A Carnivore’s Delight

Since its opening in 2015, The Butchers Club Steakhouse has become a destination for discerning carnivores. PASSION revisits this excellent purveyor of dry aged meats and sinks our fangs into their decadent burgers. 


Set in a laid-back industrial style, The Butchers Club Steakhouse way of doing meat is anything but relaxed. As I walk into the restaurant, the long open kitchen with red tiled counter is busy with the business of grilling. In the far corner of the room, a large sized temperature and humidity-controlled dry-ageing fridge facility is showcasing some sexy chops and rumps of 200-day grain-fed stockyards Black Angus from Australia. At the moment, those cuts are in the process of perfecting their fat profiles to acquire more tenderness and flavour for at least 21 days.


The restaurant was intent to serve just burgers in the first two years of its operation. But after learning that the island’s carnivores voraciously demand good steaks, Gareth Moore, the proprietor and the jack-of-all-trades as he cheekily calls himself, decided to satiate their cravings. “We basically want to please our guests by giving them larger menu and more choices. However our priority lies with the beef,” explains Moore. With wood-fired dry-aged steaks such as rib eye, rump, striploin and rib chop, I am torn between going to have burger or steak for my lunch. 


Sipping a glass of what possibly the coldest beer on the island, I eventually commit myself to the Wu Tang Style Burger. Slightly charred and medium rare, the burger arrives on the table in a beautifully stacked meat-to-bun ratio with the company of golden crispy fries. With sriracha sauce, homemade kimchi, cheddar cheese, crispy sweet potato tempura and a generous drizzle of kewpie mayonnaise, the unconventional stack may shock the burger purist – if such person exist. For what is a burger if not a decadent mixture of things in one drippingly tasty bite? Exotically, the flavour works well together in a crescendo of sweet, sour, and savoury. This tantalizing dish is a suitable tribute to Hong Kong and its rich mixture of Asian culture, where the establishment was firstly founded.


Their Double Happiness Burger also deserves a shout out for, well, giving double happiness indeed. How can one not doubly be happy after a large bite of double patty, double cheese, and double bacon between two buttery grilled sandwiches? It is large enough for two – although if one is extremely hungry, one can take it down between sips of the Pink Diamond. The cranberry infused vodka lightens up the taste bud with its slightly sour rosella syrup, lime, apple juice and cherry brandy. “There is no secret to our burger. Just good quality beef and nothing else!” states Moore. We definitely agree. With such a good dry-aged beef, why would we want anything else?


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sejak buka pada tahun 2015, The Butchers Club Steakhouse telah menjadi tujuan favorit kaum karnivora. PASSION mengunjungi kembali penghasil daging dry-aged and membenamkan taring kami pada burgernya yang nikmat. 


Meski didesain dengan gaya industrial yang santai, tidak ada yang santai pada cara The Butchers Club Steakhouse mengolah dagingnya. Saat saya memasuki restauran, dapur terbuka yang panjang dengan counter keramik berwarna merah tengah sibuk dengan aktifitas memanggang. Di pojok lain, sebuah lemari pendingin besar untuk dry-aging yang diatur suhu dan kelembabannya memamerkan potongan-potongan chops dan rumps menggiurkan dari daging sapi Black Angus yang dibesarkan selama 200 hari dengan memamah biji-bijian di Australia. Saat ini, potongan-potongan daging tersebut tengah mengalami proses penyempurnaan profil lemak untuk mendapatkan kedalaman rasa dan kelembutan daging yang lebih baik lagi selama 21 hari. 


Pada dua tahun pertamanya, restaurant ini hanya menyajikan burger. Namun setelah mengetahui betapa laparnya para pecinta daging di Bali terhadap potongan steak yang enak, Gareth Moore, pemilik dan sosok di balik restauran ini, memutuskan untuk memenuhi hasrat mereka. “Pada dasarnya, yang kami inginkan adalah untuk menyajikan para tamu dengan menu yang lebih besar dan pilihan yang lebih banyak. Namun prioritas kami tetap pada daging sapi,” ujar Moore. Saya pun dibingungkan dengan pilihan antara menikmatii burger atau steak lezat yang dipanggang dengan kayu bakar dan terdiri dari pilihan potongan seperti rib eye, rump, striploin dan rib chop. 


Sembari menyesap apa yang mungkin adalah salah satu bir terdingin di pulau ini, saya akhirnya berkomitmen pada Wu Tang Style Burger. Sedikit gosong dan dipanggang medium rare, santapan lezat itu akhirnya tiba di meja saya dengan susunan yang memiliki rasio yang tepat antara daging dengan roti serta ditemani oleh seporsi kentang goreng garing. Dengan saus sriracha, kimchi buatan sendiri, keju cheddar, tempura ubi garing dan baluran mayonnaise kewpie yang banyak, isi susunan burger ini mungkin mengagetkan para pecinta burger yang lebih konvensional – bila ada orang seperti itu. Bukankah burger itu sendiri adalah susunan berbagai macam hal yang bila digigit akan menghasilkan kunyahan penuh yang menetes dengan nikmat? Dengan eksotis, paduan berbagai rasa manis, kecut dan asin membaur dengan sempurna. Sajian menggoda ini sungguh adalah sebuah penghargaan pada Hong Kong dan perkawinan budaya Asia di dalamnya sebagai tempat pertama restaurant ini didirikan.


Double Happiness Burger juga wajib diberi perhatian lebih karena sajian ini sungguh memberikan dua kali kebahagiaan. Bagaimana mungkin seseorang tidak akan dua kali lebih bahagia dengan dua lapis daging sapi, dua lapis keju dan dua bacon di antara dua rangkap roti yang dipanggang dengan butter? Porsinya cukup besar untuk dua orang – meski satu orang yang sangat lapar juga akan mampu menghabiskannya di antara tegukan Pink Diamond. Cocktail vodka yang diperkaya dengan cranberry mampu meringankan indra pengecap dengan rasa asam sirup rosella, jeruk nipis, jus apel dan cherry brandy pada campurannya. “Tidak ada rahasia untuk burger kami. Hanya daging sapi berkualitas terbaik dan tidak ada lagi!” kata Moore. Kami setuju sepenuh hati. Dengan daging sapi dry-aged terbaik seperti itu, mengapa perlu hal yang lain?



The Butchers Club Steakhouse
Jalan Cendrawasih, Petitenget, Kerobokan, Bali
T: +62 361 8974004

0 0
Feed