Breakthrough Educator

In this edition, PASSION meets Kertawidyawati; the President of Indonesian Sommelier Association Bali Chapter and Development Manager of Hatten Wines Bali, to discuss about her genuine vision, perspective and plan to enhance the nation’s wine scene through education and international standardization.

1. Let’s start with an important question: why does wine taste better when you’re travelling?

So the taste of wine will be different when you’re drinking it alone by yourself, or when you’re drinking it together with partner, friend; different atmosphere. It’s because of the environment. If you are travelling for holiday with your best friends, your mood level will be higher, thus everything will taste better. It’s on the psychological aspect as well. Wine is a liquid for celebration in togetherness. It would be so miserable to drink it alone in your room anyway. So bottom line, yes, the taste of wine could differ depending on the occasion, but it’s not coming from the quality itself, but with who and where you’re enjoying it.

2. As a mother and sommelier, how did you balance your career with time for your family?

Actually it’s not that balanced now to be honest! (Laugh). I was working in hotel before, and back then I thought this is where one would work long hours and lead to unbalanced life, but then when I move to winery, I do a lot of travelling for such long time, and my daughter really complaint about it. So to balance that, I always try to bring something home from the place that I visit to make her happy. But on the other side, we get more networks through travel, not only among Indonesian but also overseas. So it’s all worth it.

3. As the President of ISA (Indonesia Sommelier Association) Bali Chapter, what is your vision and goal for the island’s wine scene in near future?

Just a bit background about Indonesian Sommelier Association, our headquarters is in French, it’s called Associate de la Sommelier, and they have one association per country all over the world. In Indonesia, our central is at Jakarta, but because Indonesia is too big, we divided it into two chapters; Bali and Jakarta. Our main idea is to develop sommelier. Actually when you called yourself ‘sommelier’, you have to own a type of certification. We try to give a platform for those who want to learn about sommelier, who are working in the industry and very passionate to learn about wine. In ISA, we also held annual competition which will leads into world champion. To be able to send one guy from Bali to international competition is something big, and actually the current best Indonesian Sommeliers are from this island. These two guys will compete in South Korea for Asia’s Sopexa Wine Competition with other 9 countries. So basically from that kind of association we are giving them a platform to learn, build network and at the same time doing international activity.

4. What were your background / experience with wine? How did you become a sommelier in the first place?

My background is hospitality industry. As I mentioned before I worked in hotel, always in Food and Beverage division. My last position was actually as Executive Assistant Manager of Food and Beverage, so I’ve been in that industry for quite long. During that time, I became the President of ISA, and Hatten is actually gives the biggest contribution to this association. When Hatten build this facility (The Cellardoor); with private dining room, classroom, program, etc., they are looking for somebody who have F & B background and also passionate about wine and training. I stepped in and join Hatten. It’s been more than three years now, but that’s where it started. I choose to become sommelier because I love to drink wine and I started to become more passionate about wine.

5. According to you, how has the role of sommelier has changed in the past 20 years? Should there be better education and training for aspiring somms in Indonesia?

If you are talking about twenty years, I think that’s a big gap, because it’s only recently that the position of sommelier is being acknowledged in the industry; especially in Indonesia. What’s happening in Indonesia now is that big outlet, independent restaurant that owns wine cellar start to acknowledge the ‘sommelier’ role. But the thing is, particularly here in Indonesia, that position is just given by the owner to someone who is ‘quite good enough’ in the knowledge of wine, not because you are certified. This is different in overseas, where they only give that position to someone who officially certified. Unfortunately in Indonesia there is currently no certification body for wine knowledge or sommelier, but we’re happy to share that just around two weeks ago we, through Hatten Education Center, just received the approval to be the official agency for WSET (Wine and Spirit Education Trust), a UK-based association which certify wine knowledge-related program. So now, we are the one and only in Indonesia who eligible to do international certification for wine knowledge. This is a big thing because it means you don’t have to travel overseas to get your certification. I believe that the more we have possibilities to do this kind of classes, the more Indonesia people will have the opportunity to be successful in international wine industry.

6. Do we still have to follow the old rules; red with beef, white with fish?

I don’t think so. This is interesting. So, a lot of people asking about this, but actually in Hatten Education Center, we have one food pairing program called ‘Wine Appreciation’ which actually break that said rule. General perception still think that we have to pair red with red and white with white, but through that program we learned about the different characteristics of wine based on its complexities, not color; full-bodied, light-body, semi-sweet, dry, and then pairing them with four kind
of sauces, representing most flavors including rendang sauce. During that process, people need to break through their mindset, because they are no longer thinking about protein (beef or fish meat), but must taste the pairing through basic flavor. The most interesting thing is that people who did this eventually found that beef rendang is actually great when paired with semi-sweet white wine! My idea first to make this class for entry-level wine drinker and those who work in restaurant with second to none knowledge about wine, but it turns out that many tourist and foreigners who attended the class came to me and said that this is a ‘life-changing’ experience for them.


Pada edisi ini, PASSION berjumpa dengan Kertawidyawati; Presiden dari Asosiasi Sommelier Indonesia (ISA) dan Manajer Pembinaan dari Hatten Wines Bali, untuk berdiskusi tentang visi, sudut pandang  serta rencananya yang tulus untuk meningkatkan perkembangan skena wine di Indonesia melalui pendidikan dan standarisasi internasional.

1. Mari kita mulai dengan pertanyaan terpenting : Kenapa wine terasa lebih nikmat ketika anda sedang bepergian?

Jadi, rasa dari wine memang akan berbeda pada saat anda meminumnya sendiri atau menikmatinya bersama rekan dan sahabat anda di atmosfir yang berbeda. Ini karena lingkungannya. Saat anda pergi berlibur dengan teman dekat anda, level mood anda akan lebih tinggi dan membuat segalanya terasa lebih enak. Ini juga berada dalam ranah psikologis. Wine adalah minuman untuk perayaan dalam kebersamaan. Lagipula akan sangat menyedihkan untuk meminum wine sendiri di dalam kamar anda. Jadi, intinya, ya, rasa wine bisa berbeda tergantung keadaannya, tapi ini bukan berasal dari kualitas wine itu sendiri, melainkan dimana dan dengan siapa anda menikmatinya.

2. Sebagai seorang ibu dan sommelier, bagaimana anda menyeimbangkan karir dengan waktu untuk keluarga anda?

Sebetulnya saat ini sedang tidak seimbang (tertawa). Sebelumnya, saya bekerja di hotel dan saat itu saya berpikir hanya disinilah seseorang akan bekerja dengan jam-jam yang panjang dan membuat hidup jadi tidak seimbang, namun kala saya pindah ke ranah wine, saya sering bepergian dalam waktu yang lama dan membuat anak perempuan saya sering protes. Jadi untuk menyeimbangkannya, saya selalu mencoba membawa pulang oleh-oleh dari tempat yang saya kunjungi untuk membuatnya senang. Tapi di sisi lain, kita mendapat banyak sekali jaringan baru dari bepergian, bukan hanya dengan orang Indonesia lainnya, tapi juga orang dari luar negeri. Jadi semuanya terasa setimpal.

3. Sebagai Presiden dari ISA Chapter Bali, apa visi dan tujuan anda untuk skena wine di pulau ini dalam waktu dekat?

Jadi saya ceritakan sedikit mengenai latar belakang Asosiasi Sommelier Indonesia. Markas besar kami berada di Prancis, dan disebut Associate de la Sommelier. Mereka memiliki satu asosiasi di setiap negara. Untuk Indonesia, pusat kami berada di Jakarta, tapi karena negeri ini terlalu luas, kami membaginya menjadi dua chapter; Bali dan Jakarta. Gagasan utama kami adalah untuk membina sommelier. Sesungguhnya ketika anda menyebut diri sebagai 'sommelier', anda harus memiliki semacam sertifikat. Kami mencoba memberikan pelantar (platform) bagi mereka yang ingin belajar tentang sommelier; yang bekerja di industri ini dan sangat bergairah untuk mengetahui perihal wine. Di ISA, kami juga mengadakan kompetisi tahunan yang akan bermuara pada kejuaraan kelas dunia. Untuk bisa mengirim seseorang dari Bali ke kancah internasional merupakan sesuatu yang besar, dan sommelier terbaik Indonesia  saat ini memang berasal dari Bali. Dua orang dari pulau ini akan berkompetisi di Korea Selatan pada ajang Sopexa Wine Competition Asia menghadapi 9 negara lainnya. Jadi pada dasarnya dari asosiasi semacam itu, kami memberikan semacam pelantar bagi mereka untuk belajar, membangun koneksi dan melakukan aktivitas internasional di waktu yang bersamaan.

4. Apa latar belakang / pengalaman anda dengan wine? Bagaimana anda bisa menjadi sommelier pada mulanya?

Latar belakang saya adalah industri hospitality. Seperti yang saya singgung sebelumnya, saya dulu bekerja di hotel, dan selalu berada di divisi Food & Beverage (makanan dan minuman). Jabatan terakhir saya sesungguhnya adalah menjadi asisten manajer eksekutif F&B, jadi saya memang sudah lama berkecimpung di industr tersebut. Pada masa itu, saya menjadi Presiden ISA dan Hatten menjadi salah satu yang memberikan kontribusi terbesar bagi asosiasi ini. Ketika Hatten membangun fasilitas The Cellardoor; dengan ruang makan privat, kelas, program dan lain sebagainya, mereka mencari seseorang yang memiliki latar belakang F&B dan juga memiliki passion di bidang wine dan pelatihan. Saya kemudian memutuskan bergabung bersama Hatten sekitar tiga tahun yang lalu. Saya memilih untuk menjadi seorang sommelier karena saya suka minum wine dan disanalah saya mulai menjadi lebih bergairah tentang wine.

5. Menurut anda, bagaimanakah peran sommelier telah berubah dari 20 tahun terakhir? Haruskah ada pendidikan dan pelatihan yang lebih baik bagi para calon sommelier muda di Indonesia.

Jika anda bicara tentang dua puluh tahun, saya rasa ada celah yang besar, karena baru-baru ini saja posisi sommelier diakui secara luas di industri; terutama di Indonesia. Yang terjadi saat ini adalah outlet-outlet besar dan restoran independen yang memiliki gudang anggur baru mulai mengakui peran 'sommelier'. Namun di Indonesia, posisi tersebut hanya diberikan oleh pemilik pada seseorang yang 'cukup bagus' dalam pengetahuan wine, dan bukan karena memiliki sertifikat resmi. Ini berbeda dengan di luar negeri, dimana posisi tersebut hanya diberikan pada mereka yang memiliki sertifikat tersebut. Sayangnya memang di Indonesia saat ini tidak ada badan sertifikasi untuk pengetahuan wine dan sommelier, tapi kami senang untuk mengumumkan bahwa baru sekitar dua minggu silam, melalui Hatten Education Center, telah mendapatkan persetujuan untuk menjadi agen ofisial WSET, sebuah asosiasi berbasis Inggris yang memberikan program-program sertifikasi wine. Jadi saat ini, kami adalah yang pertama dan satu-satunya di nusantara yang berhak melakukan sertifikasi internasional untuk pengetahuan wine. Saya percaya bahwa semakin kita memiliki kemungkinan untuk melakukan kelas-kelas serupa, semakin besar pula kesempatan orang Indonesia untuk sukses di industri wine internasional.

6. Apakah kita masih harus mengikuti aturan lama dalam wine; merah dengan daging sapi dan putih dengan daging ikan?

Saya rasa tidak. Ini menarik. Jadi, banyak orang yang bertanya tentang hal ini, namun di Hatten Education Center, kami memiliki satu program penyerasian makanan (food pairing) bernama 'Wine Appreciation' yang mampu mendobrak aturan tersebut. Persepsi umum masih berpikir bahwa kita harus memadukan merah dengan merah dan putih dengan putih, tapi melalui program tersebut, kami mempelajari karakteristik wine yang berbeda berdasarkan tingkat kerumitannya, bukan warna; full-bodied, light-body, semi-sweet, dan memadukan mereka dengan empat macam asus yang mewakili sebagian besar citarasa; termasuk saus rendang. Dalam proses tersebut, orang-orang harus merubah pola pikir mereka, karena tidak lagi berkutat pada protein (daging sapi atau ikan), melainkan harus merasakan perpaduan (pairing) nya lewat rasa dasar. Hal paling menarik adalah orang-orang kemudian menemukan bahwa daging rendang sapi sangat cocok kala dipasangkan dengan wine putih yang sedikit manis! Pada mulanya ide saya membuat kelas ini adalah untuk para peminum wine pemula dan mereka yang bekerja di restoran tapi memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang wine, tapi nyatanya banyak turis asing yang menghadiri kelas tersebut mendatangi saya dan berkata bahwa ini merupakan pengalaman yang 'mengubah hidup' bagi mereka.

Jalan By Pass Ngurah Rai No. 393, Sanur, Denpasar, Bali 80228
Phone : +62 361 472 1377,