[ID] - Addicted to That Rush

Keraton at the Plaza, a Luxury Collection Hotel, Jakarta, menunjuk seorang General Manager baru. Tentunya, sebagai majalah F&B, biasanya Passion tidak akan meliput General Manager. Namun kami berubah pikiran ketika kami mendengar kabar mengenai Cora Stuart, General Manager baru Keraton, satu dari sedikit General Manager wanita di industri ini, ia juga berhasil mendapat gelar “The Best General Manager” oleh majalah Hotelier Middle East di 2009. Berikut interview kami dengan wanita Singapura pecinta olahraga dan pola hidup sehat.


Bagaimana Anda memulai karir di industri ini?
Saya memulai karir di F&B sebagai Supervisor di restoran all-day dining dan sangat “lapar” untuk belajar, saya bekerja sangat keras dan diangkat menjadi Asisten Manajer meski saya masih sebagai pekerja magang. Kemudian saya dipromosikan menjadi Manajer sebuah restoran. Saya tidak bisa berhenti dan merasa harus mengubah fokus untuk menumbuhkan pemahaman saya untuk menjadi seorang hotelier. Secara kebetulan, salah satu mentor saya menawarkan posisi di Sales & Marketing yang ia rasa cocok untuk saya. Saya tidak pernah membayangkan bergabung di tim Sales & Marketing, namun energi, semangat, dan jiwa kompetitif saya ketika dihadapkan dengan tantangan adalah bukti bahwa saya merupakan kandidat baik di sales. Saya rasa ia benar karena ia benar, karena akhirnya saya memulai karir selama 17 tahun di Sales & Marketing, mulai di The Westin Stamford, Westin Plaza di Singapura, Shangri-La Singapura, Ritz-Carlton Singapura, Boston, Bahrain, Bvlgari Bali di berbagai posisi dan perusahaan sebagai General Manager dan COO regional dan grup.

Saya dengar Anda memiliki pencapaian besar di Timur Tengah.

Pada 2006, ada sebuah tawaran kerja di Dubai. Itu merupakan saat booming dan Dubai merupakan destinasi menarik dan menjanjikan bagi para hotelier. Saya mendapat peran Hotel Manager di The Address, sebuah hotel yang sangat indah dan sukses. Setelah 2 tahun saya pindah ke sebuah hotel independen, Media One Hotel. Saya ditunjuk sebagai General Manager di sana. Itu merupakan hotel yang sangat independen; tidak ada kantor korporat- hanya saya dan tim yang membuat konsep untuk semuanya dan menjadikannya kenyataan. Saya selalu berkembang di situasi yang menantang, dan saya belum pernah bekerja di hotel independen sebelumnya, jadi tentu saya terima tantangan tersebut. Dengan pengalaman 17 tahun di Sales & Marketing dan terdorong oleh tantangan dan krisis finansial terberat dalam karir, saya dan tim saya menciptakan pengalaman unik dan keren di Media One Hotel dan kami berhasil memenangkan berbagai penghargaan, salah satunya “General Manager of the year untuk Timur Tengah” oleh Majalah Hotelier. Saya percaya dalam kesulitan, Anda dapat menciptakan hasil yang luar biasa. Hingga hari ini, hotel tersebut masih memenangkan penghargaan meski berhadapan dengan brand-brand terkenal di industri perhotelan.

Apa saja tantangan bekerja di hotel independen?
Tentu ada sisi positif dan peluang. Positifnya, Anda bisa membuat keputusan dengan cepat, dan dapat langsung diimplementasikan; Anda tidak perlu berkonsultasi melalui banyak lapisan. Anda juga bisa lebih mendapat “lisensi” dan ruang untuk menjadi kreatif. Saya rasa itulah alasan mengapa hotel tersebut mendapatkan begitu banyak penghargaan. Media One bukanlah hotel mewah, bahkan bukan sebuah hotel bintang 5, namun kami berhasil mengalahkan hotel mewah bintang 5 lain. Kami menembus batasan dan banyak melakukan hal menyenangkan dan unik di sana untuk menciptakan “buzz” sehingga orang-orang memperhatikan kami.

Contohnya?
Salah satu ide unik kami adalah – kami menawarkan tamu untuk merawat sebuah ikan mas di akuarium selama mereka di sana. Itulah fasilitas VIP mereka. Kami juga menawarkan boneka beruang raksasa untuk tamu yang tinggal sendir dan berkata, “inilah teman Anda selama di sini.” Hal menyenangkan semacam itu. Mereka tidak membutuhkannya, namun mereka menghargai usaha kami untuk melanggar aturan hotel pada umumnya. Para tamu kemudian memotretnya dan ini menjadi sesi yang instagrammable, bahkan sebelum Instagram diciptakan. Para tamu menghargai kepercayaan diri kami yang unik, mereka seperti, “wow, ini unik!” Orang kemudian membicarakan keunikan kami dan merasa kami fun.

Bisa Anda jelaskan sedikit tentang pekerjaan Anda sebagai General Manager hotel?
Ada banyak hal faktor di peran GM. Kami memiliki beberapa indikator prestasi, namun semuanya mengenai cara memenuhi ekspektasi tamu, investor, staf, brand, dan perusahaan. Semuanya berhubungan satu sama lain, seperti ketika Anda memperhatikan kesejahteraan staf dan memastikan mereka bahagia, mereka akan melayani para tamu dengan baik.
Semua hotel indah kan? Bedanya, bisakah Anda terhubung dengan tamu dan menciptakan momen tak terlupakan sehingga mereka memiliki alasan kuat untuk memilih Anda dan meski ada banyak hotel bagus di tempat lain, mereka tetap kembali pada Anda karena Anda menawarkan kehangatan yang tulus. Pada akhirnya, hal ini akan memberikan imbal balik bagi para investor Anda, dan kesemua hal ini mendorong performa perusahaan. Itulah pekerjaan GM, menjaga keseimbangan semua prioritas-prioritas ini.


Mengapa jabatan General Manager identik dengan pria?
Saya tidak tahu mengapa ada bias gender terutama pada pria untuk posisi ini, mungkin karena tradisi dan kebiasaan, namun Anda akan melihat lebih banyak wanita di bisnis ini karena para pemilik hotel mulai menyadari bahwa wanita juga bisa melakukan pekerjaan ini sebaik pria. Membutuhkan waktu agar orang bisa menerima hal ini. Dari sudut pandang wanita, saya rasa kami wanita adalah musuh terburuk bagi kaum kami sendiri karena kami cenderung untuk meremehkan kemampuan kami, terutama di bisnis ini, sementara pria lebih mahir mempromosikan diri mereka. Sheryl Sandberg, COO Facebook, menjelaskan hal ini di bukunya yang berjudul “Lean In”.

Seperti ketika wanita cantik yang melihat dirinya kurang cantik di cermin? Sementara para lelaki yang jelek malah melihat Brad Pitt?
Persis, Anda mengerti maksud saya kan? Butuh waktu bagi kami untuk membangun kepercayaan diri, bahwa kami juga sama baiknya, kadang malah lebih baik dari pria.

Mengapa Anda memilih Indonesia?
Setelah bekerja di Dubai selama 8 tahun, saya ingin pulang ke Singapura untuk membangun ulang hubungan dengan keluarga dan teman. Pada saat bersamaan, saya menjadi COO dari sebuah perusahaan yang sedang membangun hotel terjangkau di Asia. Namun akhirnya saya bepergian sepanjang minggu, jadi tidak masuk akal buat saya untuk berkata ingin pulang ke Singapura, namun faktanya saya tidak pernah di rumah. Saya jarang bertemu keluarga saya. Pada saat bersamaan, saya merasa harus kembali ke bisnis hotel. Saya percaya saya memiliki kecanduan terhadap bisnis ini, karena Anda benar-benar harus memiliki passion dan mencintai tantangan yang ditawarkan.


Saat itu ada tawaran lain dari Malaysia, namun saya merasakan energi di sini. Saya merasa ini adalah salah satu negara di Asia yang mampu berkembang dengan sangat pesat. Sebagian lagi karena saya jatuh cinta pada hotel ini. Maksudnya, hotel ini begitu indah dan sesuai dengan yang saya suka. Ini adalah hotel butik kecil yang sangat indah, satu kata yang menggambarkannya adalah “tidak terduga”. Jika mendengar tentang Jakarta, Anda akan berpikir tentang bangunan pencakar langit, namun ketika ke sini, tepat di jantung Jakarta, Anda malah menemukan tempat berlindung yang tenang. Tempat ini sangat menggambarkan diri saya, saya suka gayanya, lokasinya. Ini adalah kombinasi kecocokan saya dengan hotel ini dan kecintaan saya dalam melihat kondisi Jakarta saat ini, dan kemana arah perkembangannya, ini adalah sebuah scene yang sangat menarik, ditambah lagi orang-orang paling menakjubkan yang pernah saya temui sepanjang hidup, dan tentu saja, beberapa makanan yang paling enak di dunia.

0 0
Feed