GIA

Beyond Tradition

If you’re a foodie living in a Jakarta, the name Gia should be familiar. Since it was established in 2015, Gia has been known as one of the most successful modern Italian restaurant and lounge in capital. Located in Sampoerna Strategic Square with its Italian mid-century architecture, Gia has won “Best Restaurant Design of the Year” from Asia Pacific Design Awards 2015 followed by “Best Hospitality Interior of the Year” from Belle Coco Republic Interior Design Awards 2015, then “Best International Design of the Year” from Australian Interior Design Awards 2015, and “Best Restaurant” at Taste of Dubai 2019. Gia has also opened its new outlet in Dubai in 2018 and they’re currently preparing for their new osteria concept in Pacific Place that will soon be open for public.


At the heart of Gia is the native-Tuscan Executive Chef, Tommaso Gonfiantini, who has travelled all around the world to spread his love of Italian food. “Italian is more about ingredients. If you come to Italy, try the classic caprese (salad), just some mozzarella, tomato, basil and drizzle of olive oil, little bit of pepper, that’s it! But we use the tomato that’s picked at the best moment for the harvest, we also use extra virgin olive oil, the best quality. It’s one of the most beautiful things to eat in Italy!” he said.


ia basically offer the experience of all the cuisine that you can find in Italy. “It’s an Italian (cuisine), contemporary, based from the classic dishes but twisted with contemporary cooking technique, adapted to the local market, since 90% of our customers are Indonesian,” said Tommaso.


Some modifications are made by Tommaso to suit the local taste, however, mostly it’s about the taste preference. ”First of all, we’re using more chilli. Compared to in Italy, it’s changing completely, but I don’t mind because I believe that one good chef has to be also flexible. As long as my customers enjoy what I’m serving, I’m glad,” he said.


The Chef added, “you can’t be just straightforward to what you like, your cuisine’s philosophy. Of course, you need to have one idea that you want to go but you have to be also good in adapting to different situations. Here, people love to have more chili in their food. Don’t get me wrong, I love chili, but when you have too much chili, in the end you don’t really actually feel the ingredient. It kicks your mouth but you don’t really feel the difference between good fish and bad fish.”


he Pizza & PastaTommaso revealed some secrets behind Gia’s pizza. “We’re using imported quality flour, The Italian 00 flour. We also let the proofing process of the dough for one day, without using big quantity of yeast. If someone had gassy stomach after eating pizza, it’s because the action of the yeast, they don’t rest the dough enough. When you rest the dough properly, you’ll have smooth consistency that will make the pizza crispy and thin,” he said.


Gia is definitely not a pizzeria, so, instead of serving the common pizzas such as Margherita, Gia prefers to serve gourmet pizza. “We use ingredients such as chorizo, salami, homemade sausage, and some premium cheese like burrata, pecorino romano, parmigiano, and gorgonzola. We try to pick the best ingredients available on the market to give customers remarkable dining experience.”


For the pasta, Gia also displays some of their homemade pasta using the same 00 flour, organic egg, and fresh ingredients. “We have different varieties, but they’re always fresh. I don’t like using frozen products,” Tommaso claimed.


The highlight in Gia is definitely its signature San Daniele & Burrata Pizza that features San Daniele ham, mozzarella, burrata and basil. Then, we had Spaghetti Al Nero Alle Vongole (black squid ink aglio e olio, clams, tomatoes, chili and mollica), Cavatelli Ai Porcini, Timo e Piselli (homemade cavatelli, porcini mushrooms, pea hummus, stracciatella cheese, thyme),and Risotto Al Nero di Seppia, Salmone in Salsa Rosa (squid ink risotto, baked salmon, pink sauce and rice crackers). For the dessert, Gia recommended Cremoso Al Burro di Arachidi (peanut butter creamy pudding, soft dark chocolate, honeycomb, salty caramel sauce).


Most Italians we know always brag about their grandmother’s cooking, and Tommaso is no exception. “For tiramisu, I’m using my grandma’s recipe. Nothing special about it, but tiramisu is already good as it is. It’s been deconstructed in so many ways because of the trend, but they don’t last long, the same goes for the trend of sous vide and spherification we had years ago.”


Chef Tommaso also gave us a little suggestion on how to tell the quality of a restaurant. “Most of the times, the menu is the mirror of the place. Even before tasting the food, I can understand the quality through its menu. The way it’s printed, the words used, misspelled words, and hygiene. As soon as I see the menu, I can tell the personality of the chef, the manager. Menu is like your name card, you gave me your name card in a very respectful way. You also had clean name card, it means you put it in a nice box, you want to give good impression of yourself. Chef is the face of a restaurant, so when I’m presenting my menu, I present myself, I want people to have good impression of myself.”


===========================================================================================================


Memodernisasi masakan Italia yang cenderung konservatif bukanlah sebuah tugas mudah, namun sesekali, kita melihat beberapa restoran yang dapat menyajikan konsep tersebut secara alami, seperti Gia.


ika Anda adalah seorang foodie yang tinggal di Jakarta, nama Gia seharusnya tidak terdengar asing. Sejak berdiri pada 2015, Gia telah dikenal sebagai salah satu restoran dan lounge Italia modern yang paling sukses di ibukota. Terletak di Sampoerna Strategic Square dengan arsitektur bergaya Italia abad pertengahan, Gia telah mendapatkan banyak penghargaan seperti “Best Restaurant Design of the Year” dari Asia Pacific Design Awards 2015, lalu “Best Hospitality Interior of the Year” dari Belle Coco Republic Interior Design Awards 2015, kemudian “Best International Design of the Year” dari Australian Interior Design Awards 2015, dan “Best Restaurant” pada Taste of Dubai 2019. Gia telah membuka outlet baru di Dubai pada 2018, dan saat ini mereka tengah mempersiapkan konsep osteria terbarunya di Pacific Place yang akan segera dibuka untuk public. 


Gia dipimpin oleh Executive Chef kelahiran Tuscany, Tommaso Gonfiantini, yang telah berkeliling dunia untuk menyebarkan cintanya pada masakan Italia. “Masakan Italia lebih pada soal bahan baku. Jika Anda mengunjungi Italia, cobalah caprese (salad) klasik yang terdiri dari mozzarella, tomat, basil, sedikit olive oil, lada, itu saja! Namun kami menggunakan tomat yang dipetik pada waktu panen terbaik, kami juga menggunakan extra virgin olive oil terbaik. Ini adalah makanan terbaik yang bisa Anda dapatkan di Italia!”


ada dasarnya, Gia menawarkan semua masakan yang bisa Anda temukan di Italia. “Kami menghadirkan masakan Italia kontemporer yang didasarkan pada resep klasik, namun digabungkan dengan teknik masak kontemporer, dan disesuaikan dengan pasar lokal, karena 90% pengunjung kami adalah orang Indonesia,” kata Tommaso.


ang Chef menambahkan, “Anda tidak bisa hanya menyajikan yang Anda suka dengan filosofinya sendiri. Tentu, Anda butuh sebuah ide awal, namun Anda juga harus bisa beradaptasi di berbagai situasi. Di sini, orang sangat menyukai cabai pada makanan mereka. angan salah, saya suka cabai, namun ketika Anda menambahkan begitu banyak cabai, pada akhirnya Anda tidak dapat merasakan bahan-bahannya. Cabai memberikan ‘tendangan’ di mulut, namun akibatnya Anda tidak bisa merasakan perbedaan antara ikan yang baik dan yang buruk.” 


Pizza & Pasta


Tommaso menjelaskan rahasia dibalik pizza Gia. “Kami menggunakan terigu impor berkualitas, terigu 00 Italia. Kami juga melakukan proses poofing selama 1 hari, tanpa penggunaan ragi yang berlebihan. Jika perut Anda terasa kembung setelah makan pizza, itu disebabkan oleh ragi dan adonannya tidak mendapat waktu resting yang cukup. Ketika Anda memberikan waktu resting yang cukup, Anda akan mendapatkan konsistensi yang lembut sehingga membuat pizza Anda crispy dan tipis,” jelasnya.


Tentu saja, Gia bukanlah sebuah pizzeria, jadi, mereka tidak menyajikan pizza biasa seperti Margherita, Gia menghadirkan pizza gourmet. “Kami menggunakan bahan seperti chorizo, salami, sosis homemade, dan keju premium seperti burrata, pecorino romano, parmigiano, dan gorgonzola. Kami mencoba untuk menggunakan bahan terbaik yang tersedia di pasaran untuk memberikan pengalaman dining yang luar biasa.”


Untuk pasta, Gia juga membuat sendiri pasta homemade menggunakan terigu 00, telur organik, dan bahan-bahan segar lainnya. “Kami memiliki banyak varian pasta, namun semuany selalu menggunakan bahan segar. Saya tidak suka menggunakan produk beku,” tegas Tommaso.


Menu yang menjadi highlight di Gia adalah pizza signaturenya San Daniele & Burrata Pizza yang menggunakan ham San Daniele, mozzarella, burrata, dan basil. Kemudian, untuk pasta, Gia merekomendasikan Spaghetti Al Nero Alle Vongole (pasta aglio olio dengan tinta cumi, kerang, tomat, cabai dan mollica atau crumb), Cavatelli Ai Porcini, Timo e Piselli (cavatelli homemade, jamur porcini, pea hummus, keju stracciatella, thyme), dan Risotto Al Nero di Seppia, Salmone in Salsa Rosa (risotto hitam, baked salmon, pink sauce dan rice crackers). Untuk dessert, rekomendasinya adalah Cremoso Al Burro di Arachidi (pudding peanut butter, dark chocolate lembut, honeycomb, dan saus karamel).


Kebanyakan orang Italia selalu membanggakan masakan nenek mereka, dan Tommaso adalah salah satunya. “Untuk Cremoso Al Burro di Arachiditiramisu, saya menggunakan resep nenek saya. Tidak ada yang istimewa, namun tiramisu sudah enak apa adanya. Banyak yang melakukan dekonstruksi dengan berbagai cara karena tren, namun mereka tidak bertahan lama, begitu juga dengan tren sous vide dan spherification beberapa tahun lalu.”


Sebagai tambahan, Chef Tommaso juga memberitahu rahasianya untuk menilai kualitas sebuah restoran. “Pada banyak kasus, menu merupakan cerminan dari tempat. Bahkan sebelum mencicipi makanannya, saya bisa mengetahui kualitas tempatnya. Mulai dari hasil printnya, kata-kata yang digunakan, kesalahan eja, dan kebersihan. Ketika melihat menu, saya bisa mengetahui karakter chef dan managernya. Menu restoran mirip seperti kartu nama, tadi Anda memberikan kartu nama dengan cara yang sangat hormat. Kartu nama Anda juga bersih, artinya Anda menyimpannya di kotak dengan baik, Anda ingin memberikan kesan yang baik mengenai diri Anda. Chef adalah wajah dari sebuah restoran, jadi ketika saya memberikan menu, saya mempersembahkan diri saya. Saya ingin orang-orang mendapatkan kesan yang baik soal diri saya.”



GIA RESTAURANT

Jl. Jend. Sudirman No.Kav 45-46, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan 12930

Phone: +6221 5795 3300, www.ismaya.com/eat-drink/gia

0 0
Feed