Anticipating The Internet Era (Part 1)

We’ve come to the best online shopping era for customers. With the inception of various new websitse and e-commerce services, they are fighting for their own market share. One of the most easiest and popular promotion strategy for most Indonesians is definitely discount. We met Chef Rahmat Kusnedi, The President of Indonesia Pastry Alliance (IPA) to understand how should we see the online business development.

How do you see the online shopping phenomenon lately?

Online business is not entirely new in Indonesia. However, if previously people are selling retail goods, now online business started to reach food and restaurant business. The problem is, when there’s no one dominating the business, the nature of the business would be to kill each other.

Small business entities are low cost and low profit, when they become big, it will be hi cost, but still low profit in the beginning. For instance, the conversion of Matahari into In its offline business, they have rental cost, COGS, salary, utility cost, etc, meanwhile in online shopping, the shipping cost is on the customers.

However, it’s not the only thing that’s causing lower price in online shops. Let’s take a cellphone worth Rp 10 million for example, how come online shop sells it for Rp 8 million? If you reduce the marketing, rental cost, etc, you can only cut, let say Rp 1 million, the rest will be covered by the service provider (such as Go Pay or OVO). All online business suffer loss in the beginning, event Matahari is said to burn away trillions rupiah.

Another example is OVO, in the beginning, they give many benefits, such as free parking, 30% discount in many places. They will start to gain profit when they reach certain amount of users. As a cashless system, imagine if all of its user are doing the top up, there’s lot of cash flow getting into the appointed bank, it’s like some sort of programmed capitalism, but it’s invisible.

It seems like the competition among the investors is very fierce? 

Online businesses tend to kill each other, let’s say the online transportation. In the beginning, Gojek, Grab and Uber are competing in giving the best price that disturbed the existence of conventional taxi companies. When Uber was out and Gojek and Grab keep on growing, the price wasn’t as low as it was. The thing about the business is, who grow the most, they will rule the game, and they’re willing to suffer huge loss in the beginning. When they no longer have any competitions, they can do as they’d like.

How does it relate to food business?

Most people only see the technology, people love ordering food from Go Food and GrabFood for their practicality, especially for people with high mobility. Restaurants work together with service provider to give discounts, the problem is, not all food can go online.

For example, in coffee business. If you have spare time, of course you’d prefer to socialize in coffee shops, especially for true coffee lovers. But, for coffee addicts with high mobility, they wouldn’t mind using the delivery service, even though the coffee is no longer hot, or the ice has melted when it arrived.

For people in F&B industry, it’s a good opportunity because they can have programmed sales to push the production cost, but it will cause problem when you want to expand the business. Let say, an online business can have 10 orders per day, if they have 100 orders tomorrow, can they meet the demand? Of course, the conventional business is more prepared in term of stock management.

How about products that need special handling like ice cream and cake? Not all service providers have proper handling system. For example, Harvest have special cool delivery box for their cakes, and then Hoka-Hoka Bento or Pizza Hut have special box that can keep the heat to ensure the products reach the customer in proper condition. If you force yourself to send cake using online service provider, there’s a big chance that the product won’t be in good condition.

If the customer receives product in bad condition, who will they blame? 

Of course, the seller, not the online service provider. They just don’t care. Therefore, you need to carefully plan the communication to customers since beginning. You can warn them beforehand, or you can sell the products that don’t need special handling. Sometimes, home industries are using these services for all products, even if it’s not suitable, it will tarnish the reputation of the business.

What sort of foods are best to be sold online? 

Definitely fast food, because they already have solid business chains. If you’re living in Pluit and ordering food in Ciledug, the shipping cost would be too high. It’s a different case when you order in, let say PHD, they will appoint their nearest outlet to deal with the customers, that’s why they can ensure that their products can reach the customers within certain amount of time.

Is it wise to use current market situation as base for long-term business in the future? 

No. Back to the beginning, our society is very discount-minded. So far, the customers are the ones that get the benefit with loads of discounts, but, when there are less competitors, the price will slowly escalate. I have to admit, the Internet gives access for everyone to build business and help them in marketing, but there are some weaknesses you need to pay attention for.

One of them is about the tax. Until today, online transaction is taxfree, it’s one of the reason people can sell it cheaper. If you were to shop in supermarkets and restaurants, you will be taxed. Of course the government won’t stay quiet when they see the cash flow that might reach trillion of rupiahs in the business.

On the other hand, it’s the government weakness because the fact is; we haven’t have any regulation on the issue. When the electronic money started to gain popularity through E-toll, we had a viral case when a lawyer sued the government to force cashless payment to the citizen. Legally speaking, the valid paying system is with rupiah, whether it’s paper or coin, if you reject rupiah, it’s like saying rupiah isn’t legitimate. Now, of course the government has prepared the revisions for the regulation in this case.


Kita telah sampai pada era belanja online yang paling menguntungkan bagi konsumen. Dengan kemunculan berbagai macam website dan layanan e-commerce baru, mereka semua berebut ceruk pasar masing-masing. Salah satu cara promosi yang paling mudah dan disukai mayoritas orang Indonesia tentu adalah diskon. Kami menemui Chef Rahmat Kusnedi, Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA) untuk mengetahui bagaimana sebaiknya kita menyikapi geliat bisnis online ini.

Bagaimana Anda melihat fenomena belanja online belakangan ini?

Bisnis online di Indonesia sebetulnya dibilang baru sekali ya tidak juga. Namun, jika sebelumnya barang yang sering diperjualbelikan online adalah barang yang sifatnya retail, kini bisnis online mulai merambah industri makanan dan resto. Masalahnya adalah, ketika sebuah bisnis online ini belum ada yang mendominasi, sifat persaingan bisnis ini cenderung seperti saling bunuh.

Sebuah bisnis kecil merupakan sesuatu yang low cost dan low profit, ketika dibesarkan, bisnis online akan menjadi hi cost, namun awalnya masih low profit. Sebagai contoh adalah konversi Matahari menjadi Pada bisnis offline, terdapat yang namanya sewa tempat, harga pokok, gaji pegawai, utility cost dan berbagai komponen cost lain, sementara pada belanja online, ongkos kirimnya dibebankan ke pembeli.

Namun, bukan hanya itu yang menyebabkan harga jual online lebih murah. Kita ambil contoh sebuah handphone yang dijual seharga Rp 10 juta, mengapa online bisa menjualnya Rp 8 juta? Jika kita kurangi biaya marketing, sewa, dan biaya lain dari bisnis offline, mungkin harga hanya bisa turun sekitar, katakanlah Rp 1 juta, sisanya akan disubsidi oleh penyedia jasa (seperti Go Pay atau OVO). Semua usaha online pasti rugi di awal, bahkan Matahari saja kabarnya membuang uang triliunan.

Kita ambil contoh OVO, awalnya mereka memberikan berbagai keuntungan, seperti parkir gratis, diskon 30% di berbagai restoran. Mereka baru akan mendapat keuntungan ketika mencapai jumlah pengguna yang telah ditentukan. Sebagai sistem cashless, bayangkan saja jika banyak pengguna yang melakukan top up, ada perputaran mengendap yang masuk ke bank yang telah ditunjuk, ini menjadi seperti sebuah kapitalisme yang terprogram, namun tidak terlihat.

Sepertinya persaingan antar pemodalnya begitu kuat? 

Bisnis online itu sifatnya bunuh-membunuh, contohnya saja bisnis angkutan online. Awalnya Gojek, Grab, dan Uber saling bersaing memberikan harga termurah sehingga mengganggu kelangsungan usaha taxi konvensional. Ketika Uber kalah bersaing sementara pengguna Gojek dan Grab terus bertambah, harganya tidak lagi semurah dulu. Prinsip bisnis ini adalah, siapa yang lebih dulu menggurita, dia yang akan menguasai persaingan, dan mereka berani untuk rugi di awal untuk itu. Ketika mereka tidak memiliki pesaing, maka mereka bisa perbuat apapun yang mereka inginkan.

Lalu bagaimana kaitannya dengan bisnis makanan?

Kebanyakan orang hanya melihat sisi teknologinya saja, mereka suka pesan makanan melalui Go Food dan GrabFood karena praktis, terutama untuk mereka yang mobilitasnya tinggi. Restoran bekerja sama dengan penyedia jasa untuk memberikan diskon bagi para pelanggan, masalahnya adalah, tidak semua makanan bisa dionlinekan.

Sebagai contoh, pada bisnis kopi. Jika memiliki waktu luang, tentu orang akan lebih suka bersosialisasi di coffee shop, terutama bagi para penikmat kopi sejati. Namun, bagi mereka yang sudah menjadi pecandu kopi dengan mobilitas tinggi, mereka tidak masalah menggunakan jasa delivery, meskipun ketika sampai, kopinya tidak lagi panas, atau esnya sudah mencair.

Bagi pelaku industri F&B, tentu ini merupakan peluang karena bisa jualan secara terprogram sehingga biaya produksi bisa ditekan, namun ini akan menyulitkan ketika mereka ingin ekspansi. Contohnya, jika pebisnis online biasa mendapatkan 10 order per hari, jika besok ada 100 pesanan, apakah mereka sanggup memenuhinya? Tentu ini berbeda dengan industri konvensional yang lebih siap dari sisi manajemen stok.

Lalu bagaimana dengan produk lain yang membutuhkan penanganan khusus seperti es krim dan cake? Tidak semua bisnis online memiliki fasilitas penanganan yang baik. Contohnya, Harvest memiliki box pendingin untuk cake mereka, lalu Hoka-Hoka Bento atau Pizza Hut memiliki box yang dapat memastikan produk sampai ke konsumen dalam kondisi masih panas. Jika Anda memaksakan diri mengirim cake dengan jasa angkutan online, kemungkinan besar produk akan rusak.

Menurut Anda, jika barang sampai dalam keadaan rusak, siapa yang akan disalahkan konsumen? 

Tentu penjual, bukan penyedia jasa online. Pelanggan tidak mau tahu. Oleh sebab itu, harus diperhitungkan komunikasi dengan konsumen sejak awal. Anda bisa memperingatkan konsumen terlebih dahulu, atau bisa menjual produk yang bisa dikirim oleh angkutan online. Terkadang, banyak usaha rumahan menggunakan jasa semacam ini untuk semua produk, padahal jika produknya tidak sesuai, ini malah akan menghancurkan reputasi bisnis itu sendiri.

Makanan seperti apa yang cocok dijual  online? 

Yang pasti adalah fast food, karena mereka telah memiliki jaringan bisnis yang sudah terbentuk. Jika Anda tinggal di Pluit dan ingin memesan makanan di Ciledug, tentu ongkos kirimnya menjadi sangat tinggi. Berbeda jika Anda pesan di katakanlah, PHD. Mereka akan mengarahkan pada outlet PHD terdekat dari lokasi pelanggan, oleh sebab itu mereka bahkan bisa memberi jaminan bahwa makanan akan sampai di konsumen dalam jangka waktu tertentu.

Apakah bijak menggunakan situasi sekarang sebagai basis untuk bisnis jangka panjang di masa depan? 

Tidak. Kembali lagi, masyarakat kita sifatnya masih terpaku pada diskon. Sejauh ini, konsumen masih diuntungkan dengan begitu banyaknya diskon, namun ketika persaingan semakin sedikit, tentu harga perlahan akan naik. Harus diakui, online memudahkan orang untuk membuat bisnis dan membantu dalam pemasaran, namun masih ada beberapa kelemahan yang harus diperhatikan.

Salah satunya adalah soal pajak. Hingga saat ini, transaksi online masih belum dikenakan pajak, oleh sebab itu harganya bisa sangat bersaing. Jika Anda belanja di supermarket atau restoran, Anda sudah dikenai PPN. Tentu pemerintah tidak akan tinggal diam jika mereka mulai melihat perputaran uang di bisnis ini yang bisa mencapai triliunan.

Namun di sisi lain, ini merupakan kelemahan bagi pemerintah karena memang belum ada undang-undang yang mengatur. Pada waktu uang elektronik mulai populer dalam wujud E-toll, sempat viral seorang pengacara yang menuntut pemerintah karena memaksakan pembayaran cashless. Secara undang-undang, alat pembayaran sah adalah rupiah, dalam bentuk uang kertas dan koin, jika ditolak, ini seperti menganggap rupiah tidak sah. Sekarang, tentu pemerintah telah menyiapkan revisi undang-undang dalam kasus ini.