Chef Yudi Bulldog

Berjuang Untuk “Greater Good”

Dikenal sebagai juru masak handal dan juga Mangku (pemuka agama Hindu Bali), Chef Gede Yudi hidup di dua ‘dunia’ yang sesungguhnya saling berkelindan dan melengkapi satu dengan lainnya. Bagaimana kesibukan pria asli Bali ini selama menghadapi masa pandemic COVID-19? Dan bagaimana ia menemukan inspirasi di tengah ketidakpastian? Simak perbincangan kami dengannya berikut...

Kami sangat terkesan dengan rutinitas anda mengangkat budaya serta masakan Bali melalui channel youtube dan facebook pribadi anda. Apakah tantangan terbesar yang pernah anda lalui selama melakukan hal tersebut ?


• SDM / Sumber Daya Manusia Terutama dalam hal komunikasi; khususnya Bahasa Inggris. Generasi muda di Desa saya masih sedikit yang punya semangat untuk belajar, berjuang, berusaha, kurang menghargai diri sendiri, kadang-kadang masih ada rasa ‘ewuh pakewuh’ (sungkan) juga 


• Standarisasi Standar panen hasil bumi pertanian maupun peternakan. Jika harga sedang melambung kadangkala petani akan memanen sebelum waktunya sehingga hasilnya tidak maksimal serta mempengaruhi konsistensi rasa, warna, ukuran dan lain sebagainya, sehingga tanpa disadari akan merusak nama baik petani tersebut sendiri di pasaran


Apa foto terakhir yang anda ambil dengan kamera ponsel anda? Adakah cerita di baliknya?


Foto saya tengah memasak pepes ikan belut laut dengan cita rasa bumbu Bali dan daun tenggulun sebagai penambah aromatik. Selama himbauan dari Pemerintah masih mengurangi aktivitas keluar rumah, maka saya setiap hari mengulik / menggali / mencoba resep masakan tradisional di desa lewat cerita dari saudara-saudara di Desa, dimana makanan tersebut sudah hampir ditinggalkan karena penampilan dan sebutannya mungkin kurang keren bagi mereka. Nah, masakan tersebut saya coba bangkitkan kembali dengan metode proses pembuatan secara tradisional, mulai dari bahan hingga cara memasaknya. Kebetulan saya memiliki “Dapur Bali Mula” yang memang tujuannya untuk mencoba mengangkat serta memperkenalkan makanan tradisional khas desa Bali, khususnya Desa kelahiran saya, Les ,yang kaya akan potensi alam serta kuliner yang sangat baik untuk daya tarik pariwisata.


Bagaimana kiat anda untuk menyesuaikan diri dengan situasi pandemic COVID-19 saat ini, terutama dari segi bisnis kuliner? Bagikan bagi para pembaca kami...


Saya belajar untuk mensyukuri dan menyikapi situasi ini. Karena pasti ada hikmah dibalik semua ini, jadi saya belajar membuat makanan rumahan bercita rasa nusantara khususnya Bali. Dengan memakai bahan baku dari desa dan sekitarnya, saya bisa membantu saudara-saudara di desa untuk bisa menjualbelikan hasil bumi & laut demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari melalui teman-teman yang ada di kota; baik yang telah berbentuk frozen food (makanan beku) serta dipasarkan secara online.


Sebutkan dua tempat wisata di Bali yang ingin anda kunjungi setelah masa pandemi berakhir 


• Pura Batur, untuk berdoa , mengucapkan Puji Sayaukur atas segala KaruniaNya, dan juga mengajak anak serta keluarga agar selalu ingat untuk mendekatkan diri kepadaNya.


• Tempat Wisata yang memiliki sarana permainan dan serta pengetahuan untuk anak-anak; seperti binatang, alam, tumbuh umbuhan dan lainnya, karena sampai saat ini saya masih harus membujuk anak-anak saya untuk tidak keluar rumah karena situasi COVID-19, dan menemani mereka dari pagi hingga malam hari , bermain dengan sarana seadanya.


Anda juga dikenal sebagai Mangku (Pendeta Hindu). Bagaimana kiat anda untuk membagi waktu antara bisnis, keluarga dan peran sebagai pemimpin spiritual?


Saya selalu memberikan pengertian kepada keluarga khususnya anak-anak bahwa tugas utama saya adalah menjadi Pemangku Adat, yang sudah menjadi takdir saya. Sampai sekarang anak atau keluarga tidak pernah menuntut jika sewaktu-waktu jadwal liburan atau acara keluarga tiba-tiba berubah karena ada tugas mendadak di adat, karena keluarga saya tahu dan menyadari bahwa tugas saya di adat itu tidak hanya untuk saya pribadi dan keluarga melainkan untuk keselamatan semesta beserta isinya , karena tugas saya memimpin doa / persembahan umat yang ditujukan kepada Tuhan yang Maha Esa. Begitu juga dengan kewajiban saya sebagai owner Warung Sunset Chef Yudi! Saya akan melakukan kewajiban mengurus Warung jika tidak ada tugas adat, teman, atau tamu yang mau berkunjung. Begitu pula kegiatan saya di Dapur Bali Mula. Sebelum mereka berangkat ke Desa, saya selalu mengirimkan jadwal kegiatan adat saya supaya mereka bisa memilih hari dimana saya memiliki waktu luang, namun terkadang ada juga tamu yang tertarik untuk melihat aktivitas saya sebagai Mangku dari pagi hingga sore hari, ya intinya saya selalu bilang apa adanya kepada mereka


Apakah ada skill / keahlian di luar memasak yang sempat anda kulik / eksplor di periode #stayathome saat ini? Jelaskan sedikit bagi pembaca kami!


Saya lebih punya waktu untuk memetakan potensi yang ada di sekitar desa dengan jalan pagi bersama keluarga sambil melihat apa yang bisa kita olah menjadi obyek atau daya tarik wisata, termasuk mencoba menanam tumbuh-tumbuhan yang bisa dipake bahan makanan dan memiliki khasiat kesehatan bagi tubuh kita. Membuat Arak - juruh (gula merah ) cuka yang terbuat dari nira lontar, mengumpulkan dan membangun kembali bangunan tua peninggalan Leluhur yang memiliki nilai pengetahuan luar biasa; serta mengumpulkan perabotan / benda bersejarah yang memiliki nilai dan cerita tersendiri.


Apa harapan anda ke depan?


Harapan saya ke depan adalah bisa membangun Pariwisata berbasis kearifan lokal, Baik dari segi kuliner, arsitektur, kesenian maupun budaya yang dimiliki oleh masing-masing Desa itu sendiri. Karena menurut saya, dengan konsep ini pembangunan di desa bisa lebih dirasakan oleh banyak orang, terutama penduduk Desa itu sendiri serta para pelaku Pariwisata lokal, dan juga bisa memasarkan hasil Bumi / pertanian tanpa harus selalu ke kota, karena hasil bumi tersebut juga bisa dipakai untuk sarana ketahanan Pangan. “Gemah Ripah Loh Jinawi “; itu harapan saya ke depannya.


Instagram: @warungsunset_chef_yudi


0 0
Feed