A Refined Transition

Mengepalai suatu organisasi berkelas nasional tentu bukan pencapaian yang bisa dipandang sebelah mata, dan hal itulah yang membuat pribadi Wilson Widjaja begitu menarik untuk dikulik. Commis Chef restoran Clay Craft milik Hotel Rennaisance yang juga menjabat sebagai ketua YCCI regional Bali ini berjumpa dengan PASSION untuk menceritakan latar belakangnya serta transisinya di dalam dan di luar dapur. Bagaimana kiprah pria yang sempat menyabet sejumlah gelar internasional prestisius di bidang memasak tersebut hingga saat ini? Yuk, kita simak bersama!

Hal yang paling anda sukai ketika memasak?

Mencoba sesuatu yang baru! Baik masakan maupun metode memasaknya, saya paling menyukai eksplorasi dalam proses memasak . Terakhir, untuk restoran Clay Craft (Renaissance Hotel), saya mendapat tantangan untuk membuat masakan Pork Ribs, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pork Ribs ini merupakan signature dish (hidangan khas) di Clay Craft, dan saya kreasi dengan menggunakan bumbu asli Bali yang di dry (keringkan) serta dipadukan beberapa jenis herbs (rempah)


Cita-cita semasa kecil?

(Tertawa) Cita-cita saya malah bukan di kitchen! Justru saya ingin menjadi seorang pilot. Karena saya memang gemar memperhatikan pesawat sejak kecil, namun karena waktu SMA (nilai) IPA saya tidak cukup, maka saya kemudian terjun di dunia perhotelan. Lambat laun saya merasa bahwa bekerja di bidang hotel mengasyikkan, dtambah saya sering melihat acara kuliner di televisi. Akhirnya keterusan hingga sekarang


Profesi yang bakal ditekuni jika tidak menjadi seorang chef?

(Berpikir sejenak) apa ya? Belum terpikir, karena sekarang passion saya memang menjadi seorang chef professional, jadi tidak terpikirkan untuk bekerja di bidang lain.


Jelaskan ‘signature style’ memasak anda?

Karena saya pertama kali bekerja di Jumana (Restoran milik Banyan Tree Hotel & Resorts), jadi style signature saya lebih ke arah fine-dining. Di restoran saat ini, Clay Craft, saya harus belajar hal baru karena hidangan mereka lebih bergaya rustic, jadi saya mengadaptasikan gaya ‘fine-dining’ saya dengan situasi kerja yang menuntut saya memasak dengan porsi yang lebih banyak dan masif. Saya masukkan unsur fine-dining ke dalam hal-hal seperti potongan (cut) dan juga sistem kerjanya.


Hobi anda di luar kitchen?

Main game dan nonton film. Di waktu luang, saya suka bermain Playstation 4. Saya menyukai segala jenis gim, terutama sepakbola. Untuk film, saya gemar menonton film bergaya action atau blockbuster seperti Captain Marvel.


Café / Restoran terfavorit di Bali?

Banyak! Tapi untuk Cafe yang paling sering saya kunjungi salah satunya adalah Titik Temu. Lokasinya sangat strategis karena berada tepat di tengah daerah Seminyak, dan suasanya cafenya sendiri sangat comfy untuk hangout atau berkumpul dengan teman-teman. Untuk restoran, terutama bergaya fine-dining, ada beberapa tempat yang cukup berkesan bagi saya; seperti Kayuputi St. Regis, Il Ristorante Bvlgari, dan Jumana.


Makanan ‘guilty pleasure’ yang diam-diam anda suka?

Burger King! (Tertawa) Saya suka menu (burger) Whopper yang jumbo karena porsinya yang memang besar. Selain itu, tentu saja makanan seperti gorengan, dan terutama yang bisa mudah dicari di tengah malam. Tidak seperti perkiraan orang pada umumnya, chef bukan hanya memakan makanan fancy ala hotel, tapi kami juga kangen untuk menikmati masakan-masakan praktis seperti gorengan, junk food, bakso dan semacamnya.


0 0
Feed