Anticipating The Internet Era (Part 2)

If you think onlines business as temporary trend, perhaps you need to think twice. Indonesia is noticed as the country with highest e-Commerce growth in the world, and the Bloomberg research said that in 2020, more than half of our population will be involved in e-Commerce activities. Like an incoming big wave, you only have 2 options: drown or surf on top of it. Chef Rahmat Kusnedi (CRK), The President of Indonesia Pastry Alliance (IPA) shared some of his opinion further on the development of online business, especially in the realm of F&B.


Who actually gets the most benefit by Internet existence in F&B business?

Online doesn’t belong just to new players, actually old players share the same opportunity. However, of course creative people are the ones that get the real benefit, especially millennials who grew up with gadgets, I’m sure they’re faster than the older generations. Based on my observation, if you see old players which are active Internet, you’ll see that it’s actually driven by their children. Most of online entrepreneurs are new practitioners, from students, and those who just got their first jobs. I haven’t got the exact numbers, but it will be interesting if people survey the data, especially if you need a topic for a thesis.


What sort of food that can’t be sold online?

The ones that required special handling, actually, it’s not that they can’t be sold online, it’s just we can’t guarantee their quality. When people fail to guarantee the quality, they will lose trust, without trust, businesses can’t grow. One of the examples is ice cream or gelato, when it reached the customer, will it still be frozen? Meanwhile for products that has to be made fresh, such as coffee, it’s still debatable, some love to order it online, some don’t.


The interesting thing is to see how the more idealistic players behave, like Kopi Klotok in Yogyakarta. There, they serve hot coffee with various very tasty fried foods, I won’t be surprised if I see people eat 5-6 pieces of it. The problem is, when you want to do takeway, they won’t give you any. They want their products to be enjoyed at certain condition to keep the high standards. They want customers to consume the coffee and fried foods fresh and steaming so when they tell other about the experience, it will be positive.


Does selling your product online will alter the costing structure?

Not necessarily, but one thing to note is that products that are sold online can’t have too much margin because online business tend to fight on pricing point. Let say you see a croissant sold in café for Rp 15.000, people can see the product directly to tell its size, texture, and presentation, meanwhile in Internet, you can’t sell it at the same price. Even though you can save some fixed and variable costs, like rental fee, smaller number of employees, but you will also have less margin, then what’s the difference? Costing components in offline business still exist in online business, it’s just they will have shifting percentation.


The negative side of online business, is that the product often doesn’t meet customer’s expectations, so it’s a bit like gambling. I was fooled when I bought a wallet online. In the description, it said that it’s for both men and women. After arrived, actually it was very feminine, in the end, I gave it to my daughter, otherwise I’ll be laughed off.


What sort of anticipations we should do in this Internet era?

Internet system relies heavily on network, when we have earthquake, satellite damage, or falling supporting towers, what will happen to your online business? In addition, our Internet system still depends on other countries, what if they intervene? It’s like when dollar reached Rp 15.000, we have some much business corrections. The philosophy is, the world will turn back to stone age, as written in Alquran. The sophisticated technology is not permanent, it will down one day, it’s just we’ll never know if it’s next year, 10 years, or 1.000 years. Business has to be able to run both online and offline, like you need plan A and plan B. So, I highly suggest, if you have online business, it will be better if you start thinking of the offline counterpart. We have to be able to live in 2 eras, even though I wasn’t born as millennials, I have to understand them and their technology. This way, you can find the comparison for both, which one is more profitable? I haven’t seen a report that says that online sales are significantly bigger profit. One thing for sure, there are 2 party that gets the most benefit from Internet, user and the provider, because everything you did online will consume your internet quota.


==================================================================================================================================================


Jika Anda berpikir bisnis online hanyalah tren sementara, mungkin Anda harus berpikir ulang. Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan e-Commerce tertinggi di dunia dan riset Bloomberg menyatakan bahwa pada 2020, lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat di aktivitas e-Commerce. Ibarat sebuah gelombang besar yang akan mengampiri, pilihan Anda hanya 2: terhempas atau berselancar di atasnya. Chef Rahmat Kusnedi (CRK), Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA) memberikan pandangannya lebih jauh mengenai perkembangan di bisnis online, terutama di industri F&B.


Siapa sebetulnya yang paling diuntungkan dengan kehadiran Internet di bisnis F&B?

Online bukan hanya milik pemain baru, pemain lama juga memiliki peluang yang sama. Namun, tentu yang paling diuntungkan adalah orang yang kreatif, terutama generasi milenial yang tumbuh besar dengan gadget, mereka tentu lebih cepat dibanding generasi yang lebih tua. Yang saya perhatikan, dibalik beberapa pemain lama yang aktif di Internet, biasanya yang lebih berperan adalah anaknya yang lebih kreatif. Sebagian besar pengusaha online adalah praktisi-praktisi baru, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, hingga mereka yang baru bekerja. Saya belum tahu angka pastinya, namun jika dilakukan survey sebetulnya sangat menarik, terutama jika dijadikan tema skripsi.


Makanan seperti apa yang tidak bisa dijual secara online?

Makanan yang memerlukan penanganan khusus, bukannya tidak bisa, tapi tidak terjamin kualitasnya. Ketika orang tidak menjamin kualitas, ia akan kehilangan kepercayaan, tanpa itu, bisnis tidak bisa berkembang. Salah satu contoh produknya adalah es krim atau gelato, ketika sampai di pelanggan, apakah masih dalam keadaan beku? Sementara untuk beberapa produk yang harus dibuat fresh, contohnya kopi, masih bisa diperdebatkan, ada yang suka memesan kopi online, ada yang tidak. Yang menarik adalah para pemain yang idealis seperti Kopi Klotok di Yogyakarta. Di sana kopi panas disajikan dengan berbagai pilihan gorengan yang rasanya sangat nikmat, saya tidak heran jika pelanggan di sana bisa menghabiskan 5-6 potong gorengan. Masalahnya, ketika Anda ingin beli untuk takeaway, Anda tidak akan dilayani. Mereka ingin produk mereka dinikmati dalam kondisi tertentu untuk menjaga kualitas. Mereka ingin pelanggan menikmati kopi dan gorengan dalam kondisi segar sehingga ketika ketika bercerita ke orang lain, penilaiannya positif.


Apakah menjual produk secara online mengubah struktur costing?

Tidak juga, namun satu hal yang perlu diingat, produk yang dijual secara online tidak bisa memiliki margin terlalu besar karena bisnis online berperang di pricing point. Katakanlah produk croissant yang dijual di café seharga Rp 15.000, orang bisa melihat produknya secara langsung untuk mengetahui ukuran, tekstur dan presentasinya, sementara di Internet Anda tidak mungkin menjualnya di harga yang sama. Meski ada berbagai komponen fixed cost dan variable cost yang bisa dihemat, seperti harga sewa, jumlah karyawan yang lebih sedikit, namun margin Anda juga akan berkurang, lalu apa bedanya? Komponen biaya yang ada di bisnis offline akan tetap ada di online, namun mungkin persentasenya saja yang bergeser.

Sisi negatif online adalah banyak barang yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelanggan, jadi agak mirip berjudi. Saya pernah tertipu ketika membeli sebuah dompet secara online. Di deskripsinya dibilang bahwa ini adalah dompet yang bisa digunakan pria dan wanita. Setelah sampai, ternyata ini modelnya sangat feminim, akhirnya saya berikan saja dompet itu pada anak perempuan saya daripada saya ditertawakan.


Antisipasi apa yang harus dilakukan dalam menghadapi era Internet ini?

Sistem Internet sangat bergantung pada jaringan, ketika ada gempa bumi, kerusakan satelit, atau menara pendukung yang roboh, apa yang terjadi jika bisnis online Anda? Selain itu, sistem Internet kita masih bergantung pada pihak luar, bagaimana jika ada intervensi asing? Ketika dolar menyentuh Rp 15.000 saja ada begitu banyak bisnis yang mengalami koreksi. Filosofinya adalah, dunia ini akan kembali ke jaman batu, sebagaimana tertulis di Alquran. Kecanggihan dunia ini tidak akan kekal, suatu saat akan hancur, hanya saja kita tidak tahu apakah tahun depan, 10 tahun, atau 1.000 tahun lagi.


Bisnis harus bisa berjalan baik online maupun offline, sama seperti ketika Anda butuh plan A dan plan B. Jadi, saran saya, jika Anda memiliki bisnis online, tidak ada salahnya jika Anda mulai memikirkan bisnis offline juga. Kita harus mampu hidup di 2 jaman, meski saya tidak terlahir sebagai milenial, saya harus memahami mereka dan teknologinya. Dengan cara ini, Anda akan memiliki pembanding antar keduanya, mana yang lebih menguntungkan? Belum ada riset yang membuktikan bahwa penjualan online memiliki perbedaan keuntungan yang signifikan lebih tinggi. Yang jelas, ada 2 pihak yang akan selalu diuntungkan dengan kehadiran Internet ini, pelanggan dan provider, karena semua hal yang dilakukan online akan selalu menyedot kuota Internet Anda.

0 0
Feed