crk

Bertahanlah!

Apapun bidang yang Anda geluti, bisa dipastikan bahwa pandemi covid-19 telah mempengaruhi cara Anda berbisnis saat ini. Chef Rahmat Kusnedi, Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA) sekaligus Kaprodi Seni Kuliner Pradita Institute memberikan pandangannya soal dampak sekaligus langkah antisipasi yang sebaiknya dilakukan para pelaku industri.

Seberapa besar pengaruh pandemi ini terhadap industri?


Secara garis besar, ini adalah situasi yang tidak diharapkan siapapun, dalam bentuk apapun, entah itu di dunia industri, pendidikan, atau kesehatan. Ini adalah virus yang mematikan bagi semua, tidak hanya untuk keselamatan jiwa, namun juga perekonomian. Saya khawatir aka nada efek domino. 


Secara global, bisnis bergantung pada kondisi geografis suatu negara. Namun pada akhirnya, dampak global akibat lockdown tidak hanya berefek pada manusia, tapi juga pada ekonomi. Hanya beberapa sektor yang masih aktif, tentu yang berhubungan dengan kebutuhan pokok, seperti bisnis makanan. Karena dalam kondisi lockdown bagaimanapun, orang masih butuh makan.


Lalu bagaimana dengan dampaknya ke industri restoran, bakery & café?


Ini hitungannya sudah bukan koreksi lagi, karena pada koreksi kita bicara soal penurunan 10-20%, saat ini mungkin istilah yang lebih tepat adalah terjun bebas. Banyak pihak yang mengalami penurunan pendapatan hingga lebih dari 50%, bahkan yang memiliki usaha di mal penurunannnya hingga 90%, karena mereka hanya boleh takeaway.


Mereka yang usahanya sudah dikenal mungkin bisa berjualan melalui aplikasi, namun bagi para pengusaha baru yang belum dikenal, situasinya jauh lebih sulit. Ada beberapa biaya operasional yang terus berjalan, seperti listrik, air, utility, dan gaji karyawan. Pengusaha tidak bisa seenaknya memecat karyawan. Untuk restoran kecil, mungkin biaya overheadnya tidak terlalu besar, namun bagaimana dengan hotel? Generator mereka harus tetap aktif, ada public area yang tidak bisa ditutup. Karena menggunakan sistem sentral, meski okupansi hanya hotel 5%, hotel harus tetap beroperasi.


Di sisi lain, ada peluang bagi mereka yang dari awal sudah mendesain usahanya untuk bergerak secara online. Bahkan, usaha-usaha berbasis onlinelah yang saat ini bisa tumbuh, sementara bisnis offline seperti di mal, ruko, akan mengalami kesulitan.


Saat ini banyak terjadi unpaid leave, bagaimana pandangan Anda?


Ini adalah salah satu cara yang digunakan perusahaan ketika mereka harus terus mengeluarkan biaya, sementara pendapatannya tidak ada. Yang biasa mereka lakukan adalah menghabiskan jatah cuti tahunan terlebih dahulu, baru menerapkan unpaid leave. Ini hal yang legal, di Ketenagakerjaan ada Undang-Undangnya, mengingat ini adalah situasi force majeure, pandemi global.


Pemerintah memberikan beberapa stimulus, seperti penundaan kredit. Di sisi lain, UMKM sangat terpukul. Jangankan untuk membayar cicilan, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan, sementara karyawan harus tetap digaji. Karyawanpun memiliki beberapa biaya yang harus dibayar setiap bulan, seperti yang sekolah, sewa rumah, makan. Hal-hal seperti ini harus diperhitungkan dari sisi pemerintah, pengusaha, dan karyawan.


Ada banyak perusahaan yang tidak merancang cashflownya untuk beberapa bulan ke depan. Mereka yang sudah menyiapkan cashflow untuk 6 bulan ke depan mungkin masih aman, dengan catatan bulan ke-5 setelah pandemi, situasi sudah mulai normal, masalahnya, tidak ada yang tahu kapan pandemi ini berakhir.


Bagaimana adaptasi yang dilakukan perusahaan?


Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari pandemi, bisa dibilang, peristiwa ini mengubah segala sesuatu secara terpaksa. Contohnya saja pendidikan online, kita bisa karena dipaksa dan terpaksa. Namun, tentu tidak semua sektor pendidikan bisa melakukan ini, contohnya saja bidang pariwisata dan kuliner. Apakah mungkin belajar masak secara online? Untuk sekolah bisnis yang prakteknya hanya sekitar 20%, mungkin hal ini tidak masalah, namun di pariwisata, minimal 60%nya adalah praktek. 


Untuk industri F&B, banyak pelaku usaha yang mengarah ke penyediaan makanan ready to cook. Katakanlah Anda memesan steak, Anda akan mendapatkan daging, sayuran dan bumbu. Anda tinggal memanggang daging dan memanaskan sayur dan sausnya. Model bisnis semacam ini sebetulnya sudah ada sejak sekitar 5 tahun lalu, namun pandemi memaksa kita untuk memikirkan terobosan semacam itu. Model bisnis akan berubah dengan sendirinya.


Jika kita fokus pada industri pastry, apa antisipasi yang dilakukan para pelaku usaha?


Pada intinya, tidak mudah bagi sebuah bisnis untuk berubah. Untuk pastry, salah satu tantangan terbesarnya adalah di sisi delivery. Infrastruktur yang ada saat ini belum mendukung. Untuk pengantaran produk pastry yang ringkih seperti cake, tidak semua jasa makanan online bisa melakukannya, mungkin hanya beberapa bakery berkelas butik. Salah satu fokus para pengusaha saat ini adalah meminimalisir waste, sehingga mereka mulai memprioritaskan pada produk yang tahan banting seperti roti dan pie, sementara produk-produk seperti cake mungkin ditangguhkan sementara.


Menurut pengamatan saya, bisnis yang saat ini aktif adalah yang sifatnya memenuhi kebutuhan lingkungan sekitar. Jika Anda tinggal di cluster, mungkin Anda bisa menyediakan menu makan siang, makan malam untuk penduduk di cluster Anda, ini yang lebih efektif. Memang, pasarnya tidak besar, namun untuk sekadar bertahan hidup, bisnis lokal ini bisa dilakukan.


Anda mengalami kesulitan mendapatkan produk dari supplier?


Sudah pasti, tidak usah ditanya lagi itu. Impor tidak bisa sembarangan, saat ini birokrasinya semakin sulit. Tidak usah jauh-jauh, jika Anda perhatikan beberapa saat lalu, etalase produk dairy di supermarket sempat kosong kan?


Apa pesan Anda untuk para pelaku industri pastry?


Apapun yang bisa kita pertahankan, bertahanlah! Saat ini yang bisa kita lakukan mungkin hanya bertahan, bukan penetrasi pasar. Ciptakan model bisnis yang kreatif, yang bisa mengakomodasi lingkungan sekitar saja terlebih dahulu. Tidak usah fokus ke pasar global, lupakan ekspansi, bertahan hidup saja dulu karena ekspansi pada saat seperti ini bisa dibilang bunuh diri.


Jika kita bisa kreatif dalam bertahan, kesempatan untuk ekspansi akan datang dengan sendirinya. Jadi, bagi mereka yang bisa bertahan, bertahanlah, tentu yang bisa mengukur kemampuan untuk bertahan adalah para pemilik. Jika Anda bisa bertahan dalam situasi ini, prospek ke depan tentu akan lebih mudah, sementara mereka yang tumbang di pandemi ini, sepertinya akan mengalami kesulitan untuk bangkit lagi.



0 0
Feed