A Harmonious Solution

Kendati sudah cukup lama menekuni bidang kuliner, karir Billy Leonardo sebagai Food Consultant bermula dari ketidaksengajaan. Namun pada perkembangannya, pria yang sempat mengenyam pendidikan di Berklee College of Music, Boston, Amerika Serikat tersebut bisa menjalankan profesi tersebut dengan baik dan kini, bersama rekan-rekannya yang bernanung di bawah brand Table Turns Hospitality Management Consultancy telah dipercaya menangani sejumlah klien prestisius di usia yang masih relatif muda; diantaranya Recolta, Nirvana Strength Bali dan Arnold’s Coffee. Kepada PASSION, Billy membagikan sejumlah pemikiran cemerlangnya; mulai dari filosofi, tantangan, hingga latar belakangnya di dunia musik.


Kenapa kamu memilih untuk menjadi Food Consultant, dan kapan semua itu bermula?


Sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan. Awalnya dari membantu teman yang ingin membangun café di dalam sebuah gym pada tahun 2018. Kebetulan mereka juga belum punya pengalaman, jadi saya masuk di sana. Saya mulai membantu dari masa konstruksi / pembangunan, tapi pada perkembangannya, mereka sepertinya merasa kurang cocok dengan saya dan memiliki pandangan yang lain, jadi saya hanya sebatas melakukan pengecekan dan memberikan ide atau masukan. Saat itu saya belum dibayar juga karena saya belum terpikir untuk membuka jasa konsultan. Akhirnya setelah dua bulan dan gym tersebut sudah berjalan, tiba-tiba partner bisnis ownernya pergi, dan sang owner pun menghubungi saya. Pada saat itu saya juga tengah sibuk, namun saya mencari waktu untuk bisa rutin pergi ke kafe tersebut setiap pagi. Dalam waktu tiga minggu, saya membantu mereka start-up hingga akhirnya running sampai saat ini.


Ceritakan apa yang kamu lakukan sebagai seorang konsultan. Apakah kamu mengimplementasikan suatu sistem, atau semacamnya? Jelaskan untuk para pembaca kami


Sebenarnya ada dua tipe model yang saya sering lihat; pertama bisnis yang sudah ada, yang kedua start-up. Untuk tipe kedua ini, kita mulai benar-benar dari awal, bahkan terkadang sampai penentuan lokasi tempat bisnis, jenis produk yang dijual, bagaimana pemasaran atau marketingnya, bagaimana mempersiapkan modal. Detil-detil semacam itu, berlandaskan pada prediksi dan statistik. Kemudian untuk tipe pertama, yakni bisnis yang sudah ada, ini yang sedikit lebih sulit, karena ‘kanvas’nya sudah ‘tercoret’ (tertawa). Kami percaya satu hal, yakni mencari produk untuk pasar (market) yang sudah ada. Itu ditentukan dari lokasi juga. Figur market yang mereka bayangkan seperti apa. Kita carikan market dan tools yang benar untuk menjalankan bisnis tersebut, termasuk SDM (Sumber Daya Manusia) nya. Bila talent sudah di-hire, kita juga menyediakan sistem evaluasi untuk para staf tersebut.


Apa filosofi kamu sebagai Food Consultant, dan bagaimana metode pendekatan kamu untuk membangun sebuah fondasi dalam bisnis kuliner?


Filosofi kami adalah ‘temukan produk untuk market kamu’. Ini sebetulnya sama dengan konsep reverse engineering (rekayasa mundur), kita cari tahu lebih dahulu apa yang dicari orang-orang, apa kebutuhan customer. Hal ini membuat kami sampai harus membujuk beberapa klien untuk merombak total konsep makanan mereka agar lebih kena dengan market yang mereka inginkan.

Apa tantangan terbesar yang pernah kamu rasakan selama ini sebagai seorang Food Consultant? Dan bagaimana kamu mengatasinya?


Tantangannya adalah bertemu dengan beberapa investor atau pemilik bisnis yang susah untuk melepaskan kepercayaan penuh. Ini sulit, karena mereka merasa kalau ‘kamu bisa, saya juga bisa’, serta merasa memiliki pengetahuan yang cukup juga, namun masih membutuhkan jasa konsultan. Salah satu kendala terbesar pemikiran ini adalah para owner tersebut biasanya susah dimintai pertanggungjawaban bila ada yang terjadi di lapangan. Ujung-ujungnya, kita sebagai konsultan yang disalahkan oleh banyak pihak (tertawa). Untuk mengatasinya, saya melihat pekerjaan ini sebagai sebuah gelanggang permainan, dan kita harus tahu lawan main kita. Menelaah proses apa yang bisa disepakati oleh lawan main tersebut. Bila masih mental juga, saya biasanya memberikan tantangan pada klien tersebut, tentang apa konsekuensi dari keputusan yang mereka buat terhadap bisnis mereka.


Menurut kamu, apakah hal fundamental yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi konsultan yang baik?


Salah satunya, mindset yang customer-oriented. Ini akan membuat orang tersebut lebih peka terhadap sekitarnya, terhadap permintaan pasar yang ada. Kemudian juga harus terbuka / mudah didekati (approachable), karena kita akan menjadi penengah antara owner dan staf. Kita menjadi penasihat dan juga ‘corong’ dari owner untuk menyampaikan maksud mereka pada para staf. Karena itulah kita harus mengatur sampai hal-hal terkecil pun dalam sistem kerja para staf bisnis tersebut. Biasanya, orang mencari konsultan karena mereka tidak berada dalam kondisi yang baik (tertawa), maka mereka mencari sosok yang bisa membantu memulihkan bisnis mereka.


Ceritakan tentang latar belakang kamu di Berklee College of Music, dan bagaimana itu membentuk karir anda di industry kuliner saat ini


Ini cukup lucu, sebenarnya, saya belajar mengenai Edukasi Musik di Berklee, dan bukan Performing (penampilan panggung). Setelah 8 bulan disana, saya bingung kenapa saya lebih mendapatkan ilmu praktek teknis alih-alih teori edukasi, tapi ternyata memang di bulan-bulan awal tidak ada kurikulum seperti itu. Sejak dulu, saya memang bercita-cita untuk menjadi seorang pendidik (educator), maka kemudian saya memakai aspek bagaimana melakukan pendekatan terhadap para murid, atau orang lain. Sayangnya memang kemudian saya tidak lulus dari kampus tersebut, meski sempat juga mengambil kelas online selama beberapa waktu. Akhirnya, yang terjadi adalah saya belajar Metode Pengajaran secara otodidak dan hal itulah yang saya pakai dalam profesi saat ini, untuk melatih para staf, dan lain sebagainya. Karena ketika kita masuk ke satu lingkungan kerja, kita kan harus belajar mengenai lingkungan tersebut; mulai dari owner hingga housekeepingnya (tertawa)


Apa yang biasa kamu lakukan di waktu luang, dan bagaimana cara kamu menemukan inspirasi untuk pekerjaan kamu?


Di waktu luang, saya suka bermain musik, dan juga mengunjungi restoran lain untuk melihat cara mereka menjalankan bisnis. Yang baik saya contoh, yang kurang baik saya terima saja. Kemudian saya juga suka bersosial dengan teman-teman komunitas. Untuk inspirasi, saya suka membaca, terutama buku-buku motivasi, untuk belajar dari kesalahan orang. Terlebih dari sosok para pemimpin besar, dan saya selalu mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, meski hanya dari membaca sebuah cerita.


Apa ambisi kamu ke depan?


Satu prinsip pribadi dari bisnis konsultasi ini sebenarnya adalah untuk membantu orang lain. Itu adalah value kami yang sebenarnya: membantu bisnis orang lain yang sedang buntu. Menurut saya, uang adalah nomer dua, namun kepuasan tersendiri adalah saat kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membuat bisnis seseorang kembali berjalan sebagaimana mestinya.

0 0
Feed