. Gunanya? Jika pendekatannya dibalik, kita bisa mendapatkan informasi mengenai selera kopi masyarakat di satu negara dengan sederhana, cicipi saja kopi brand tersebut di negaranya masing-masing. Di Indonesia, rasa kopi instan ini cenderung pahit sementara brand yang sama menyajikan kopi yang lebih cenderung nutty di Spanyol. 


Ketertarikan Adi pada kopi instan terwujud pada Cara Instant Coffee, sebuah proyek terbarunya yang baru terwujud pada tahun ini. Saat ini, ada 2 cara untuk mendapatkan Cara Instant Coffee: melalui pemesanan melalui Tokopedia, atau untuk outlet offline, di 5758 Coffee Lab, Bandung. Harganya memang tidak murah, Rp 125.000 untuk 1 paket berisi 6 botol @3 gram. Harga per cangkirnya jauh lebih mahal dibanding kopi instan lain, namun tentu lebih murah jika Anda bandingkan dengan secangkir kopi yang dijual di coffee shop. Ketika paket kiriman tiba dari Bandung, saya tidak sabar untuk unboxing dan mencicipi rasanya.

Kesan Pertama


Saya mendapat paket berwarna biru berupa kopi single origin batch 4 Kerinci proses madu dan paket multi origin dalam kotak berwarna oranye batch 5 berisi kopi Gayo, Tolu Batak dan Bone-Bone, ketiganya merupakan kopi proses basah. Ketika dibuka, Anda akan mendapat sebuah catatan kecil yang menjelaskan sedikit mengenai asal kopi-kopi tersebut dan roasternya, tanpa menyebut notesnya sama sekali. Saya rasa Adi ingin Anda memiliki interpretasi sendiri, karena dalam berbagai kesempatan, ia selalu menekankan bahwa rasa itu sesuatu yang sangat personal dan subyektif.Jika Anda pernah menemui Adi secara langsung, atau mengikuti akunnya di media sosial, Anda akan langsung mengetahui bahwa bahasa yang digunakan di catatan kecil itu “Adi sekali”, seolah ia menyapa Anda secara pribadi untuk memperkenalkan kopi yang disajikan. Adi selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia, bahkan untuk proses roasting, menyebutnya dengan “sangrai”.


Tasting!


Kami memulai dengan kopi single dari Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi dari PT. Kopiku Indonesia. Begitu kemasan botol dibuka, langsung tercium aroma yang sangat manis, mengingatkan saya akan bau gulali yang dijual di kantin sekolah ketika saya masih duduk di bangku SD. Bubuk, atau boleh saya sebut serpihan sebanyak 3 gram, ini saya tuang ke dalam gelas berisi 150 ml air (sesuai rekomendasi) dengan suhu ruangan, sekadar untuk menguji, apakah serpihan ini bisa larut dengan suhu biasa?


ernyata, melarutkan Cara sangat mudah, sama seperti ketika Anda membuat kopi instan lainnya. Namun yang mengejutkan adalah kompleksitas rasanya. Jujur saja, ketika mendengar istilah “kopi instan” di kemasan Cara, ekspektasi saya adalah sekadar versi lebih enak dari kopi instan. Saya salah! Jika Anda melakukan blind taste kepada mereka yang mengerti soal kopi, saya yakin hanya ada sedikit sekali yang menyadari bahwa ini adalah kopi instan. Kualitasnya setara dengan kopi manual brew yang biasa Anda minum di coffee shop specialty, tentu dengan lengkap kompleksitas rasanya.Saya mencoba menambahkan air hingga 200 ml agar terasa lebih ringan, lalu 30 ml untuk mendapatkan intensitas setara espresso (tanpa krema khas espresso, tentunya), namun saya malah jatuh cinta ketika biji kopi Kerinci ini dicampurkan dengan susu panas. Tutup mata, dan seketika saya merasa berada di sebuah coffee shop sambil menikmati hot latte yang dibuat menggunakan biji kopi specialty. Sebuah pengalaman yang sangat saya rindukan ditengah pandemi dan seruan #dirumahaja.


Saya beralih ke paket multi origin, dan saya mendapati bahwa kopi Gayo Double Soak (Kopi Pak Wawan) dan Tolu Batak (Klasik Beans) dengan notes yang fruity, light sangat nikmat untuk diminum tanpa susu, sementara kopi Bone-Bone (PT. Kopiku Indonesia) yang lebih intens dengan rasa yang lebih pahit sangat cocok jika dipadukan susu. Mungkin para pendekar kopi menganggapnya sebagai dosa, tapi saya mencoba menambahkan gula merah ke dalam ke dalam kopi Bone-Bone yang diseduh dengan susu dingin, dan seketika saya mendapatkan salah satu varian Es Kopi Susu paling nikmat yang pernah saya minum.Saya hanya bisa berimajinasi, jika Adi, atau orang lain, memutuskan untuk memproduksinya dalam jumlah massal dan harga yang lebih terjangkau, mungkin kompetitor Cara bukan lagi kopi lain, tapi malah supplier mesin kopi, terutama dalam konteks bisnis Es Kopi Susu yang tengah menjamur. Bayangkan jika sebuah kedai Es Kopi Susu menggunakan kopi semacam ini, untuk apa lagi mereka harus repot-repot membeli mesin kopi, grinder atau melatih barista?


Kesimpulan


Cara Instant Coffee memungkinkan Anda untuk menyeduh kopi yang kualitasnya setara dengan kopi specialty, meski Anda tidak memiliki alat seduh kopi manual, atau pengetahuan untuk menyeduhnya. Lupakan soal grind size, suhu air, atau durasi penyeduhan, cukup campurkan air atau susu sesuai selera, selesai! Kualitas seduhan akan konsisten. Jika ada variabel yang bisa Anda mainkan, mungkin satu-satunya adalah jumlah air (atau susu). Anda bahkan tidak perlu mencuci alat seduh manual, yang terkadang memakan waktu lebih lama daripada saat kita menikmati kopinya. Para pecinta kopi seduh manual mungkin agak kecewa karena tidak ada ruang yang luas bagi mereka untuk bereksperimen, meski seharusnya eksperimen seduh bukan menjadi tujuan Anda ketika membeli Cara.


 Namun, masih ada ruang untuk eksplorasi, dari rasio air, penggunaan air atau susu, panas atau dingin. Menentukan biji kopi mana yang lebih cocok dinikmati dengan air atau susu saja sudah dapat menimbulkan diskusi menarik antar para penikmat kopi.Tentu saja, Cara bukan produk sempurna. Jika harus menyebutkan hal yang bisa diperbaiki dari Cara, mungkin itu adalah kemasannya. Harus diakui, botol Cara agak sulit dibuka. Dalam kebanyakan kasus, saya membutuhkan bantuan gunting, meski secara teknis seharusnya kemasan ini bisa dibuka dengan mudah dengan tangan kosong. Kedua, ketika Anda membeli lebih dari 1 paket, ada kemungkinan bagi botol-botol ini untuk tertukar. 


Maksud saya begini, kopi single origin Kerinci memiliki tutup berwarna kuning, sementara kopi multiple origin memiliki 3 warna tutup: merah (Tolu Batak), hijau (Bone-Bone), dan kuning (Gayo). Ketika Anda membuka semua paket, ada kemungkinan botol kopi Kerinci dan Gayo yang tutupnya sama-sama berwarna kuning akan tertukar. Tidak ada penjelasan apapun di kemasan botol sehingga Anda harus berhati-hati dalam hal ini.Akhir kata, saya melihat Cara sebagai kopi specialty yang bisa diseduh dengan praktis. Saya memahami keraguan banyak orang mengenai istilah instant coffee, terlebih ketika melihat label harganya, saya pun mengalaminya. Mungkin butuh waktu bagi Cara untuk meyakinkan pelanggan, namun ketika Anda pernah mencicipi secangkir kopi Cara, keraguan itu sirna seketika. Kepraktisan dan kualitas Cara adalah hal yang sangat menyenangkan!Saya malah memikirkan berapa banyak cost dan effort yang bisa dihemat sebuah kedai es kopi susu jika menggunakan produk semacam ini, atau malah prank macam apa yang bisa saya lakukan kepada para teman-teman pendekar kopi. Meski Cara adalah produk kopi instan berkualitas specialty pertama, kami yakin ini bukan yang terakhir. Ini adalah produk yang berpotensi untuk mengubah model bisnis industri, dan tentunya, waktu yang akan membuktikan.

0 0
Feed