A Thunderous Flavour

We talk with Rajawali Suriadiredja about his passion for Japanese cuisine and the importance of creating a strong culture for culinary establishments, as evident in his F&B management company, the Kaminari Group.


Do tell us about your restaurants and their concepts.
I’ve always liked the concept of live interaction between the guest and the kitchen in Japanese food culture. Thus, Rayjin Teppanyaki was born four years ago. After that, Kajin was created, an izakaya with contemporary sushi creation and a wide range of alcohol beverages. Then, I redesigned Dahana, which is located in the same compound. It offers a wide selection of tasty and comfortable Japanese home-cooked meals. Next, Fujin was opened in Jakarta. It is similar with Rayjin but with an emphasis on fine whiskey and refined small bites. There is also Jin Jin in Denpasar, a donburi restaurant created for the local market. Currently, we are developing Musubi in Canggu. It is going to offer a new take on brunch with Japanese influence. All of them have their own characters but the Japanese cuisine and culture are prevalent in their concept and food. We manage all of the restaurants under Kaminari Group.

And, how does Kaminari Group plays its part?

Kaminari Group was founded by I Gede Putu Banny Parasuth and me. Our expertise is in managing Japanese culinary establishment. From creating the right concept to managing the restaurant, we work closely with our shareholder and partner to maintain the day-to-day operation. Currently, we are based in Bali and Jakarta.

It is not easy to make a breakthrough in F&B Industry, especially in Bali and Jakarta. What is your recipe for success?

F&B are thick in our blood. We don’t gamble. We know exactly what we are doing; we know what works and what doesn’t work. We know how to make people happy. Our aim is to continue the good work that we have been doing so far and push the standard. Bali and Jakarta have a high standard and we need to keep it up and elevate it further. I don’t think we can afford to play it safe anymore. In Bali, for instance, we have international restaurateurs opening new restaurants all over the places and that’s our competition. I learned from my Japanese heritage and work experience on the importance of work ethics. That is what we are trying to instill in our team: discipline, hospitality, hard work, leadership, and to continuously motivate each and every individual to grow and evolve.

How would you like the group to be known for?

I want us to be known as a leading F&B group for Japanese cuisine. There is a wide range of Japanese cuisine and I would like to introduce them to our market. I was raised in two cultures and I think that’s how we learn to balance our flavour. Indonesian palate needs stronger flavour and we combine them with the root of Japanese cuisine which lies in using good quality ingredients, details, and solid presentation.
I have learned that it is important to create a specific culture for a restaurant, the way that we do our things. Everything from the food, down to the smallest details of service, that what separates you from the others. I want when people go to our restaurants, they go not just for the food but also to experience the service and the ambience, to be transformed to another culture.

Kami berbincang dengan Rajawali Suriadiredja tentang kecintaannya terhadap masakan Jepang dan pentingnya menciptakan budaya yang kuat pada pendirian usaha kuliner, seperti yang terlihat pada perusahaan manajemen F&B miliknya, Kaminari Group. 


Suriadiredja lahir dan besar di dalam dua budaya, Indonesia dan Jepang. Pertemuan pertamanya dengan dunia F&B dimulai di restoran milik orang tuanya dan hal itu memantik ketertarikannya untuk belajar lebih banyak. Ia pergi ke Jepang untuk belajar di Ecole de Cuisine et Nutrition Hattori Tokyo dan bekerja sebagai chef di sana selama tujuh tahun. Pada tahun 2013, ia membuka Rayjin Teppanyaki bersama rekannya di Seminyak sekaligus mendirikan Kaminari Group.

Ceritakan pada kami tentang restoran-restoran yang Anda dirikan dan konsepnya.

Saya selalu suka dengan konsep interaksi langsung antara tamu dengan chef di dapur terbuka pada budaya masakan Jepang. Maka, Rayjin Teppanyaki pun dibuka seperti itu empat tahun yang lalu. Setelahnya, Kajin diciptakan dengan konsep izakaya yang menyajikan kreasi sushi kontemporer dan pilihan minuman beralkohol yang beragam. Lalu, saya mendesain ulang Dahana, yang terletak di lokasi yang sama dan menawarkan kenyamanan masakan rumahan a la Jepang. Fujin lantas lahir di Jakarta dengan konsep yang mirip dengan Rayjin namun menawarkan lebih banyak koleksi whiskey dan makanan ringan yang elegan. Ada pula Jin Jin di Denpasar, restoran donburi yang diciptakan untuk selera lokal. Saat ini kami sedang mengembangkan Musubi di Canggu. Musubi akan menjadi restoran yang menawarkan sajian brunch dengan cita rasa Jepang. Semua restoran itu memiliki karakternya masing-masing tapi dengan cita rasa dan budaya Jepang yang kuat pada konsep dan makanannya. Kami mengelola semuanya di bawah bendera Kaminari Group.

Lalu bagaimana cara Kaminari Group berperan di dalamnya?

Kaminari Group didirikan oleh I Gede Putu Banny Parasutha dan saya. Keahlian kami adalah mengelola usaha kuliner dengan cita rasa Jepang. Dari penciptaan konsep hingga pengelolaan restoran, kami bekerja langsung dengan pemegang saham atau rekan kami dalam pengoperasiannya sehari-hari. Saat ini kami berpusat di Bali dan Jakarta.

Tidak mudah untuk menerobos industri F&B, terutama di Bali dan Jakarta. Apa rahasia kesuksesan Anda?

F&B sudah mendarah daging bagi kami. Kami tidak bertaruh. Kami tahu apa yang harus kami lakukan, kami tahu apa yang bisa berhasil dan apa yang tidak. Kami tahu bagaimana menyenangkan orang. Sasaran kami adalah untuk melanjutkan apa yang sudah kami kerjakan dengan baik hingga sekarang serta meningkatkannya lagi. Saya kira kita sudah tidak bisa lagi bermain aman. Di Bali, misalnya, ada banyak pengusaha restoran dari seluruh dunia yang datang dan membuka usaha mereka di mana-mana dan itulah kompetitor kami. Saya belajar tentang pentingnya etos kerja dari budaya Jepang dan pengalaman kerja saya di sana. Itulah yang saya berusaha tularkan kepada tim kami: disiplin, keramahtamahan, kerja keras, kepemimpinan, dan untuk selalu memotivasi setiap dan semua individu untuk selalu tumbuh dan berkembang.


Bagaimana Anda ingin perusahaan Anda dikenal?

Saya ingin kami dikenal sebagai F&B grup yang terutama untuk masakan Jepang. Ada berbagai macam jenis masakan Jepang dan saya ingin bisa mengenalkannya ke pasaran. Saya dibesarkan di dalam dua budaya dan saya rasa itulah yang membuat saya bisa menyeimbangkan cita rasa masakan kami. Lidah Indonesia terbiasa dengan rasa yang kuat dan kami berusaha menggabungkannya dengan akar dari masakan Jepang yaitu penggunaan bahan baku berkualitas baik, penuh detail, dan presentasi yang kuat.
Saya telah belajar bahwa penting untuk menciptakan budaya tersendiri di sebuah restoran, suatu cara dalam melakukan segala sesuatu. Dari makanan hingga ke detail pelayanan yang terkecil sekalipun, itulah yang akan membedakan Anda dari yang lain. Saya ingin saat orang datang ke restoran-restoran kami, mereka akan pergi bukan saja untuk makan tapi juga untuk menikmati pelayanan dan suasananya, untuk merasakan budaya yang lain.

0 0
Feed